Cerpen: TANPA

0
261

maria timmen 9

Oleh: Maria Timmen Surbakti

Semua terjadi tidak selalu karena terencana. Banyak hal terjadi di luar rencana, di luar kehendak manusia.

Pagi itu mama menghubungiku. Dia menceritakan meninggalnya seorang saudara karena kecelakaan. Dia berniat datang ke sana berbelasungkawa. Aku tidak begitu mengenal orang-orang di daerah sana. Sudah lama aku tidak pergi ke sana. Terakhir kali pada saat umur 10 tahun. Mungkin aku tidak mengenal siapa saja yang disebut ibu tapi aku yakin jika aku ke sana aku dikenal. Aku dikenal di sana karena percintaan ibuku memang terkenal di tempat itu. Menjadi perbincangan mulai saat mereka menikah. Pernikahan yang membuatku berpikir apa sebuah pernikahan.

Sekian banyak kisah pernikahan kandas, tetapi tidak sedikit juga pernikahan yang juga bertahan dan bahkan adalah hal terindah selama hidup. Angin pagi itu seakan membawaku berpikir tentang tempat yang jauh di seberang. Sebuah tempat yang menjadi saksi peristiwa yang kucari, tempat yang menceritakan kematian, kelahiran, dan hubungan manusia. Entah tempat itu akan berbicara bersama alam di sana padaku. Sungguh aku tidak berhasrat menghabiskan liburan kali ini di sana karena asing bagiku. Tapi karena desakan ibu untuk menemaninya ke sana, akhirnya aku setuju.

Tentu tempat itu masih kuanggap misteri, meski banyak tempat yang kuanggap misteri. Sebenarnya, bukan tempat itu yang menjadi misteri bagiku. Tetapi, kehidupan ini sendiri memanglah suatu misteri. Aku tidak pernah berpikir akan tinggal di mana dan melangkahkan kaki ke mana. Tetapi, pada akhirnya aku berada di tempat-tempat yang tak pernah kuduga sebelumnya. Maka, ketika aku tiba di tempat itu, aku lebih banyak diam dan berusaha memperhatikan.

Tempat itu kota kecil yang menunjukkan sebuah kisah dimana alam menunjukkan kemampuannya. Dingin dan malam yang gelap menghantarku ke sebuah rumah duka yang penuh tangisan tapi tanpa jenazah. Jenazah masih dalam perjalanan dari sebuah tempat kecelakaan. Mereka menangis. Kedua anak kembar yang ditinggal meninggal ayah dan ibunya hanya bisa diam dan meneteskan air mata. Marabahaya apa yang telah menimpa kedua anak gadis ini pikirku.

Sebuah kecelakaan tentunya bukan hal aneh, setiap saat bisa saja terjadi. Bahkan aku pun pernah mengalaminya. Keberuntungan masih berpihak karena aku masih bernafas dan berpikir sampai saat ini. Tangisan itu membuatku sedikit bosan. Aku keluar mencari udara segar. Aku merasa sangat bosan karena tak mengenal mereka dan juga merasa asing. Aku putuskan untuk pergi ke rumah bibi Santi. Aku berpamitan pada mama dan mengatakan aku pergi duluan saja ke sana. Aku mengingat sebuah tempat di bukit. Rumah bibi Santi terletak agak tinggi, pemandangan tentu indah dari jendela tempatnya. Mama memberi jaket agar aku tak kedinginan.

Hari sudah malam dan dingin serasa semakin menusuk tulang. Aku melangkah bersama bibi Santi yang menyambutku dengan hangat. Dia memperlakukanku seperti tamu kehormatan saja. Dia menyediakan secangkir teh dan menutup jendela agar tidak dingin. Aku tertarik pada tampilan rumah yang berubah sejak terakhir kali aku ke rumah tua itu. Sungguh menarik dengan hiasan dinding yang menawan. Aku melihat sebuah lukisan bunga-bunga di sana. Aku bertanya siapa yang telah melukis itu, ternyata bibi Santi pandai melukis dan dia memperbolehkan jika ingin membawa pulang lukisan itu. Aku berpikir lukisan tua begini memang bagus tapi lebih bagus kalau tetap berdiri di sini.

