Sebuah Jembatan di Kecamatan Namorambe Terancam Ambruk

0
225
imanuel 67
Bergeser. Tampak salah satu penyangga jembatan telah bergeser akibat fondasi penyangga terkikis air (Foto: Imanuel Sitepu).

IMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Sebuah jembatan yang menghubungkan sejumlah desa ke ibu kota Kecamatan,  tepatnya di Desa Salangtungir (Kecamatan Namorambe) terancam ambruk. Satu dari dua penyangga beton sebagai menahan badan jembatan bergeser akibat terkikis air.


Ali (40) salah satu warga yang melintas di jembatan kepada Sora Sirulo mengatakan di lokasi [Rabu 19/6], jembatan peyeberangan di atas sungai Lau Petani, persisnya di Galian C milik CV Nitra itu, pernah ambruk pada tahun 2012 silam. 

“Dulu, jembatan ini pernah ambruk sampai terputus, setahun lalu. Namun kemudian diperbaiki oleh Dinas PU Unit Jalan dan Jembatan Pemkab Deliserdang,” kata Ali.

Ali menambahkan, penyangga jembatan tersebut bergeser akibat terkikis air karena pihak Dinas PU Deliserdang tidak profesional saat membangun jembatan.

“Manalah yang abang lihat bangunan Dinas PU Deliserdang yang bagus, bang. Semua asal-asalan saja, termasuk pengerjaan tambal sulam yang mereka kerjakan saat ini untuk menambal jalan-jalan  yang berlobang. Begitu ditempel, seminggu kemudian kembali lagi berlobang. Gak heranlah, bang, kalau beton penyangga itu bisa bergeser,” beber Ali.

Lain halnya dikatakan Bistok Simorangkir (53). Menurut pria berperawakan kurus yang mengaku kerap memancing di sekitar lokasi jembatan, dampak dari bergesernya penyangga jembatan akibat penambangan Galian C secara liar yang semakin tidak terkendali di sekitar jembatan.

“Semua alur sungai di sini habis dirusak untuk diambil materialnya. Bahkan di beberapa titik, alur sungai telah dipersempit oleh pelaku penambangan liar. Sehingga berdampak buruk pada kondisi jembatan,” katanya.

Sayangnya, kata Simorangkir, pihak terkait yakni Camat Namorambe, tidak pernah melakukan penertiban terutama Galian C liar yang ada di bagian hulu jembatan yang jumlahnya makin bertabur.

“Padahal, jembatan itu sangat vital, sebab dilalui setidaknya 10 desa. Kalau jembatan itu sampai putus, maka sangat memberatkan masyarakat menuju ibu kota Kecamatan Namorambe. Warga harus memutar ke jalan lain melalui Kecamatan Biru-biru dengan jarak tempuh yang cukup jauh,” pungkasnya.

“Nah kalau sudah begini, pasti tidak ada lagi yang mau bertanggungawab. Sementara, masyarakat sangat membutuhkan jembatan ini sebagai jalan alternatif menuju Kecamatan Namorambe. Bila ini dibiarkan, sangat dikhawatirkan akan mengambil korban jiwa.” katanya lagi.

Camat Namorambe drs. Hendra Wijaya ketika hendak dikonfirmasi Sora Sirulo [Rabu 19/6] di kantornya, tidak ada di tempat. Menurut salah satu pegawai, Camat sedang keluar kantor.

Leave a Reply