Pasca Pengembangan Transportasi Sumut: Potensi Investasi Pertanian dan Agrowisata di Tanah Karo

0
261

maria timmen 8Oleh: Maria Timmen Surbakti*

Agrowisata sebagai bagian dari pariwisata dapat dikembangkan dengan memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai objek wisata. Brastagi sebuah kota yang berjarak sekitar 67 km dari Kota Medan. Berada pada ketinggian sekitar 1.200 meter-1.400 meter di atas permukaan laut. Sama seperti kawasan Puncak di Jawa Barat atau Bukittinggi di Sumatera Barat, alam sejuk dan asri kota kecil Brastagi memiliki suasana dan nuansa khas pegunungan. Sejumlah hasil pertanian dan perkebunan Brastagi sudah sejak lama menjadi merek dagang tersendiri daerah ini. Seperti, jeruk brastagi, sirup markisa brastagi, terong belanda Brastagi, kentang Brastagi, dan hasil-hasil pertanian lainnya.

Produk pertanian yang beragam di Tanah Karo jika dikemas dalam satu paket wisata akan terkesan lebih menarik dan mampu meningkatkan agrowisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk mandi air panas Sibayak, melihat pemandangan elok  bukit Gundaling, menginap di hotel serta duduk menghirup udara segar. Wisatawan bisa memanen langsung di pohon seperti, buah jeruk Brastagi, stroberi, terong belanda, markisa atau panen sayur langsung di kebun. Hal ini merupakan peluang pasar agrowisata yang sangat baik bagi daerah ini. Brastagi akan semakin popular karena memiliki paket wisata khas. Harga jual produk pertanian di lokasi agrowisata bisa lebih tinggi dikarenakan pengunjung berani membayar lebih dari harga jual petani kepada pedagang pasar. Pengunjung memperoleh kepuasan tersendiri dari memetik sendiri buah langsung dari pohonnya di kebun.

Stroberi yang sudah banyak di budidayakan di tanah karo akan menambah ketertarikan orang-orang untuk berwisata di tanah karo. Untuk menambah daya tarik wisatawan stroberi juga di jual ke pasar-pasar di berastagi oleh petani dengan harga yang menunjang demi meningkatkan ekonomi masyarakat  Karo. Apalagi setelah jeruk yang di serang oleh Hama lalat, masyarakat sangat terbantu oleh adanya stroberi sebagai komoditi pertanian yang baru.

Produk sayuran, buah, dan bunga tidak hanya untuk memenuhi pasar domestik, namun sudah merambah pasar ekspor seperti Malaysia, Singapura, bahkan Eropa. Kentang dan kubis adalah jenis hortikultura yang paling banyak diekspor dengan pangsa pasar terbesar ke Singapura. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, mencatat, ekspor kentang Sumut pada Januari-Agustus 2011 sudah mencapai 3.006 ton dengan tujuan terbesar ke Singapura, Brunai Darussalam dan Malaysia. Selain itu, Peluang untuk mengembangkan budidaya tanaman krisan, guna memenuhi kebutuhan baik dalam maupun luar negri tetap terbuka.

Seiring dengan permintaan bunga potong krisan yang semakin meningkat maka peluang agribisnis perlu terus dikembangkan. Tanaman krisan saat ini terkenal di desa Raya. Jenis bunga yang tumbuh subur antara lain mawar, krisan, aster, dahlia, matahari, gerbera, kala merah, tuberoos, lili, dan kerklelie. Bunga-bunga ini banyak dikirim ke Medan, Aceh, Riau, Lampung, dan Jakarta. Ekspor bunga dalam bentuk bibit juga jalan terus. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo mencatat, dalam setahun rata-rata ekspor bibit bunga mencapai 450-600 kg dengan nilai 1,1 juta dolar Amerika. Dengan membaiknya sistem bandara Kuala Namu, ke depannya akan mampu meningkatkan ekspor bunga sekalipun.

Dengan adanya pengembangan transportasi Sumatera Utara khususnya bandara Kuala Namu yang dibangun sejak November 2012 dan rencana diresmikan Maret 2013.  Jalan tol dari Medan menuju Bandara Internasional Kuala Namu di Kabupaten Deli Serdang yang mulai dibangun Balai Besar Nasional Wilayah I pada Januari 2013. Tentu pengembangan ini akan sangat berarti bagi investasi pertanian dan agrowisata Sumatera Utara. Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pelabuhan utama ekspor Indonesia, akan ditambah dengan perkembangan jalur udara. Pelabuhan laut dan udara, sama pentingnya untuk meningkatkan perekonomian.

Menurut menteri bidang ekonomi, ekonomi Sumatera Utara mampu memberi kontribusi sekitar 4,3 persen terhadap perekonomian Indonesia atau menjadi daerah kedua terbesar di Sumatera setelah Riau. Kontribusi terbesar Sumut adalah sektor pertanian yang mencapai 6,3 persen, sementara sektor industri daerah itu menyumbang Jalan 3,7 persen terhadap perekonomian nasional. Tentu saja kualitas dan kuantitas pertanian Tanah Karo akan terus meningkat demi menunjang perekonomian.

*Penulis adalah aktivis sosial

Leave a Reply