Lalu, ada pertanyaan terbersit tentang bibi Santi. Dia bukan wanita muda tetapi dia wanita yang tidak menikah hingga di usia tuanya. Dia bercerita banyak malam itu. Dia bercerita tentang ada seorang pria yang dulu pernah naksir dengannya. Rumahnya tepat beberapa rumah dari sana. Pria itu sekarang sudah punya kehidupan keluarga baru. Masa lalunya merasa tidak perlu sebuah hubungan dengan pria. Dia bercerita tentang beberapa orang yang kerap bermasalah dengan rumah tangganya. Dia memutuskan untuk berpikir jauh dari sebuah hubungan serius dengan serang pria. Dia hanya berkerja keras untuk hidupnya dan dia bercita-cita untuk tamasya ke tempat-tempat jauh bersama ibunya yang sudah ditinggal meninggal suaminya.

Sederhana sekali pemikiran seorang bibi Santi. Sampai di situ cerita tentang bibi Santi yang panjang lebar membuatku lelah dan mengantuk. Aku minta untuk beristirahat karena aku juga bosan mendengar ceritanya yang kadang kala diulang-ulang.

Malam mungkin telah berganti menjadi pagi. Pikiranku masih berkutat tentang apa yang kulihat hari ini. Di kamar aku rebah dengan kaus kaki dan selimut tebal. Aku berdoa malam itu agar Tuhan tahu bahwa aku akan tidur meski dia sudah tahu. Aku juga mengatakan jika aku belum tidur aku masih ingin bercerita denganNya. Karena, menurutku, dia adalah pendengar yang baik meski kadang aku ragu apakah dia mendengar dan menjawab. Entah apapun itu, seperti kata teman kelasku dulu, aku tidak akan memiliki kerugian apabila aku berdoa. Maka aku berdoa tetapi malam itu doaku juga beda karena aku mengatakan bila ada yang berdoa untukku juga pada hari itu aku ingin menanyakan apa yang dia minta dari Tuhan. Siapa tahu aku harus menjadi jawaban doanya suatu ketika. Mungkin Tuhan tersenyum melihatku.

Ya.. kadang aku berpikir ketika kau berdoa aku hanya seorang anak kecil yang respon ingin menceritakan atau meminta sesuatu. Mengasyikkan juga berdoa karena berdoa adalah sebuah kebebasan. Aku selesai berdoa dan aku melihat bintang masih berkedip seakan malaikat menyapa. Aku juga ingin bertanya mengapa bintang itu tidak terhitung bahkan pasir di laut juga tidak terhitung. Jari-jariku kuperhatikan semua terhitung dan ingin menyentuh bintang itu. Karena semua orang ingin menjadi bintang. Sederhana aku berpikir bahwa bintang itu sedang menjalankan tugasnya di malam hari.

Aku ingin memejamkan mataku, tapi kali ini tidak bisa. Pikiranku menerawang jauh pada bibi Santi dan Arman. Sudah setahun aku mencoba melupakan Arman. Aku memang berhasil melupakannya, tetapi tidak untuk menghapus dari ingatan. Memori masih jelas dan sesegar lukisan bunga bibi Santi. Aku hanya merasa dia juga demikian. Dia mungkin tidak mengingatku lagi, tetapi dia tidak bisa menghapus sebuah rasa yang pernah muncul dalam detik-detik hidupnya.

Saat itu, aku ingin memejamkan mata dan menghilangkan bayangannya dari pikiranku. Aku berbisik di dalam hati untuknya bahwa aku harus hidup baik-baik setelah tidak mengenalnya lagi. Demikian juga dirinya. Aku tertidur lelap dalam suasana yang begitu tenang dan yang terdengar hanya suara alam.

