Renungan: Mau Dibawa ke Mana Generasi Muda Karo?

0
180

generasi muda

Oleh: Ricky Mainaki Karo Purba (Pekanbaru)

Setamat dari SMK, saya mulai merasakan tuntutan Era Globalisasi. Setelah beberapa kali saya membuat lamaran ke berbagai perusahaan, sering terpikir: “Ugalah kari é pé? Kai pé labo kuangka, erlajar pé mbarénda  kisat ka.”

Syukurlah, sekarang saya bekerja di perusahaan swasta dan sekalian kuliah di salah satu universitas swasta di Pekanbaru. Dari situ saya mulai belajar kembali setelah setahun bekerja. Yah, mungkin gak seperti teman-teman yang kuliah di universitas negeri. Kadang terasa letih, bosan, menahan sakit hati. Tapi, kerja keras saya adalah untuk membahagiakan orangtua di kampung.

Tahun kemaren, saya ada kesempatan pulang kampung, tepatnya di  bulan Agustus. Ketika saya menghirup udara sejuknya Kota Kabanjahe, saya melihat sekelompok anak SD dengan seragamnya menghirup-hirup lem.

Ehh,  uga kel nge kutaku énda ndai?”  saya berkata di dalam hati.

Bukan itu saja, malam hari banyak berkeliaran anak-anak remaja yang mungkin masih sekolah. Mereka menyebut diri geng motor. Tiba-tiba hp saya berdering. Opss, ternyata bapa yang menelefon: “Lampas kam mulih, nakku. Jenda enggo mbue geng. Ula kari kam igangguna.”

Yah, mau tak mau langsung pulang. Itu lah kenyataan yang saya lihat di kota kelahiran dan kebanggaan saya. Kondisinya sudah seperti itu sekarang. Bagaimana generasi muda Karo nanti ke depannya? Apakah itu kebanggan kepada kita sebagai kawula muda Karol? Apakah orangtua kita yang salah membina? Atau mungkin juga kita yang belum sanggup menerima kemajuan zaman dan teknologi canggih ini? Banyak pertanyaan yang  ada di hati.

Inilah salah satu masalah yang serius. Apakah tidak ada tindakan pemerintah kepada mereka? Saya dengar kabar kalau tahun 2020 sudah perdagangan bebas. Bagaimana kita sebagai generasi muda, ke mana kita dan jadi apa kita? Sanggupkah kita jadi pemeran atau jadi penonton yang setia ?

Mari kita renungkan. Bujur..

Leave a Reply