Kisah Sedih Menuju Bukum (Bagian 1)

0
238

bastanta 3

bastanta permana

Oleh: Bastanta P. Meliala

Sabtu [25/5] betepatan dengan Hari Raya Waisak Tahun 2557 (Saka), jadi dalam kalender merupakan hari merah(libur), sehingga kami memutuskan untuk melakukan kegiatan lintas alam sekalian survey untuk rute napak tilas ‘Sehna Berita Simeriah man Kalak Karo’.

Dari Medan kemacetan bukan main panjangnya.  Untuk sampai di Simpang Pasar Baru saja sudah Pkl. 11.25 wib. Dari Sp. Pasar Baru (11.30 wib), kami bergerak menuju Buluh Awar dengan mengendarai mobil dan sepeda motor melewati jalan licin, berbatu, terjal, dan sangat rawan longsor. Namun, semua terobati dengan suguhan udara dan air yang segar, keindahan alam, dan masyarakat yang kami temui yang ramah-ramah dan royal senyum. Sesampainya di Buluh Awar kami beristirahat sejenak sembari memeriksa kondisi kendaraan dan kemudian melanjutkan perjalanan dan beristirahat sambil makan siang di Maertelu (13.23 wib).

Dari Maertelu bergerak menuju Bukum (14.18 wib). Tiba di Bukum sudah pukul 14.45 wib. Sepertinya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan lagi. Kami mengurungkan niat dan menundanya hingga waktu di kemudian hari ditentukan.

Rabu (5 Juni 2013), hari yang disepakati. Kami memutuskan  bergerak dari Bandar Baru menuju Bukum menggunakan ojek sepeda motor untuk mempercepat gerak. Jadi, yang berangkat saya, bang Arnem Tarigan dan dua orang pemuda berdarah Nias sahabat bang Arnem. Dari Bandarbaru hingga ke Maertelu jalanan cukup bagus dan tidak ada masalah. Namun, memasuki Simpang Tiga menuju Bukum, kerusakan jalan mulai terlihat. Semakin mendekati Bukum, jalan semakin parah. Jalan berbatu-batu, licin dan tajam, tergenang air yang mengalir deras, longsor, dan kadang terdapat genangan air dan kubangan yang cukup tebal dan dalam. Sungguh suatu pemamdangan yang sangat memilukan. 

Kebetulan, dari tiga sepeda motor yang berarakan tumpangan saya di baris paling belakang. Tiba-tiba saat melewati PLTA yang diperuntukkan bagi Desa Bukum, ojek yang saya tumpangi bannya bocor. Perjalanan harus dihentikan dan situkang ojek memutuskan kembali memperbaiki ban sepeda motornya. Saya harus menunggu di jalan. Menunggu sejenak tidak ada juga kendaraan yang lewat. Menunggu adalah sebuah pekerjaan yang membosankan. Saya memutuskan melanjutkan perjalanan sembari menunggu mungkin nanti ada kendaraan yang lewat.

Sekitar 500 meter berjalan, akhirnya saya mendengar suara kendaraan yang semakin lama semakin mendekat. Sayapun memperlambat langkah. Apalagi memang sudah mulai lelah berjalan sambil menenteng tas yang lumayan berat dengan jalan yang menanjak, tergolong sangat rusak parah. Namun, ada keanehan pada kendaraan (mobil) yang mendekat itu. Saat saya menoleh ke belakang, kendaraan itu tiba-tiba berhenti (sekitar 30 meter dari saya). Kemudian saat saya melanjutkan perjalanan kendaraan itu juga kembali bergerak dan saat kembai saya menoleh ke belekang seketika kendaraan itu juga berhenti.

Aneh! Saya tidak mau ambil pusing dan kembali terus berjalan dan kendaraan itu-pun kembali berjalan di belakang saya. Saat melewati persimpangan tiga (Sp. Selangge-langge) saya sudah keletihan dan berat rasanya kaki ini untuk dilangkahkan maka saya putuskan berhenti sejenak dan saat saya berirtirahan dengan perlahan kendaraan yang ditumpangi dua orang (sepertinya suami – istri) itu semakin mendekat. Saat sudah sangat dekat, saya mencoba memberhentikannya dengan memberi kode dan meminta tumpangan dengan berkata:

Numpang, Pak, seh ku Bukum.”

Pandangan tajam tidak bersahabat dari kedua orang di atas kendaraan itu. Mereka cuma diam dan berlalu dari saya. Tinggalah saya sendiri di tengah hutan di sepanjang jalan menuju Bukum. Rasa letih bercampur sedikit jengkel.

Dalam hati saya berkata: “Ikh.. Sok naring kalak Bukum e. Sitik pe la lit bersahabatna. Tek kel aku kalak Karo ras kalak Kristen oh… Bage kepe genduari kalak Karo ras kalak Kristen e, me. Sitik pe lanai lit rasa saling menolongna.”

(Bersambung)

Leave a Reply