Kolom Juara R. Ginting: SEMBIRING DARI INDIA?

1
279

Juara R. GintingTulisan ini diinspirasi oleh pernyataan Tuaraja Salmen Kembaren di grup facebook JAMBURTA MERGA SILIMA: “Sembiring reh ibas kata Sumbiring nari, ertina labo Si Mbiring.”

Ketertarikan saya bukan karena saya menganggap dia benar atau salah. Melainkan, karena pernyataannya itu untuk membantah anggapan banyak orang bahwa Sembiring adalah sebutan untuk sekelompok Tamil yang kemudian menjadi orang Karo. Anggapan ini diperkuat oleh asumsi bahwa kata Sembiring berarti “Si Hitam” dan orang-orang Tamil umumnya berkulit hitam.

Saya tertarik mengikuti bagaimana orang-orang Karo dari kalangan tertentu, khususnya pemakai internet/ facebook, menelusuri sejarah sukunya. Dalam kesempatan ini, saya tidak tertarik membicarakan mana sejarah yang sebenarnya, tapi tertarik pada cara kita menelusuri sejarah khususnya sejarah Sembiring.

Sebagian orang berasumsi bahwa Sembiring berasal dari India. Asumsi ini jelas datang dari kaum sekolahan yang membaca tulisan-tulisan sejarah. Jelas bukan sejarah yang diturunkan turun temurun. Nenek saya tidak tahu adanya dan di mana India walau dia tahu banyak kalak India di Medan. Asumsi tulisan-tulisan sejarah itu sangat didasarkan pada penemuan banyaknya serpihan budaya dari India Selatan di Karo dan masyarakat-masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini, para ahli sejarah menganggap Karo punya kedudukan istimewa dibandingkan masyarakat-masyarakat lain di sekitarnya yang juga menerima serpihan-serpihan budaya dari India Selatan itu. Keistimewaannya adalah bahwa di Karo ada merga-merga yang nama-namanya jelas sekali serupa dengan kelompok-kelompok yang ada di India Selatan; Cholia, Muham, Pandia, dll.

Dilukis oleh Novi Tarigan (dapat dipesan lewat Sanggar Seni Sirulo)
Dilukis oleh Novi Tarigan (dapat dipesan lewat Sanggar Seni Sirulo)

Pada mulanya, pakar sejarah menggunakan fakta di atas sebagai bukti begitu kuatnya pengaruh Hindu di daerah ini. Selanjutnya, berkembang DUGAAN bahwa cikal bakal merga-merga itu adalah para pelarian/ pembangkang Sultan Aceh yang dulunya menjadi bala tentara Sultan Aceh, yang hampir keseluruhannya memang berasal dari India. Mitos nama Lau Biang dianggap relevan dengan adanya pelarian ini dari Aceh yang diselamatkan oleh biangna menyeberangi sungai yang kemudian bernama Lau Biang dan sekaligus terkait dengan pemantangan memakan daging anjing bagi merga-merga yang bernama serupa dengan suku-suku India itu. Tradisi ngombak/ pekuwaluh dan bakar mayat dianggap memperkuat dugaan ini.

Belakangan ini, bukan hanya merga-merga tertentu di dalam Sembiring yang dianggap asal India, tapi Sembiring secara keseluruhannya dengan asumsi Sembiring artinya Si Hitam dan Tamil berkulit hitam.

Itu sedikit gambaran ringkas dari perkembangan asumsi sejarah Sembiring.

Ada beberapa hal yang tidak logis dari perkembangan asumsi-asumsi itu. Di tahun 1980an, kaum sekolahan Karo masih berasumsi hanya merga-merga tertentu di dalam Sembiring yang berasal dari India (Pandia, Cholia, Muham, Berahmana, Meliala, Depari, Pelawi, Maha, dll.) yang berbeda dengan Sinulaki, Kembaren, Sinupayung, dan Keloko. Sekarang, ada kecenderungan semua Sembiring dianggap dari India. Apakah Brahmana juga nama sekelompok orang dari India Selatan yang termasuk Tamil sehingga mereka juga dinamai Si Hitam?

Tradisi membakar mayat, ternyata dilaksanakan di Karo bukan hanya di kalangan Sembiring. Hampir di semua kampung Karo ada tempat pembakaran mayat dan, hingga di tahun 1950an beberapa kampung Karo masih membakar mayat perempuan yang meninggal sewaktu mengandung (khususnya saat mengandung anak pertama) apapun merga suaminya dan beru apapun dia.

Meski saya belum tahu pasti apakah pendapat Tuaraja Salmen Kembaren benar atau tidak, tapi saya meragukan kata Sembiring berarti Si Hitam. Tuaraja mengatakan berasal dari Sumbiring, tapi dia tidak menjelaskan apa artinya Sumbiring dan bagaimana dia sampai berpendapat demikian. Pendapat J. H, Neumann mungkin lebih bisa diterima. Katanya, Sembiring berasal dari kata Sempiring. Meski kebenarannya belum dapat dipastikan, ada logika yang setidaknya mengarah ke kebenaran mengingat merga-merga ini kebanyakan berasal dari Seberaya yang merupakan ibu negeri Urung Suka Piring Gugung. Demikian juga dengan Deli Tua yang merupakan ibu negeri Urung Suka Piring Jahe. Jadi, kata Sempiring mungkin berkaitan dengan nama dua urung Suka Piring.

Neumann mengkaitkan dugaannya itu dengan nama merga Gurusinga yang, katanya, dari Nggurisa (sejenis burung enggang). Asumsi Neumann diperkuat oleh tradisi merga Gurusinga yang memantangkan makan daging burung Nggurisa. Jadi, bukan dari kata guru dan singa.

Suatu malam saat Sanggar Seni Sirulo mengadakan latihan di Medan
Suatu malam saat Sanggar Seni Sirulo mengadakan latihan di Medan

Hal yang mirip mengenai nama ini pernah aku alami sendiri. Dalam literatur, ukiran di 4 sudut rumah adat Karo sering disebut takal singa dan orang-orang menerimanya karena di rumah Batak ukiran yang mirip disebut singa-singa. Aku terkejut, suatu ketika, seorang informan mengatakan itu namanya takal singal. Singal artinya sesuatu yang mendongkrak untuk memperketat. Pas sekali dengan fungsi teknis dari ukiran itu yang memperkokoh hubungan dapur-dapur dengan persuki dan atap.

Demikian juga dengan asumsi nama Karo Sekali berarti Karo yang disebutkan satu kali bukan seperti Karo-karo yang dua kali. Dari asumsi yang tak jelas juntrungnya ini dibangun pula teori bahwa Karo Sekali adalah merga tertua di Karo. Apa itu merga dan bagaimana hubungan merga seolah semua sudah sepakat bahwa merga adalah kelompok satu garis keturunan dan hubungan antar merga hanyalah hubungan perkawinan.

Secara tidak sadar, kajian sejarah seperti ini sangat didasarkan pada kepercayaan bahwa semuanya terjadi secara kebetulan. Seolah-olah nenek moyang kita dulu tidak punya strategi kebudayaan yang dapat mengatur perjalanan sejarah. Sebaliknya, kebudayaan kita dianggap adalah sepenuhnya produk warisan peristiwa kebetulan.

Benar atau tidak benar cara berpikir seperti itu, perlu kita sadari, cara berpikir seperti itu hanyalah satu diantara banyak paradigma sejarah.

1 COMMENT

Leave a Reply