Kisah Sedih Menuju Bukum (Bagian 2)

0
175

bastanta 2

bastanta permana

Oleh: Bastanta P. Meliala

Sedikit tenang dan tenaga saya juga sudah mulai pulih. Saya lanjut berjalan.

Jujur saja, seram dan takut sendirian di hutan. Tak henti-hentinya saya berdoa dalam hati, mana teman-teman juga tak kunjung datang. Hehehe… Namun pemandangan, udara segar, dan suara gemuruh air sedikit membuat saya merasa nyaman dan terhibur.

Tiba-tiba terdengar oleh saya suara anak-anak yang berjalan semakin dekat dari arah berlawanan dengan langkah saya. Dari kejauhan saya melihat anak-anak berpakaian putih – merah (seragam SD) berjalan semakin mendekat. Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya.

“Ke mana, bang?”

Ku Bukum, dek! Ndauh denga kin Bukum e?”

Ndauh denga, bang!”

 Sambungnya lagi dengan pertanyaan: “Ja nari kin kam e ras erkai atendu ku Bukum?”

Jawab saya datar sembari menarik nafas panjang (maklum sudah keletihan):

“Aku Medan nari, dek!” Menghela nafas, lalu: “Labo erkai pe, dalin-dalin saja.”

“Piga nomor rumahndu, bang?” tanyanya lagi.

Anak lain diantara mereka bertanya dengan nada malu-malu kepadanya sambil curi-curi pandang ke arah saya.

Man kadem kin e nungkun nomor rumah bang oh?”

Ikh. Perlu, nak! Mana tau ku Medan kari aku, mapak, me banci kudarami abang e?” dengan nada yang sangat meyakinkan dilanjut dengan tertawaan.

Mereka pun semua tertawa mendengar jawaban yang dilontarkan sahabat mereka. Saya ikut tertawa kecil, lalu kata saya kepadanya: “No. 71, dek. Uai. Reh saja kam yah.”

Rombongan anak-anak SD itupun melanjutkan perjalanan dengan kegirangan. Begitu juga dengan saya. Rasa kesal dan letih sedikit terobati melihat semangat anak-anak SD ini yang harus berjalan melewati rute yang menurut saya cukup berbahaya bagi anak-anak untuk bisa bersekolah.

bastanta 1Perjalanan berlanjut. Nafas saya sudah mulai berat, namun saya tidak mau dikalahkan oleh rasa letih karena sedikit lagi (100 meter) tujuan saya akan sampai. Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor dari depan saya dan ternyata teman satu rombongan saya dari Bandar Baru yang sengaja menjemput karena merasa sudah cukup lama menunggu saya.

Sesampainya di Bukum, kami berhenti di sebuah kedai di depan SD Bukum. Istirahat sambil menunggu Pak Barus yang nantinya akan menjadi pemandu kami selama melintasi hutan-hutan dan sungai sepanjang Bukum hingga Simpang Lau Debuk-debuk di Desa Doulu, Kabupaten Karo.

Sekitar 3 menit duduk di kedai itu, kendaraan yang tadinya tidak mau saya tumpangi berhenti tepat di depannya. Sepertinya mereka mengenal saya dan tak henti-henti menatap ke arah saya. Saya cuek saja dan menganggap tidak pernah melihat mereka. Tak hentinya kedua orang itu menatap ke arah saya. Keakraban dalam pembicaraan kami di kedai itu sepertinya memumbuhkan tanda tanya dalam hati mereka ‘siapa orang ini?’

Rasa penasaran dan sedikit bercampur rasa bersalah dan malu tampak dari raut wajah mereka. Setidaknya itu yang saya baca dari mimik wajah mereka.

Saat Pak Barus tiba, kami memulai petualangan yang cukup mendebarkan dan meletihkan yang mungkin akan saya ceritakan nanti di waktu yang berbeda. Sebelum berlalu dari Bukum saya sempatkan tersenyum lebar kepada kedua orang tadi.

(Tammat)

Leave a Reply