Otarki Sebagai Jawaban Kenaikan Harga Listrik

0
104

ITA APULINA TARIGAN. TEBINGTINGGI. Kebijakan pemerintah menaikkan harga langganan listrik hingga 15% di tahun 2013 ini sudah dimulai sejak Januari tahun ini. Pelaksanaan di lapangan, kenaikan diberlakukan 5% per 4 bulan. Kondisi ini ikut mendorong naiknya harga kebutuhan dasar di pasaran. Ibu-ibu di Tebingtinggi menjawabnya dengan Otarki; menyediakan kebutuhan sendiri semampunya dengan memanfaatkan halaman dan tanah-tanah yang tidak digunakan.

Keluhan terutama keluar dari para ibu rumah tangga yang harus pandai mengelola keuangan keluarga. Demikian halnya dengan Bu Dewi (38) di Tebingtinggi, seorang ibu rumah tangga dan suaminya adalah karyawan swasta. Kenaikan tarif listrik membuatnya harus membayar 2 kali lipat dari biasanya. Sebulannya, sebelum kenaikan, dia membayar sebesar Rp 250 ribu per bulan. Kini, dia harus membayar Rp 500 ribu per bulan.

“Tapi, mau bagaimana lagi? Sekarang, semua peralatan membutuhkan listrik. Urusan rumah tangga pakai peralatan elektrik semua. Jadi, ya harus tetap dibayar,” keluh Bu Dewi kepada Sora Sirulo [Sabtu 16/2].

Belakangan, untuk mengakali pengeluaran tambahan, Bu Dewi mencoba bertanam sayuran di halaman rumahnya. Ada sekitar 6 jenis sayuran, belum lagi bumbu dan cabe, ditambah ternak ikan dan bebek. Untuk sayuran yang tidak habis dikonsumsi, menurut Bu Dewi, bisa menghasilkan 50-75 ribu rupiah per minggu. Jika ditambah telur ayam bisa mendekati 150 ribu rupiah.

Kegiatan Bu Dewi ini ternyata menular kepada ibu-ibu lainnya di sekitar komplek rumahnya. Bahkan, ada yang serius menanam sayuran tidak hanya memanfaatkan halaman, tetapi juga botol bekas, karung bekas, kaleng bekas dan wadah apa saja yang bisa ditanami. Semuanya mengatakan, kelihatan hasilnya sedikit tetapi sangat menolong ekonomi rumah tangga. Tak cuma di kebun atau halaman rumah, di pagar-pagar pun bergelantungan tanaman sayur mayur atau bumbu dapur. Bahkan pinggiran parit mereka tanami.

Leave a Reply