Kolom M.U. Ginting (Swedia): Penjepangan dan Penegasan Karo Suku Mandiri

0
154

M.U. GintingUsulan untuk mengadakan seminar dan menerbitkan bukunya sangat bisa diterima dan aktual. Ini sudah merupakan kebutuhan mendesak agar jangan sampai nasib Karo sempat seperti nasib 2 etnis yang disebutkan oleh Steven Amor Tarigan di Sorasirulo.com:

“… Daerah Pakpak dan Simalungun, merupakan salah satu contoh kecil daerah yang kini adat asli mulai luntur. Generasi muda mulai alpa tentang sejarah moyangnya di sana, jika kita menjadi mereka sedih rasanya menjadi penonton di tanah leluhur …” http://www.sorasirulo.com/berita/2013/06/19/budaya-dan-lingkungan-apa-pentingnya-gerakan-karo-bukan-batak/

Pengaruh negatif yang sangat intensif istilah ‘Batak’ dalam “Batak Simalungun” dan “Batak Pakpak” yaitu membikin orang Simalungun dan Pakpak kehilangan spirit untuk menangkis persaingan etnis yang sangat mematikan (secara kultur) dari pihak orang yang mengaku dirinya orang Batak dan diakui dunia sebagai Batak. Kultur dan daerahnya berangsur tapi pasti akan hilang. Bukti-bukti ke arah itu seperti disinyalir oleh Steven Amor Tarigan dan juga semua kita bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tanpa gerakan intensif antisipasi fenomena ini, dalam tempo 2-3 dekade ke depan, dua etnis/kultur ini sudah tak tertolong lagi dari kepunahannya.

Bangsa kita masih ingat ketika Jepang datang ke Indonesia. Orang Jepang bikin taktik dan strategi yang sama: ‘Kita sama-sama orang Asia Timur Raya’ katanya. Kalau sudah ‘sama-sama’ maka tak perlu lagi bersaing, apalagi melawan. Pen’Jepang’an orang Indonesia, sangat berbahaya karena bermaksud akan melanggengkan penjajahan Jepang.

Orang Karo sangat bernasib baik, secara dini sudah menyedari gejala yang berakibat sangat fatal ini bagi survival kultur, budaya Karo dan keutuhan daerahnya dengan menciptakan dan menghidupkan gerakan pencerahan global KARO BUKAN BATAK. Rakyat awam Karo, anak-anak muda, intelektualnya maupun di kalangan akademisinya, sudah semakin banyak yang ikut dalam gerakan pencerahan KBB.

muginting 1KBB sangat tepat dan tepat waktu untuk menangkis ‘pembatakan’ seperti juga ‘penjepangan’ pada masa kolonial Jepang. Contoh ‘pembatakan’ dua suku di atas (Simalungun dan Pakpak), dan sudah hampir sempurna penyelesaiannya (sudah hampir punah). Pelajaran sangat berharga bagi orang Karo menjaga dan mempertahankan kelanjutan kultur budayanya dan keutuhan daerahnya.

KBB telah berhasil dalam tingkat tertentu membawa kesedaran persaingan (ethnic competition) jadi lebih tinggi, lebih dinamis, dan juga memberikan pencerahan yang luar biasa pentingnya bagi orang-orang di luar Karo, secara nasional maupun internasional

Karo culture, values and norms masih menjadi kebutuhan hidup yang teramat penting bagi setiap orang Karo. Dan masih begitu di pedesaan, di perkotaan, nasional maupun internasional. Dan kita akan selalu masih kembali ke situ. Karo tak mungkin kembali ke values and norms kultur lain, karena bukan kebutuhan hidup bagi seorang Karo.

Dalam Karo Culture and norms, Filsafat hidupnya, Way of thinkingnya, Dialektikanya, dengan dasar perjuangannya berlandaskan filsafat win win solution “sikuningen radu megersing siagengen radu mbiring” dan yang kesemuanya kompatibel dengan perkembangan dunia dan perkembangan kemanusiaan, pastilah akan menghasilkan KEADILAN DAN KEBAHAGIAAN bagi seluruh dunia dan seluruh kemanusiaan. Karena itu KBB bukan hanya untuk Karo tapi yang terpenting ialah  untuk perjuangan KEADILAN SEMESTA. Orang Karo memulainya dari Karo dan Daerahnya.

Leave a Reply