Budaya dan Lingkungan: Apa Pentingnya Gerakan ‘Karo Bukan Batak’?

2
259
Pelataran Gunung Sinabung terlihat dari Tigapancur (Foto: Ita Apulian Tarigan). click foto untuk ukuran besar.
Pelataran Gunung Sinabung terlihat dari Tigapancur (Foto: Ita Apulian Tarigan). click foto untuk ukuran besar.

steven amor 3.Oleh: Steven Amor Tarigan (Medan)

Siapakah yang tidak mencintai lingkungan bersih dan nyaman? Manusia secara turun temurun bergantung pada alam semesta. Peradaban manusia telah melihat dan belajar serta mewariskan kepada generasi penerus tentang hubungan timbal balik antara manusia dengan alam semesta. Tatanan kehidupan manusia pada masanya telah terbentuk dengan baik. Secara bijaksana, para pemikir masa lalu menyusun aturan, tata krama atau norma dalam sebuah komunitasnya agar dengan arif dan bijaksana para anggota komunitasnya berpedoman pada alam semesta.


Sebagai contoh, di dalam adat sebuah suku yang dikenal dengan tanah ulayat. Para pemimpin adat mengambil peranan penting untuk mengatur bagaimana masyarakat adat mengkonsumsi hasil alam. Seperti yang pernah kita dengar bersama di suatu daerah dikenal dengan HUTAN KERAMAT. Pertanyaannya kenapa dibuat seperti itu? Jawabannya, sesuai dengan persepsi logis masing-masing kita.

Adat istiadat mengatur hubungan bermasyarakat, hubungan dengan alam semesta, hubungan dengan sang pencipta (bisa dilihat pada aturan suku-suku yang ada di dunia). Perkembangan zaman membawa manusia menggunakan kepintarannya untuk menguasai peradaban. Ketamakan pribadi membawa misi untuk menguasai dunia agar memenuhi hasrat pribadi. Sehingga banyak kepentingan dengan mencari celah untuk merusak peradaban sebuah suku karena memiliki potensi yang sangat menguntungkan secara materi.

RUMAH ADAT ITU BEGITU NYAMAN (Foto: Ita Apulina Tarigan), Click foto untuk ukuran besar
RUMAH ADAT ITU BEGITU NYAMAN (Foto: Ita Apulina Tarigan), Click foto untuk ukuran besar

VOC datang ke Indonesia dan menguras isi alam semesta sebisa mereka selama 3.5 abad. Bukanlah orang atau persekutuan yang tolol sehingga bisa selama itu hinggap di Indonesia? Banyak taktik, banyak cara yang dilakukan. Mulai dari menghancurkan tatanan hidup yang sudah ada (adat istiadat), hingga saat ini warisan watak yang seperti itu masih kita rasakan. Masyarakat kita terlalu lama terbuai oleh evoria-evoria yang sengaja diciptakan agar lupa dengan sejarah. 

Hedonisme dijejalkan kepada kaum muda dengan dalih kebersamaan, persatuan dan gaul. Apa motivasi di balik itu? Tanpa kita sadari, kita sudah kalah, dan sudah terbukti walau masih ada beberapa orang coba menyamarkannya demi melancarkan aksinya.

Cepat atau lambat, budaya luhur itu akan musnah. Ketika pola pikir, pemahaman kita tidak dirubah. Sedikit menyinggung KBB, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, sepuluh tahun ini Orang Karo begitu gencar mengatakan KARO BUKAN BATAK? Dan sebenarnya tidak perlu dipertanyakan, karena orang yang cinta Karo sudah tahu jawabnya walau tidak banyak yang mengungkapkannya secara langsung.

Saya tidak punya bukti kuat untuk melihat kontaminasi budaya pendatang kepada budaya lokal. Daerah Pakphak dan Simalungun, merupakan salah satu contoh kecil daerah yang kini adat asli mulai luntur. Generasi muda mulai alpa tentang sejarah moyangnya di sana, jika kita menjadi mereka sedih rasanya menjadi penonton di tanah leluhur.

Taneh Karo Simalem, menjadi target selanjutnya. Banyak tanah ulayat yang hilang dan menjadi milik pribadi atau korporasi, kenapa bisa terjadi? Tatanan budaya yang ada sudah luntur, disebabkan oleh apa? Tanpa kita sadari ada gerakan internal (tanpa disadari ikut membantu untuk menghilangkan kearifan lokal), gerakan eksternal orang-orang yang ingin menguasai wilayah Taneh Karo Simalem.

Sikodon-kodon, hutan negara yang merupakan tanah ulayat Orang Karo telah beralih fungsi yang dikuasai oleh TSR. Dampak nyata dengan dibabatnya hutan tersebut, dengan menyusutnya air di Danau Toba. Sibolangit dengan bumi perkemahannya, yang menyimpan pesona alam jika dimaterilkan akan menghasilkan rupiah yang banyak. Bandar Baru ke arah Timur di bawahnya terdapat kandungan emas tapi masih muda (info dari Pusat Geologi Bandung). Tidak diekplorasi karena masih ada halangan dari penduduk setempat dan pemerintah pusat karena mengakibatkan kerusakan alam.

Nah, jika kita cermati dengan seksama, banyak faktor atau cara untuk menghilangkan kearifan budaya lokal agar dapat menguasai itu semua. Oleh karena itu budaya lokal sangat memiliki peranan penting dalam mengatur hubungan dengan alam semesta dan sesama. Pengkaburan sejarah budaya setempat adalah cara termudah untuk menguasainya dan telah dibuktikan oleh Rusia dalam menguasai Ceko dengan menghancurkan budaya dan ingatam sejarah mereka.

Ulasan saya di atas mungkin teramat melek, namun cepat atau lambat akan terjadi. Lihat saja siapa yang menentang KBB, apapun statement yang teman-teman utarakan selalu saja ada jawabannya.

SANGAR SENI SIRULO BENTENG BUDAYA KARO (Foto: Alex Ginting)
SANGAR SENI SIRULO BENTENG BUDAYA KARO (Foto: Alex Ginting)

Akhir kata, apa yang terjadi dengan lingkungan, alam semesta ini jika tidak ada budaya lokal? Mari kita merenungkannya, dan pelan-pelan kita meluruskan sejarah yang telah melenceng. Kalau tidak sekarang, persaudaraan kita akan punah dengan kontroversial yang diciptakan untuk memecah belah budaya lokal.

Redaksi menyertakan clip di bawah ini mengiringi perenungan pembaca dengan harapan hasil renungan yang mendalam dan dengan visi jauh ke depan.

2 COMMENTS

  1. Sangat menarik dan mendalam ulasan SAT tentang hubungan erat lingkungan dengan adat, tanah ulayat, kearifan lokal, dengan gerakan (pencerahan) KBB yang semakin meluas keseluruh pedesaan Karo, nasional dan internasional.

    MUG

  2. Karo bukan Batak, Karo adalah Karo, Karo bukan Toba. Hapus saja kata Batak kembali ke jatidiri semula : Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, Mandailing.

Leave a Reply