Seorang wanita kadang tidak sadar akan sebuah perjuangan. Ketika dia sudah merasa menjadi seorang ratu, dia lupa pada rajanya. Kisah ini sudah terjadi sejak dulu dalam legenda Ratu Wasti yang digantikan oleh Ester orang Yahudi. Dia dicampakkan karena kesombongannya. Dia lupa bahwa menjadi Ratu tidak boleh melupakan seorang Raja. Demikian juga kisah Mikhal yang diperjuangkan seorang prajurit berani dengan memukul kalah orang Filistin sebagai syarat mendekatinya. David seorang tangguh yang benar memperjuangkan cintanya bahkan dia menarik kembali Mikhal dari suaminya karena dia merasa itu adalah miliknya yang telah direbut. Suami Mikhal tidak tahan akan kenyataan itu dan menangis sejadi-jadinya.

Betapa elok rupa seorang Mikhal hingga David dan suaminya memperebutkannya. Mungkin saja David bukan dalam rangka berjuang lagi tetapi David menunjukkan harga dirinya di depan semua orang bahwa apa yang telah diperjuangkan harus selesai. Mikhal tidak menghargai usaha David bahkan dia tak sungkan sering berkata merendahkan David yang adalah seorang suami dan seorang Raja.

maria timmen 10

Di zaman sekarang, aku berpikir mungkin cinta itu buatan kapitalisme juga. Cinta juga sejak dulu sebagai penyurut peperangan. Sulaiman seorang raja besar menikahi banyak wanita dari berbagai bangsa agar menghindari peperangan dan melancarkan politik dengan kerajaan lain. Wanita mana yang tidak akan tergiur dipersunting serang Sulaiman yang amat sangat pandai di masanya. Secantik apapun wanita akan luluh ketika mendengar perkataan Sulaiman. Ratu Bilqis terpesona akan keagungan Sulaiman dan segenap kerajaannya. Sulaiman menceritakan tentang belalang dan semut kepada Ratu Bilqis. Ratu BIlqis hanya tersenyum mendengar setiap kisah yang diceritakan Sulaiman.

Cinta memang tiada habisnya selalu ada dalam setiap hal. Kisah para lendaris mengingatkanku bahwa memang wanita sejak dulu sudah memperebutkan satu lelaki. Beda dengan pria yang jarang memperebutkan wanita meskipun sebenarnya dia menyukai tetapi tidak juga merebut jika wanita itu sudah pergi meninggalkannya. Sudah dari dulu ternyata. Wanita itu mudah dikelabui dan terhipnotis sehingga begitu terpukau pada sesuatu tidak saja pada pria tapi juga pada segala hal termasuk barang aksesoris dan sesuatu yang mengandung kemilau. Aku mendengar sejak dulu wanita dianggap lemah tapi tidak lemah juga karena dia merawat anak-anaknya.

Pagi ini aku terbangun dengan pikiran yang jauh sambil menatap gunung di sana. Tampak pepohonan cemara menjulang indah dan kebun-kebun kutatap sambil mendengar musik ringan. Sempurna sekali rasanya. Udara masih dingin, mentari mulai naik perlahan. Roti dan susu sebagai santapan pagi begitu manis terasa semanis suasana. Meski pemikiranku terkadang tidak semanis susu coklat dan tidak selezat roti keju.

Masih dengan kapitalis, apakah mereka hidup secara positif menyediakan dan merencanakan kebutuhan manusia hidup atau membuat itu menjadi dibutuhkan? Semacam apakah manusia memang mutlak membutuhkan cinta pasangannya atau dibuat menjadi butuh. Bukankah setiap manusia telah cukup memperolah cinta dari ibu yang mengandungnya. Sebuah cinta adalah rasa yang bergejolak karena sebuah hormone endorphin yang membuat melayang. Itu hanya sebuah hormon yang melahirkan sejuta kenikmatan.

Manusia yang dianggap sebagai manusia pertama oleh beberapa agama yaitu kisah Adam. Kata dan nama Adam adalah sebuah nama berawalan huruf abjad pertama menjadi manusia pertama dan namanya sama di setiap sejarah dan cerita yang muncul yang pernah kudengar. Tidak berubah namanya dalam berbagai bahasa dan daerah. Adam engkau tetap Adam yang diingat sebagai sebuah cerita. Diciptakan pertama dan sendiri tanpa Hawa.

