Kolom M.U. Ginting (Swedia): Cultural Values and Norms

1
289

M.U. GintingCultural values and norms berbeda bagi tiap etnis/kultur, ada Karo, ada Batak, ada Jawa dsb. Ke mana kita berafiliasi adalah merupakan kebutuhan sosial manusia. Pertanyaan “berafiliasi ke kultur mana”, adalah kebutuhan hidup. Kebutuhan ini tak bisa dipenuhi oleh kultur lain selain kultur sendiri.

Dalam era globalisasi lebih ditekankan lagi oleh Erik Lane dalam bukunya “Globalization and Politics: Promises and Dangers” menulis:

“The focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.”

Atau seperti juga dikatakan oleh professor sejarah Muller:

“Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first century.” (Jerry Z. Muller is Professor of History at the Catholic University of America).

Semua kesimpulan dan pernyataan di atas tidak bertentangan dengan filsafat hidup Karo sikuningen radu megersing siagengen radu mbiring. Malah sangat kompatibel dengan perkembangan dunia dalam pengertian internasional win win solution. Ini artinya, bagi orang Karo atau kultur Karo yang mengutamakan afiliasi kekaroannya sebagai dasar titik tolaknya, memperjuangkan keadilan (daerah atau nasional) sudah sesuai dengan perkembangan situasi dunia sekarang.

Kerja tahun Dokan 1989 (Foto: Beatriz van der Goes)
Kerja tahun Dokan 1989 (Foto: Beatriz van der Goes). Click foto untuk ukuran besar

Dalam percakapan kita di milis biasa juga kita sering bilang dari daerah ke nasional. Jargon politik lainnya seperti pelestarian budaya dan kultur, kearifan lokal, dll. Karo sudah bertekad akan selalu berusaha membikin ini semua dalam kenyataan. Ini memungkinkan karena, terutama oleh the way of Karo thinking dan filsafat hidupnya serta dialektikanya sesuai dengan 3 arus besar arah perkembangan dunia (EQ, Demokrasi, Leadership).

Soal 3 arus besar ini lihat di http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/893 atau http://karobukanbatak.wordpress.com/2011/03/13/100-tahun-karo-sinik/

Redaksi menambahkan sebuah clip di bawah ini untuk mengiringi perenungan pembaca atas tulisan ini (clip ini merupakan contoh bagaimana Karo memiliki identitasnya sendiri yang tak bisa disama-samakan dengan apa yang dikatakan rumpun Batak apalagi kebudayaan Batak).

1 COMMENT

  1. Lagu dan musiknya sangat cocok dengan nada dan tujuan tulisan ‘cultural values and norms’. Waktu saya masih kecil belobat dan keteng-keteng umumnya dimainkan oleh orang-orang tua. Sekarang anak-anak muda juga tak mau kalah. Sangat menyentuh bagi saya.
    Kebutuhan kerinduan afiliasi kekaroan enda ndai sangat terpenuhi, oleh anak-anak muda Karo!
    Kebutuhan kemanusiaan seperti ini hanya bisa dipenuhi oleh seni dan kultur Karo.
    Salut dan simpati man anak-anak mudanta.
    MUG

Leave a Reply