Kolom Juara R. Ginting: Kabhie Kabhie Sanggar Seni Sirulo

2
194

Juara R. Ginting Ketika Sirulo Tampilkan “Past and Present in the Present” di Limang

Kabhie Kabhie adalah sebuah puisi karya penyair India Sahir Ludhianci yang diangkat menjadi lagu dan kemudian difilmkan dengan pemeran-pemeran terkenal India seperti Neetu Singh, Raakhee Gulzar, Amitabachan, Sashi Kapoor dan Rishi Kapoor. Film ini telah melegenda tidak hanya di India dan negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, tapi juga ke seantero dunia. Sampai-sampai penyanyi berkulit putih sekaliber Nelly Furtado hapal menyanyikannya.

Saat Nancy M. Brahmana membacakan puisi bersama Sirulo
Saat Nancy M. Brahmana membacakan puisi bersama Sirulo

Kali ini aku ingin berbicara mengenai Kabhie Kabhie bukan karena aku adalah penggila film India khususnya Kabhie Kabhie. Melainkan, oleh sebuah pengalaman 2 tahun lalu saat Sanggar Seni Sirulo menjelang tampil di kerja tahun Desa Limang (Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo). Kita berencana menampilkan tidak hanya musik, vokal dan tari sebagaimana biasanya pesanan yang datang, tapi juga berbagai bentuk seni lainnya; a.l. seni lukis, puisi, lawak, permainan rakyat dan fashion show secara live di atas pentas.

Skenario yang aku buat adalah menampilkan berbagai bentuk seni ini ke dalam sebuah rangkaian dengan mana rangkaian itu sendiri membentuk sebuah cerita tersendiri lain dari bentuk-bentuk seni yang dirangkainya.

Bagaimana aku bisa menjelaskan ini kepada para pemain sedangkan aku menyutradarai pertunjukan lewat webcam dari Kota Leiden, Nederland? Aku telah jelaskan kepada sutradara lapangan, Ita Apulina Tarigan, bahwa ini konsepnya sama dengan General Representation dari sosiolog Emile Durkheim yang kira-kira dalam bahasa Indonesia bisa dijelaskan bahwa kebudayaan (general representation) memiliki entitas sendiri lepas dari manusia-manusia penganutnya. Di dalam istilah antropolog Louis Dumont, ini adalah image. Atau, dalam khasanah kebudayaan Karo, begu mentas.

Untung saja Ita, yang sering mengikuti kuliah-kuliahku di USU, dapat mengerti konsep dari skenario yang kubuat. Tapi, dia tetap saja kewalahan menterjemahkannya kepada para artis Sanggar Seni Sirulo sebagai arahan untuk latihan. Akupun bingung untuk menjelaskannya langsung kepada para artis.

Sambil mereka berdiskusi, aku mencari-cari clip di youtube untuk bisa menjadi ilustrasi menjelaskan maksudku. Harapanku tak besar untuk bisa menemukannya hingga di satu saat aku menemukan clip Kabhie Kabhie.

Destanta Permana Purba melukis live saat Nancy membaca puii diiringi musik tradiional
Destanta Permana Purba melukis live saat Nancy membaca puisi diiringi musik tradiional

Clip baru Kabhie Kabhie memadukan berbagai bentuk seni: puisi, lagu, drama, busana, tari, pahat/ ukir, lukis, dan cinematografi. Lebih menakjubkan lagi, kisah yang ditampilkan memasuki berbagai dimensi dan ruang waktu berbeda-beda sehingga memainkan Past, Present and Future. Terjadi  dialektika disentagling (penguraian), entagling (pengaburan) dan kembali ke disentangling. Kita tak tahu lagi mana yang terjadi sekarang, dulu dan di masa depan. Di dalam sebuah adegan dipertemukan satu sosok dari masa lampau yang kuno dengan sosok seniman masa kini yang berkhayal tentang masa lalu. Tiba-tiba, kita disadarkan bahwa sosok seniman masa kini itu pun rupanya sosok masa lalu juga yang putus hubungan dengan kisah kasihnya di jamannya.

Ada tanah kering kerontang. Di sana Amitabchan berhadapan khayal dengan gadis idamannya di masa lalu. Di akhir kisah, selendang gadis itu diterbangkan oleh angin ke langit. Artinya, bagai kisah-kisah Putri Bungsu atai Si Uncu di Karo, si gadis tak bisa lagi kembali ke langit. Dia tinggal di bumi. Apakah pemuda kita, Amitabachan, mampu menggapai gadis khayangan itu di seberang lembah dan ngarai di sana?

Setelah menonton bareng clip ini, ditambah bimbingan dari Ita Apulina Tarigan, para artis Sirulo ternyata mampu meresapi jalan cerita. Tapi, itupun setelah Ita mengajak mereka bermeditasi diiringi musik dan lagu Kabhie Kabhie.

Para penonton Kuta Limang pasti tidak mengerti proses persiapan penampilan kami di sana, tapi, mereka sangat menikmatinya dan merasa kurang-kurangen. Itulah efek General Representation atau gamblangnya, begu mentas. Mentas kin mis “image” ah ndai.

Giliran permainan rakyat
Giliran permainan rakyat

Begitulah, ketika lagu Magdalena ditampilkan, para penonton tak tau lagi sedang berada di masa lalu atau di masa kini. Nantinya, muncul Nancy Meinintha Brahmana (cucu Rakoetta Brahmana) yang sengaja datang dari Jakarta untuk bergabung dengan Sanggar Sirulo di Limang. Dia bacakan puisinya dengan busana masa kini dan berteriak memanggil masa lalu. Tanpa sadar, kulcapi dan penari latar menyeretnya masuk ke terowongan masa lalu. Energi Kharismatik mencoba menahannya, tapi ketteng-ketteng dan gendang meyeretnya hingga lenyap ditelan masa. Dan, kini, dia tinggal di Kabanjahe serta berjuang meneruskan perjuangan kakeknya Rakoetta Brahmana.

Rumah kita ……………….

Demikianlah sepenggal puisinya yang mengikuti irama Katoneng-katoneng.

Kabhie Kabhie mere dil mein khyal aata hai

2 COMMENTS

Leave a Reply