Kolom Ita Apulina Tarigan: Social Media Untuk Gagasan “Karo Bukan Batak”

7
240

ita 11Di jamannya social media ini, kalak Karo tidak ketinggalan. Terlihat dengan banyaknya komunitas Karo di berbagai forum. Ini adalah gejala yang bagus sekali, memanfaatkan kemudahan untuk berbagi informasi. Kalau dulu, ingin terkenal, punya pengikut harus banyak uang, fasilitas. Kini tidak. Ada pengetahuan, ide yang segar dan menantang, maka kemudahan mendapatkan komunitas bukan mimpi lagi. Sisi baiknya dari komunitas di media social ini adalah adanya kesempatan mengembangkan idea atau gagasan yang tidak akan muncul dari lembaga formal.

Ketika sebuah idea atau gagasan menarik itu sudah diminati, yang sering terjadi adalah komunitas mundur lagi ke jaman baheula, menjadi organisasi konvensional. Dengan susunan organisasi konvensionalnya ada ketua, sekretaris dan perangkatnya jadilah komunitas tanpa sadar membelenggu dirinya, gagasannya ala feudal. Perintahnya top down, dari atas ke bawah.

Terlupakanlah gagasan yang hendak diwujudkan, karena dalam organisasi konvensional akan ada ‘raja’ dan ‘anak buah’. Padahal dalam komunitas itu yang dibudayakan adalah kata ‘kita’ bukan ‘aku’.

Dengan sumbangan 1 orang Karo dari Bali, Sanggar Seni Sirulo berhasil menghibur 3 kelompok pengungsi letusan Gunung Sinabung di Kabanjahe.
Dengan sumbangan 1 orang Karo dari Bali, Sanggar Seni Sirulo berhasil menghibur 3 kelompok pengungsi letusan Gunung Sinabung di Kabanjahe (2010)

Dengan kemudahan sekarang ini, mari kita berkreasi bagaimana memanfaatkan kelebihan kita masing-masing untuk meraih tujuan bersama. Ketika satu rasa, satu tujuan tidak akan ada lagi persoalan siapa yang memimpin. Siapa saja bisa menjadi pemimpin, siapapun bisa jadi anak buah.

Keluarlah dari ikatan organisasi konvensional itu, kita sudah merdeka, jangan lagi mengikatkan diri.

Mari kita renungkan sambil mendengarkan lagu di bawah ini:

7 COMMENTS

  1. Ini komen yang saya buat di tanahkaro@yahoogroups.com, menanggapi Kila MUG:
    Terimakasih atas tanggapannya Kila…

    Trend sekarang ini kalau kita cermati terkait social media memang sangat luar
    biasa. Peristiwa di Mesir, sekarang di Turki kampanye lewat social media membuat
    tekanan terhadap pemerintah berkuasa semakin kuat. Tentu ini adalah perlindungan
    incognito bagi para aktifis internet.

    Apalagi kalau belajar dari kisahnya Julian Assange, bule yang pengetahuan
    internetnya biasa saja, kebetulan bisa browsing dan hacking. Dengan modal nekad
    dan biaya sedikit content websitenya sudah mengguncang dunia persilatan. Menjadi
    buruan interpol sampai sekarang. Semua orang tahu dia sekarang berada di London
    berlindung di kedutaan besar Columbia,tapi apa Amerika Serikat atau Australia
    berani menangkapnya? Apa yang membuat pemerintah Columbia berani memberi
    perlindungan kepada Assange? ketika Assange diburu, ribuan hacker anonim
    menghancur berbagai website pemerintah dunia, padahal mereka tidak saling kenal.
    Solidaritaslah yang menggerakkan mereka.

    Itu sebabnya, melihat bibit-bibit muda yang mungkin bahasa Karonyapun
    berlepotan, tetapi jiwa dan cinta Karo-nya sangat besar, terutama dalam mencari
    jati diri, saya semakin optimis.Gagasan Karo bukan Batak tidak mereka telan
    bulat-bulat, mereka cicipi, kunyah, cerna baru disampaikan dengan gaya mereka
    sendiri. Mereka giat berbicara di internet, menyebar gagasan, tidak peduli
    dengan para ‘kritikus feodal’ yang cuma modalnya menggertak saja dan sok tahu.

    Mudah-mudahan, kemudahan teknologi yang bagai pisau bermata dua ini bisa kita
    pakai untuk kemajuan kita bersama.

    Salam hormat man bandu, Kila.

    permenndu,
    Ita Apulina

    nb. Thanx buat Kak Alem, Steven Amor dan Sembiring Gurkinayan…we are on the right way

  2. Mobilitas orang-orang saat ini luar biasa, batas-batas banyak menjadi kabur, dinamika transnasional dalam era globalspace sekarang juga membangun ide-ide yang bervariasi. Karo tidak anti perubahan, setuju! selama perubahan itu membuahkan hal positif bagi Karo kebanyakan.
    Jadilah pemimpin agar ‘mewarnai’ perubahan menjadi lebih baik, dan saat kita menjadi pemimpin, hanya satu yang tidak boleh kita lupa, katakanlah dengan tulus pada anak buah dan orang-orang di sekitar kita…this is because of you…sehingga arogansi tidak pernah menghampiri. Dan,kultur itu sudah dibangun oleh komunitas media “SS” ini.

    Al’s

  3. Everything’s gonna be alright “Bob Marley” selama semua tetap sepakat dan saling mendukung satu sama lain dengan didukung oleh data. Tanpa menghilangkan rasa kecintaan sesama kita, mejuah-juah.

  4. Melihat perkembangan persoalan sosial di tanah karo, sudah saat nya kita merapatkan barisan untuk mengembalikan nilai2 budaya karo yang sependek pengamatan kami sudah terkikis dan berangsur menuju pengahancuran.
    Pola pikir “Instant” yang telah menyerbu tanah karo harus segera kita bendung.
    Lit sada petuah nini nta ndube : adi la kita ise nari si banci pekena rumah nta….ula arapken kalak sideban erkiteken labo iangkana kai ni perluken kita.

  5. Pikiran ini kompatibel dengan 3 arah besar perkembangan dunia (EQ, Demokrasi, Leadership). Terutama dalam soal leadership, sangat menarik ulasan Ita. “Siapa saja bisa menjadi pemimpin, siapapun bisa jadi anak buah.”

    Karo dan kulturnya adalah pelopor dan perintis dalam mengikuti perkembangan, sebab utama ialah way of thinking, filsafat hidupnya dan deialektikanya yang secara alamiah (kebetulan?)sudah berada dalam rel perubahan perkembangan dunia.

    MUG

Leave a Reply