Rencana Survei Ulang Jalur Napak Tilas HUT GIKI

0
173

bastanta permana 2

bastanta permanaBASTANTA P. SEMBIRING. PATUMBAK. Di sela-sela percakapan usai kebaktian persekutuan Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) di Patumbak [Kamis 30/5], beberapa relawan GIKI yang telah melakukan survei jalur napak tilas ‘Sehna Berita Si Meriah Man Kalak Karo’ (Penginjilan Kepada Masyarakat Karo) sepakat melakukan survei ulang Kamis [6/6] depan. Survei ulang ini dilaksanakan lebih dini dari yang direncanakan semula..

Untuk survei ulang ini, tim survei akan mengawali pengamatan dari Simpang Pasar Baru ke Kinangkung hingga Buluh Awar. Di jalur Simpang Pasar Baru – Buluh Awar ini direncanakan peserta napak tilas akan dipandu dengan kendaraan. Jalur ini dianggap penting untuk dilewati agar peserta melihat kondisi alam sekitar dan merasakan langsung tantangan yang dihadapi para perintis pekabaran injil dahulu. Tugas team survei di jalur ini adalah merencanakan pengangkutan para peserta napak tilas agar aman selama di perjalanan dan tepat waktu sampai di Buluh Awar, Medan yang dilewati sangat ekstrim, apalagi bila dengan kenderaan roda empat, Jalannya berliku, berbatuan, jalan basah dan licin, di sana sini ditemukan lumpur licin, sempit, jurang yang terjal, berkabut, dan rawan longsor.

Tim survei akan bergerak dari Buluh Awar melewati Selawang – Ketangkuhen – Martelu – Bukum – Selange-lange hingga di Doulu. Inilah nantinya yang akan menjadi rute perjalanan para napak tilas.

Dari Buluh Awar hingga Maertelu, dari hasil survey terdahulu [25/5], tidak ada masalah karena akses jalannya bagus bagi pejalan kaki. Di jalur ini tugas tim adalah memasang tanda-tanda penunjuk arah dan merencanakan titik pemberhentian sert bantuan yang tepat untuk mengantisipasi hal-hal seperti peserta yang keletihan, pingsan, kecelakaan, dan lain sebagainya.

Dari Martelu perjalanan berlanjut ke Bukum, Selangge-langge dan berkhir di Doulu. Menurut rencana, di Bukum, seluruh peserta akan berhenti melakukan kebaktian dan istirahat sebelum melajutkan perjalanan. Jalan menuju Bukum dari Martelu juga sangat ekstrim, lebih parah dibanding jalur dari Simpang Pasar Baru – Buluh Awar.

Di jalur ini, tim selain memasang tanda-tanda penunjuk arah, merencanakan titik pemberhentian. Di titik-titik paling rawan akan ditempatkan beberapa orang untuk mengawasi dan mengarahkan peserta agar aman dalam perjalanan. Demikian juga halnya dengan jalur Bukum menuju finish di Doulu.

Leave a Reply