Kolom Juara R. Ginting: KEMBAREN DARI PAGARUYUNG? (The Origin of Value or the Origin of Species?)

3
251

Juara R. GintingBaru saja saya lihat pertanyaan Katengah Tegun Sinatap (Yanta Surbakti) di bawah link “Kolom Juara R. Ginting: SEMBIRING DARI INDIA?” di grup facebook JAMBURTA MERGA SILIMA. Pertanyaannya: adi menurut pustaka kembaren uga nge nina kerna sembiring e?

Pertanyaan menarik dan akan saya jawab di bawah ini dengan pertanyaan baru.

Menurut Pustaka Kembaren yang ditemukan oleh J.H. Neumann di Bahorok, “Nini” kalak Kembaren berasal dari Pagaruyung. Kisah menuturkan perjalanan sang Nini melewati berbagai tempat hingga sampai di Taneh Liang Melas panteken Kembaren mergana. Saya punya rekaman versi lain dari kisah ini. Tapi, keduanya sependapat bahwa TPA (Tempat Kejadian Akhir) adalah kuta Gunung Meriah di Liang Melas (Karo Gugung).

Kisah ini dikenal oleh banyak orang Karo sejak Brahma Putro melampirkannya di bukunya KARO DARI JAMAN KE JAMAN (berdampingan dengan kisah PUTRI HIJAU). Ini pula yang menjadi argumen banyak orang Karo yang menganggap merga Kembaren berasal dari Pagaruyung.

Bagi saya, sampai pada pernyataan bahwa “merga Kembaren berasal dari Pagaruyung” sama sekali tidak ada masalah. Yang menjadi masalah bagi saya adalah ketika pernyataan itu tanpa kendali menjadi asumsi bahwa merga Kembaren berasal dari satu individu nenek moyang yang kemudian berkembangbiak menjadi sekelompok orang Karo yang disebut Kembaren. Untuk asumsi seperti ini, pembuktian dari kebenaran cerita hanya satu, yaitu test DNA. Apakah ada kesamaan genetis antara orang-orang Kembaren dengan kelompok-kelompok lain yang juga dianggap atau menganggap diri berasal dari Pagaruyung? Tak perlu berdebat tentang hal ini. Lakukan juga test DNA apakah orang-orang bermerga Kembaren asal Liang Melas dan orang-orang bermerga Kembaren asal Bahorok serta yang asal Gunung Meriah Deliserdang punya kesamaan DNA.

Saya pribadi menduga, setelah mempelajari berbagai mitos (bukan hanya Karo tetapi seluruh Indonesia), besar kemungkinan (tapi bukan kepastian dan bukan harus semuanya) bahwa yang dikatakan Nininta dalam mitos-mitos Karo adalah sebuah “value” (nilai), bukan seorang individu manusia.

Penampilan Tera (Teater Rakyat) SIRULO di Asrama Haji, Medan
Penampilan Tera (Teater Rakyat) SIRULO di Asrama Haji, Medan

Bila orang-orang melihat kisah PUSTAKA KEMBAREN sebagai bukti bahwa sebagian dari nenek moyang orang Karo berasal dari Pagaruyung, saya malahan melihat sebaliknya, yaitu sebagai bukti bahwa orang-orang Karo sudah sejak lama mengenal Pagaruyung (Jangan lupa dengan kegiatan pencarian hasil-hasil hutan di Sumatra yang meluas dan perdagangan internasional yang sudah sangat tua dari hasil-hasil hutan itu. Bahkan Guru Timur mempersembahkan kapur Barus kepada si bayi Yesus yang baru lahir). Pikiran bahwa nenek moyang kita primitif sangat berpengaruh terhadap penilaian kita terhadap nenek moyang kita yang cenderung “menjengkali” perjalanan mereka seolah-olah tak mungkin mereka mengenal Pagaruyung ataupun Siak pada masa ratusan tahun lalu.

Sebuah ilustrasi kecil, di pembicaraan-pembicaraan keluarga, saya sering disebut Perleiden. “Uga nina Perleiden ena? Entah banci kari soal snack ena tenahkenna Leiden nari.” Bisa saja 500 tahun mendatang ada Pustaka Ginting Leiden. Hahahaha ……….. 😀

Saya tidak berani memastikan, tapi kepercayaan kita yang berlebihan terhadap mitos sebagai sejarah peristiwa (bukan sejarah konsep atau sejarah nilai) bisa mengabaikan perhatian kita terhadap strategi budaya yang terkandung di dalam hubungan-hubungan antar merga yang hendak digambarkan oleh mitos-mitos itu. Merga yang berasal dari kata meherga yang artinya price atau value perlu mendapat perhatian yang lebih besar dari kita. Kalau tertarik pada geneologi, lakukan saja test DNA.

Pertanyaan saya, dari sisi manakah kita mempertanyakan asal usul nenek moyang? Asal Karo sebagai a system of value atau asal orang-orang Karo sebagai makhluk genetis?

3 COMMENTS

  1. berti menurut kam bang, sudah terjadi arus bolak balik antara Kembaren/Karo-Pagaruyung-Karo? sebab ibas pustaka ah ndai nina lit perkawinan ras Putri Kuala Ayer Baru, janah labo katakena lit ia mulih ku kerajannya si sebelumna, tapi berlayar tanpa tujuan ras tangkuh ija-ija gia kari ibas Pulau Perca.

Leave a Reply