Seperti Tengger, Ini Persoalan Jati Diri Karo Sebagai Suku Berdiri Sendiri

1
308

endi bastantaOleh: Endi Bastanta Sinuraya

Saya setuju sama pendapat yang mengatakan secara persepsi umum maupun internasional yang dikenal adalah Batak, bukan Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, Mandailing maupun Angkola. Sama halnya seperti suku Tengger yang hidup di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur. Saya yang tak kenal sama sekali budaya mereka akan mengatakan bahwasanya mereka adalah orang Jawa karena saya, sebagai orang awam, melihat budayanya mirip dengan budaya suku Jawa. Tapi, mereka sendiri selalu mengatakan diri mereka orang Tengger tidak pernah sebagai orang Jawa.

Kerja tahun Dokan 1989 (Foto: Beatriz van der Goes)
Kerja tahun Dokan 1989 (Foto: Beatriz van der Goes)

Mereka bukan mengkerdilkan diri atau memecah belah persatuan bangsa Indonesia, melainkan mereka lebih menunjukkan bahwa mereka punya jati diri yaitu suku Tengger meskipun  kebudayaannya hampir sama dengan suku Jawa bagi penglihatan saya.

Begitu juga halnya dengan Karo yang ingin menunjukkan jati dirinya sebagai suku Karo tanpa embel-embel Batak. Saya tidak anti terhadap Batak. Sebaliknya, saya malahan bangga dengan budaya Batak sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. Tapi, saya tetap tidak setuju bila Karo diberi label Batak apalagi dianggap sebagai sub suku bangsa Batak.

Perjuman Talinkuta, Karo (Foto: Yanta Surbakti)
Perjuman Talinkuta, Karo (Foto: Yanta Surbakti)

Alasan saya berkata begitu sederhana saja. Orang Karo selalu menyebut tanahnya dengan Taneh Karo Simalem dan tidak pernah dengan Taneh Batak Karo Simalem apalagi Tano Batak. Berbeda dengan orang Batak yang dalam hal ini Toba. Mereka menyebut Tano Batak. Jelas sekali siapa yang mengaku sebagai Batak dan siapa yang bukan. Jelas juga siapa yang merasa merindukan pulang ke Tano Batak dan siapa yang merindukan pulang ke Taneh Karo.

Tidak ada maksud menciptakan suasana permusuhan atau memecah belah persatuan bangsa. Ini adalah perihal jati diri sebagai suku yang berdiri sendiri dan bukan bagian dari suku manapun juga.

Boleh saja persepsi umum maupun pakar Antropologi atau Linguistik menyatakan Karo bagian Batak tapi semua asumsi ilmiah tetap dapat direduksi menjadi “dugaan sementara”. Sampai kapanpun teori dapat direduksi menjadi dugaan sementara karena teori-teori ilmih tetap berkembang. Berbeda dengan masalah jati diri suku bangsa, adalah kelompok itu sendiri yang menentukan. Aneh sekali kalau ada orang-orang yang bukan Karo ngotot dan bahkan marah-marah kalau kita mengatakan Karo Bukan Batak. Saya sebagai orang Karo tak perlu diatur oleh orang dari suku lain bagaimana saya bersikap tentang suku saya.

Berikut redaksi mempersembahkan sebuah clip dari sebuah latihan Sanggar Seni Sirulo yang mulai mengangkat kembali ciri-ciri khas dari seni musik dan olah vokal tradisional Karo.

1 COMMENT

  1. “teori” dan “jati diri”, dua persoalan berbeda. Yang pertama bisa berubah, tetapi yang kedua “adalah kelompok itu sendiri yang menentukan. Aneh sekali kalau ada orang-orang yang bukan Karo ngotot dan bahkan marah-marah kalau kita mengatakan Karo Bukan Batak.”

    Ini perumusan dan pernyataan yang sangat jitu dan tepat sasaran. Artikel ini bagus disebarluaskan terutama dikalangan GBKP.

    Bujur Endi Bastanta Sinuraya.

    MUG

Leave a Reply