Suasana Pilgubsu di Desa Raya (Berastagi)

3
186
Suasana Pilgubsu di sebuah TPS di Jambur Desa Raya (Kecamatan Berastagi)
Suasana Pilgubsu di sebuah TPS di Jambur Desa Raya (Kecamatan Berastagi) (Foto: Betlehem Ketaren)

Betlehem KetarenBETLEHEM KETAREN. BERASTAGI. Jam bulat di Pasar Jambur itu menunjukkan Pkl.  07.00 wib tadi pagi [Kamis 7/3]. Matahari sudah terpampang nyata di atas Tapin Kenjulu dan para bapak mulai satu per satu keluar dari kedai-kedai kopi yang mengitari Jambur.

Surung kin e?” sapa para bapa setiap melewati petugas KPPS yang sedang menyiapkan kotak suara, meja dan kursi untuk kebutuhan pemilihan umum.

 Surung, reh kam!” jawab petugas KPPS.

 “Ntaku potong lebe bunganta!” (Saya mau potong bungalah) kata bapa itu lagi sambil berlalu.

Para ibu satu per satu membawa bunga krisan jualannya. Ada yang menjunjung di kepala, namun banyak juga dengan sorong tonggal ban. Semuanya membawa seturut dengan kemampuannya bahkan mungkin dipaksakannya melebihi kemampuan sehingga raut wajahnya rata-rata cemberut alias berjut!

Menit dan lalu jam berlalu, para ibu dan bunga jualannya semakin memenuhi Jambur. Hari itu hari Kamis, artinya pasar bunga di Jambur Raya. Tanggal 7 Maret adalah hari Pilgubsu. Jambur dibuat untuk tempat pelaksanaan adat budaya. Ppesta ekonomi dan Ppesta demokrasi menumpang di Jambur ini, bukan tuan. Itu hukumnya di Desa ini. Namun, penumpang atau tuan selalu akan diperlalukan sama baiknya sepanjang tidak ada niat buruk!

“Sudah berapa orang milih?” Tanya Sora Sirulo.

“Baru 130 orang!”, Jawab Tuju Ginting, anggota KPPS di TPS I. Padahal jumlah pemilih di DPT ada 464 orang. Lalu, Sora Sirulo melangkah menuju TPS II.

“Di sini baru 133 orang,” bang kata Versaye Ketaren, anggota KPPSnya.

“Lho, padahal sudah Pkl. 11.30, bagaimana ini?”

“Biasalah. Orang sudah lebih percaya kepada partai-partai Galiman!” kata seseorang di situ sekenanya.

Ketika tiba saatnya pengumuman hasil pemilihan, beberapa orang beranjak mendekati ruang pemilihan, namun lebih banyak tetap ditempat sambil melayani pembeli. Beberapa diantaranya berteriak: “Kurang gang ban soramu ena, tongat. La begi kami!

Ndungdungen rih melala i juma rabin, milih la lupa janah erdahin” sedang mereka laksanakan.

3 COMMENTS

    • Demokrasi yang ada sekarang adalah hasil perjuangankaum muda (mahasiswa) dan kaum intelektual, itu yang saya mengerti dari media ataupun buku. Dan perjuangan untuk meraih demokrasi ini memakan banyak korban dan kehancuran suatu rezim berikut kebenaran-kebenarannya.

      Walau dalam hatiku ada juga suara, kalau-kalau demokrasi sekarang ini hanya titipan atau sistem yang dipaksakan kaum kapitalisme terhadap negara berkembang, sesungguhnya masih perlu diteliti secara mendalam.

      Tapi paham “Ue ue Pa Ngumbat” dari Karo sebagaimana juga yang mungkin diterapkan Jepang, Korea dan India terhadap tekanan internasionalisme atau mafia globalisasi, sehingga negara-negara Katua, Kanguda dan Katengah kitta itu tetap survive. Paham Ue-ue Pa Ngumbat juga terpangpang nyata di di Desa Raya., itu yang saya lihat di hari kamis 7 Maret.

      Saya tidak yakin kembali ke sistem lama menjadi lebih baik, namun sistem demokrasi sekarang ini (apakah hasil perjuangan atau titipan) masih perlu dibenahi lagi sehingga lebih cocok dengan identitas nasional kita, bage nge kuakap senina.

Leave a Reply