Mungkin saja Tuhan berpikir dan sebenarnya dia membuat Adam sebagai Plan A tanpa Hawa. Artinya, tanpa seorang perempuan, tanpa pendamping, tanpa seks juga. Manusia pertama itu tidak dibuat untuk sebuah seks pada awalnya. Mungkin Tuhan jika ingin membuat manusia banyak, tinggal membuat cetakan lainnya sesukanya.

Aku tertawa kecil. Di hatiku berpikir, Tuhan merasa Adam belum baik diantara sekian ciptaannya yang menurutnya baik. Adam adalah plan A maka Tuhan memperhatikan seksama Adam yang tertidur dan membuat plan B yaitu membuat Hawa dari tulang rusuknya. Tulang adalah benda keras mungkin dari situ wanita harus diratukan dan diperjuangkan dengan keras oleh pria. Hawa muncul dan dihembuskan nafas, seorang gadis cantik yang punya rambut mungkin sudah panjang. Matanya indah dan pasti membuat Adam bangun dan terkesima.

Hawa adalah kejatuhan bagi Adam di sebuah taman yang serupa surga. Hawa telah melanggar dengan membujuk Adam memakan buah terlarang sehingga mata mereka terbuka seperti yang dikatakan ular tua itu. Sebelum mata terbuka sepertinya Adam dan Hawa tidak pernah tahu tentang seks. Sejak mereka diusir dari taman itu mereka mulai beranak pinak, entah mungkin karena mereka sudah mengerti karena matanya terbuka.

Perjuangan pria mendapatkan wanita sudah sejak dahulu. Dahulu sepertinya belum ada kapitalisme. Zaman Adam, menuruti Hawa adalah nalurinya sebagai sebuah rasa cinta untuk membuat Hawa merasa ingin dimiliki. Naluri yang alami sama seperti cerita Sulaiman yang membuat seorang Bilqis melaju melewati jarak jauh. Seorang Bilqis datang langsung menghadap Raja dengan ratusan istri. Seorang Bilqis yang tidak menunggu pria datang tetapi datang dan menyatakan segala kekaguman juga cintanya.

Sulaiman tidak serta merta memperlakukan Bilqis sebagai ratu biasa, dia adalah ratu di atas ratu. Dia membuat segala perjuangan ratu itu berarti. Tulisan-tulisan dan hal yang istimewa dipersembahkan untuk Ratu yang kecantikannya melebihi cantik gadis lain karena dia manis. Kulitnya hitam, matanya mempesona, senyumnya teramat manis. Ratu ini pandai sehingga menjadi kecintaan bagi Sulaiman.

Kembali kepada Ratu Ester orang Yahudi yang menyamar untuk menjadi seorang ratu. Ester seorang pejuang wanita, seorang saleh yang berdoa bagi keselamatan kaumnya juga seorang yang dicintai rajanya. Bagaimana dengan gadis Yahudi kekasih Hitler, yang menjadi penyebab kehancuran dan kematiannya yang menggenaskan?

Sungguh kekuatan wanita tak terkira akan merusak sampai ubun-ubun dan membangkitkan kehidupan. Keduanya ada pada wanita maka tidak salah ular tua, setan, atau manusia setengah setan yang masih menggunakan wanita untuk memperdaya kaum Adam.

Pikiranku sudah cukup jauh melintang melebihi jarak pandang gunung di depan. Bibi Santi tampak sibuk berkemas dan merawat tetek bengek rumahnya. Aku melihatnya seksama meski dia tidak berani menyuruhku. Aku juga tidak berani meminta membantu karena sudah tahu dia akan menolaknya. Ungkapnya aku tidak perlu repot membantunya, dia terbiasa dengan itu semua. Aku cukup membiasakan bergumam dengan alam, gunung, pepohonan, dan hawa yang sejuk.

