Sejarah Singkat GBKP

8
519

Oleh: Alexander Kaliaga (Depok) 

 

Ketua Runggun GBKP Depok Lenteng Atas
Ketua Runggun GBKP Depok Lenteng Atas

Awal Kekristenan Karo

Permulaan perkabaran Injil ke Karo bukanlah karena tugas rohani, melainkan oleh permohonan J.T. Craemers, seorang pemimipin perkebunan di Sumatera Timur. Beliau berpendapat bahwa jalan paling baik supaya penduduk asli daerah itu jangan menentang dan mengganggu usaha perkebunan adalah dengan mengabarkan Injil dan mengkristenkan mereka.

Dengan meyakinkan Maskapai Perkebunan terhadap pendapatnya, Craemers meminta kepada Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) membuka penginjilan di Sumatera Timur dengan biaya yang dibebankan ke maskapai-maskapai perkebunan. Permintaan itu diterima oleh NZG dan dilaksanakan dari tahun 1890 sampai tahun 1930.

Tanggal 18 April 1890, tibalah Pekabar Injil NZG, H.C. Kruyt, dari Tomohon (Minahasa) dengan tempat pos di Buluh Awar. Melihat medan pelayanan di kaki pegunungan sekitar Buluh Awar, sejak awal Kruyt mengusulkan ke NZG membuka pos missi di Karo Gugung, tapi pemerintah kolonial belum memberikan ijin karena alasan keamanan. Kruyt merasa kecewa terhadap alasan ini. Tahun berikutnya, dia menjemput 4 Guru Injil sebagai pembantunya: B. Wenas, J. Pinontoan, R. Tampenawas, H. Pesik.

Perkebunan-perkebunan asing di Padangbulan, Bekala dan Arnhemia (Pancurbatu) adalah menjadi sasaran utama pasukan Datuk Sunggal Surbakti. Kebun-kebun tsb berada di wilayah Urung Sepuludua Kuta Laucih panteken Karo-karo Purba
Perkebunan-perkebunan asing di Padangbulan, Bekala dan Arnhemia (Pancurbatu) adalah menjadi sasaran utama pasukan Datuk Sunggal Surbakti. Kebun-kebun tsb berada di wilayah Urung Sepuludua Kuta Laucih panteken Karo-karo Purba

2 tahun kemudian (1892), Kruyt pulang ke negerinya tanpa membaptiskan seorangpun suku Karo. Dia digantikan Pdt. J.K. Wijngaarden yang sebelumnya bekerja di Pulau Sawu. Pendeta inilah yang melakukan pembabptisan pertama suku Karo [20 Agustus 1893] sebanyak 6 orang: Sampe, Ngurupi, Pengarapen, Nuah, Tala dan Tabar. Wijngarden meninggal tanggal 21 September 1894 karena serangan disentri.

Wijgaarden digantikan oleh Pdt. M. Joustra yang nantinya menterjemahkan 104 ceritera-ceritera Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Karo (104 Turi-turin). Dia juga tinggal di Buluh Awar.

 

Masa Penanaman dan Penggarapan : 1906 – 1940

Dengan kedatangan Pdt. Guilloume (utusan RMG Jerman) dari Saribudolok yang sebelumnya bekerja ke Tapanuli. Waktu itu, Saribudolok masuk daerah pelayanan pra HKBP. Dia dibantu seorang guru injil Martin Siregar.

Dibukalah pos penginjilan ke 2 (Bukum, 1899). Sampai tahun 1900, orang Karo yang dibabtiskan baru 25 orang. Pertumbuhan selama 10 tahun pertama sangat sulit bertumbuh. Kita dapat merasakan kigigihan suku Karo mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya sehingga merasa aman dalam sikap hidup lama. Di pihak lain, kita juga merasakan kegigihan semangat penginjilan yang pantang mundur dalam memperkenalkan Injil Kristus.

 

Penanaman dan Penggarapan (1906-1940)

Kedatangan Pdt. J.H.Neumann (1900) membawa harapan baru dalam sejarah PI di Karo. Ia ditempatkan di Pos ke 3 (Sibolangit). Ia menerjemahkan Alkitab ke bahasa Karo. Ia juga giat dalam membuka pelayanan kesehatan, pertanian, perdagangan dan pendidikan. 1903, datang pula Pdt. E.J. Van den Berg yang kemudian membuka Pos ke 4 (Kabanjahe).

Keduanya merupakan teman sekerja yang baik. Mereka membuka Rumah Sakit Zending di Sibolangit dan Kabanjahe. Bekerjasama dengan pihak pemerintah, Van den Berg membuka Rumah Sakit Kusta di Lausimomo. J.H. Neumann giat membuka pekan-pekan (tiga) di Deli Hulu.

GBKP Berdiri Sendiri

1906 datang Pdt. G. Smith dan membuka sekolah pembibitan pertanian (kweekschool) di Berastagi yang nantinya pindah ke Raya. 1920, sekolah ini ditutup. Guru-guru sekolah yang telah terdidik ditempatkan di desa-desa menjadi guru sebagai landasan untuk mengabarkan Injil.

