Katakanlah Dengan Bunga

0
233

Oleh: Sria van Munster Ginting (Diemen, Nederland)

 

Sudah menjadi kebiasaanku setiap hari Rabu membeli bunga segar penghias rumah di pasar dekat rumahku. Sambil memotong bunga, teringat kembali masa masih pacaran dengan suami, pertama kali dia datang berkunjung ke tempatku bekerja, membawa serangkai bunga. Aku terpingkal-pinkal ketika seorang kakak kerjaku dengan amat serius bertanya: “Nak Ria, kuja até kéna ras buléndu ah? Ku kuburen bapanta nge ate kena? Babana kuidah bunga menjilé kal.”

Andiko, kakakku, mbaba bunga kebiasaan Belanda bagi kita mbaba belo man luah,” jawabku.

Sekian banyak rangkain bunga telah kuterima dari suami. Ungkapan kata kasihnya di hari pernikahan, di hari ulang tahun, di hari ibu, ketika kembali dari luar negeri, minta maaf ketika merasa berbuat salah atau di hari-hari biasa ketika dia melihat bunga yang indah.

Aku juga teringat ucapan Pastor di Roma ketika memulai kebaktian di hari Paskah Nasional: “Bedank voor de bloemen uit Nederland.” (Terimakasih buat bunga dari Belanda).

Tak lepas pula dari kenangan, saat remaja, sering mengikuti “Pesta Bunga dan Buah” di Berastagi. Bangga sebagai perempuan Karo, berkebaya, lengkap dengan tudung lancip sambil menjin-njing hiasan keranjang bunga dan buah. Bangga dan senang rasanya saat itu, ditambah perhatian dan pujian penonton.

Terlepas dari khayalan dan kenangan itu, aku mencoba merenungkan apa dan bagaimana sesungguhnya hubungan Karo dengan bunga.

Bunga di Tanah Karo tidak ada bedanya dengan tanaman lainnya yang tidak dikonsumsi langsung. Sayang sekali. Bila 25% saja penduduk Berastagi dan Kabanjahe menkonsumsi bunga secara teratur, akan dibutuhkan ratusan rangkaian bunga setiap hari. Bukan hanya sebagai persembahan di pemakaman dan altar gereja di hari Minggu atau perhiasan pelaminan pengantin,  tetapi juga sebagai penghias ruangan atau ungkapan kasih sayang kepada istri.

Mitos “labo ka dilaki nukur bunga” tentu bisa dihilangkan. Jika hal ini tercapai, akan dibutuhkan ribuan rangkaian bunga setiap hari yang, dengan sendirinya, akan mendorong para petani dan kreatifitas masyarakat untuk berkarya dengan bunga. Ini berarti membuka kesempatan kerja. Petani akan membutuhkan tenaga kerja dan juga kalangan perkarya bunga. Jelas akan mendorong ekonomi Karo secara keseluruhan.

Untuk itu, katakanlah dengan bunga!

Leave a Reply