Indahnya dan suasana seperti kembali kepada masa kecil saat terakhir kali aku berlari di teras ini sambil membacakan beberapa cerita kepada anak tetangga sebayaku. Buku cerita bergambar adalah kegemaranku dulu. Sekarang aku tidak akan bercerita lagi karena kudengar dari bibi bahwa mereka sudah menikah dan mempunyai anak sudah tinggal di tempat lain. Sambil becanda bibi Santi bertanya mengapa aku masih sendiri dan orang mana calonku. Aku hanya diam melihatnya berkata seperti itu hanya menurut sebagian besar orang menikah sebagai tujuan hidup.

Yang aku pikir, apakah semua orang harus menikah dan meneruskan keturunan? Keturunan manusia sudah banyak dan sudah bercampur dari ras satu ke ras lain. Seperti es campur yang dijual di pasar-pasar.

Kembali aku teringat Arman karena celoteh tante satu itu. Arman adalah pria yang pernah kuharapkan tapi situasi menjawab lain. Mengingatnya bukan berarti aku membutuhkannya kembali. Tidak sama sekali. Aku Amira sama sekali sudah tidak mencintai seorang Arman. Hanya saja, aku berpikir, ada hal yang sudah kupelajari bersama dengannya. Yang kupelajari adalah sebuah hubungan yang bukan berakhir seperti diharapkan.

Semua bisa saja dipaksakan sampai bisa, segala hal bisa. Hal itu yang dipaksakan Thomas Alva Edison yang membuat lampu dengan 999 kali percobaan gagal. Semua bisa saja terjadi pasangan istri buruk-suami baik, suami buruk-istri baik, keduanya baik, semua bisa terjadi tetapi hidup bukan sebuah percobaan. Anehnya manusia masih merasa perlu untuk menikah dan meneruskan keturunan. Alangkah egoisnya manusia bahwa dunia ini sudah tua, sudah berat menanggung keserakahan dan keegoisan mereka, bahkan menanggung dosa-dosa mereka. Manusia semakin banyak, manusia bekerja menghabiskan waktu mencari uang dan mencari kesenangan. Seks dan wanita menjadi kesenangan belaka yang diperjualbelikan.

Sejak awal Adam diciptakan sendiri dan ketika Hawa ada sebelum terpengaruh ular tua, mereka masih polos dan belum malu telanjang. Ketika diusir, mereka malu dan merasa bersalah.

Seks untuk manusia bukan manusia untuk seks. Lalu manusia sekarang menikah untuk melegalkan seks. Manusia membuat manusia lain yang memunculkan masalah-masalah baru bagi dunia. Pertikaian dan peperangan, kesombongan antar ras dan kecongkakan perebutan kekuasaan. Manusia lupa siapa dirinya yang sebenarnya adalah segelintir makhluk. Dia lupa bahwa bumi ini bulat dan berputar diantara sekian galaksi yang mungkin juga berpenghuni. Dia lupa bahwa pada saatnya bumi yang tua ini juga bisa lenyap karena renta. Bumi ini semakin tidak layak untuk diinjak. Moral manusia semakin terkikis, semua orang berusaha dianggap hebat. Padahal apa bangganya mencari rasa hebat diantara segelintir manusia juga, makhluk yang sama dengan lubang hidung yang sama jumlahnya.

Manusia berpikir dia bisa membuat segalanya. Tetapi. ketika tua, dia sudah tidak dibutuhkan lagi pada peredaran manusia. Dia dicampakkan dalam keheningan, dia mencari hal lain semacam ketenangan dari hiruk pikuk dunia. Dunia manusia tidak membutuhkan tua renta, kegemilangan dan kejayaan telah sirna dari wajah si tua.

Mengingatkanku pada orang yang berlibur di pulau-pulau menyendiri dan hidup melewati hari tua sendiri. Mungkin seperti aku yang sekarang sedang berlibur secara tak sengaja di tempat indah ini. Aku harus pergi menemani mama lagi. Khayalanku kuhentikan sejenak. Sementara meja kosong, semua sudah terlahap habis.

Leave a Reply