Prof. Dr. H. Kraemer yang telah meninjau tempat-tempat zending Karo (1939) menganjurkan agar jemaat Karo segera dipersiapkan untuk berdiri sendiri dengan pengiriman tenaga pribumi ke sekolah pendeta dan mengangkat majelis jemaat. 1940, 2a guru Injil (P. Sitepu dan Th. Sibero) dikirim ke sekolah pendeta di seminari HKBP, Sipoholon.

Di periode ini berkembang pergerakan muda-mudi di tengah-tengah gereja dengan nama Christelijke Meisjes Club Maju (CMCM) untuk perempuan dan Bond Kristen Dilaki Karo (BKDK) untuk laki-laki. Keduanya menjadi embrio lahirnya perkumpulan pemuda GBKP yang disebut Permata. Pengesahan dan peresmiannya dilaksanakan pada Sidang Sinode GBKP 12 September 1948 sebagai hari jadi Permata. Rapat Permata pertama 25 Mei 1947, dan ke 2 pada 18 juli 1948.

Guru Injil yang disekolahkan ke Seminari Sipoholon (Tarutung) telah menyelesaikan studinya pada pertengahan Sidang Sinode Pertama yang menetapkan nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit (23 Juli 1941). Saat itu ditahbiskan 2 pendeta pertama dari putra Karol (Pdt. Palem Sitepu dan Pdt. Thomas Sibero). Pada sinode pertama ini ditetapkan Tata Gereja GBKP pertama dengan Ketua Sinode Pdt. J. Van Muylwijk, sebagai sekretaris Guru Lucius Tambun (1941-1943). Pdt. P. Sitepu ditempatkan di Tiganderket dan sebagai Wakil Ketua Klasis Karo Gugung serta Pdt. Th. Sibero di Peria-ria, sebagai Wakil Ketua Klassis Karo Jahe.

8 COMMENTS

  1. Salam,

    Bukan bermaksud membela, tapi agar kita lebih cerdas.
    Ini diambil dari wikipedia

    Peyoratif[1] adalah unsur bahasa yang memberikan makna menghina, merendahkan, dan sebagainya, yang digunakan untuk menyatakan penghinaan atau ketidaksukaan seorang pembicara. Kadangkala, sebuah kata lahir sebagai sebuah kata peyoratif, namun lama kelamaan digunakan sebagai kata yang tidak bersifat peyoratif. Dalam linguistik, fenomena ini dikenal sebagai meliorasi, atau ameliorasi, atau perubahan semantik.

    Ameliorasi (Peninggian Makna)

    Peninggian makna adalah perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tingg/ hormat/ halus/ baik nilainya, daripada makna lama.

    Coba, hubungkan dgn kata “Batak”, bisakah ini yg dimaksud Peyoratif?

    Nah…apabila kata “Batak” adalah peyoratif maka alasan untuk menyatakan hal yang negatif adalah sudah tidak terpakai, sudah usang. Silahkan untuk mencari alasan yang lain, yang lebih bisa diterima.

    Salam
    Benyamin Sembiring

  2. GEREJA KRISTEN KARO
    Buat seminar untuk permasalahan ini. Sora Sirulo sebagai media massa bisa untuk memulainya.

    Tapi harus dipersiapkan secara matang, bagi kelompok yg “menggugat” maupun yang mempertahankan. Cari nara sumber yang capable.
    Jangan kita hanya seperti cakap di kede kopi

    benz

  3. Pekabaran Injil yang dibiayai oleh Belanda kepada orang Karo tidak secara ikhlas, sasaran nya hanya agar orang Karo tidak menentang penjajahan Belanda. Nama Batak lebih banyak sisi negatifnya dari pada positifnya. Ada apa ini orang Karo, orang lain tadinya gereja nya pakai Batak saat ini sudah mulai dihilangkan seperti; Simalungun, Pakpak & Angkola. Orang lain akan tetap merasa lucu dan aneh kenapa orang Karo tidak mau dikatakan Batak sedangkan gereja saja memakai kata Batak.

  4. Ternyata Belanda menggunakan agama untuk melumpuhkan perlawanan Karo terhadap penjajahan, ketika itu Karo-war (bukan Batak war) dibawah datuk Sunggal Surbakti. Karo Rebellion ini adalah perang perlawanan terlama di Indonesia 1872-1895. Dalam penamaan ‘batak oorlog’ istilah ‘batak’ dimaksudkan pemerintah kolonial sebagai penghinaan, seperti mengejek pemberontak atau teroris di zaman sekarang. ‘Batak’ diartikan sangat negatif, tak beradab, penyamun dsb. Dalam bahasa Karo juga berarti sangat negatif, perampok dsb (kamus karo d.prinst). Sungguh sangat janggal kata ‘Batak’ di ikut-ikutkan di gereja Karo..

    Kalau begitu embel-emberl ‘Batak’-nya di GBKP apa masih perlu ya? Atau orang Batak yang memerlukan?
    Bisa juga diubah jadi Gereja Budaya Karo Protestan atau Gereja Karo saja.

    MUG

    • Karo bukan Batak, pernyataan ini memang membutuhkan penelitian dan informasi yg mendalam untuk membuktikannya. Tapi aku yakin, cepat atau lambat Karo pasti berdiri sendiri tanpa embel-embel batak.

Leave a Reply