Tolé Mamana: Diolah Ulang dari Senandung Karo Riwayat Pelangi

3
240

ita-13.jpgOleh: Ita Apulina Tarigan

Panen begitu indahnya di tahun ini. Angin semilir meniup buli-bulir padi. Wayaaahhh….e wayaaahhhh…….terdengar bersahut-sahutan suara mereka yang berjaga di ladang mengusir burung-burung nakal. Sekejap mereka berhamburan terbang ketika tali yang dikendalikan dari pantar bergemerisik riuh. Hanya sesaat. Burung-burung nakal datang lebih banyak riuh mencumbui bulir padi. Bersahutan dengan teriakan penjaga dan gemerincing. Seperti musik harmonis mengalun sepanjang hari terang.

ita 17

Lelaki bermata gelap dan dalam termenung di pantar. Sesekali tangannya menyentak tali pengusir, sekalipun tidak terdengar suaranya. Gundah menahan beban di hati, apalagi ditambah kenangan bermain di bola mata. Burung pua pemakan padi tak terlihat lagi olehnya, tangannya hanya menarik sekenanya. Perempuan berambut ombak berbalut kain indigo terus menggodanya. Sesekali teringat bagaimana gadis itu mencuri pandang dari sudut matanya, kemudian menundukkan wajah malu-malu.

Beberapa hari lalu mereka makan bersama di rumah ijuk. Tangan gadis itu gemetar menyodorkan lauk, teman nasinya. Sekalipun dia tidak menengadahkan wajah. Lelaki itu merasakan debaran keras di dadanya. Jauh sudah dia berjalan, belum sekalipun ada perempuan yang membuatnya tergetar begitu hebatnya. Tidak juga menduga di kampungnya ada perempuan semenarik ini.

Empat hari sudah berlalu, dia tidak melihat perempuan itu. Ughh Dadanya serasa ditumbuk batu mengenangkan kerlingan mata, dada yang bersinar dan lengan yang gemulai. Tudung gelap di kepala, malah membingkai wajahnya semakin cerah. Sobekan daun nipah pembungkus tembakau berserakan di lantai pantar, menerobos jatuh ke tanah. Tak terkira sudah berapa linting isap nipah dihembusnya. Lapar perut tak dihiraukannya, ingin rasanya berlari pulang ke rumah ijuk dan mendapati perempuan itu. Ah, tapi dia tahu, itu tabu, pantang! Tapi, ahhh.

“Burung-burung pua keparat! Tidak tahu diri!” makinya gemas sambil menyentakkan  tali pengusir.

ita 16Ah, eh, Itu suara memanggilnya halus. Ya, suara itu dari bawah pantar.

“Mamaa Mamaa Nande memintaku mengantarkan makan siang. Ini aku datang. Aku ada di bawah.”

Suara itu begitu halus menggetarkan, kelu rasanya hendak menjawab. Senang dan takut dirasakannya menghantam dadanya. Perempuan itu, gadis itu.

“Mamaa Mamaa Nande memintaku mengantarkan makan siang. Ini aku datang. Aky ada di bawah.”

“Naiklah selangkah di atas anak tangga, bawalah ke atas, Mama makan di sini saja.”

“Oh, tidaklah elok dipandang orang. Aku ada di sini. Aku sudah selangkah, Mama, ambillah makan siang ini.”

“Naiklah selangkah lagi, bawalah ke atas. Mama makan di sini.”

“Oh, jangan begitu, Mama. Tidaklah elok dipandang orang, aku ada di sini. Sudah dua langkah, Mama, ambillah makan siang ini.”

“Naiklah selangkah lagi, bawalah ke atas. Mama makan di sini.”

“Oh, tidak baik begini, Mama. Tidaklah elok dipandang orang aku ada di sini. Sudah separuh tangga aku tingkah Mama, ambillah makan siang ini.”

“Naiklah, bawalah ke atas. Mama makan di sini.”

Perempuan itu tiba atas pantar, dadanya naik turun, tangannya membawa bungkusan. Tidak kuasa matanya menatap lelaki bermata tajam di depannya. Terlarut dalam pusaran mata tajam, perempuan itu memasuki pantar, gemetar tangannya menyodorkan bungkusan makan siang. Tangan lelaki itu menggenggamnya, menuntunnya duduk. Pantar yang sempit membuatnya merasakan dengusan nafas si lelaki di wajah dan lehernya.

“Mari, siapkanlah pencuci tangan. Kita makan bersama.”

“Tidak, Mama. Tidak lazim engkau dan aku berdua di tempat ini.”

“Mari, kita makan bersama.”

Di pinggan yang satu, tangan mereka bertemu. Meraih nasi dalam jemari dan membawanya ke mulut. Tak bersuara mereka mengunyah dan menghabiskan makanan. Tanpa kata-kata.

“Mari, makan telah usai. Saatnya kita berbaring.”

“Tidak, Mama. Tidak lazim engkau dan aku berdua di tempat ini.”

“Mari, berbaringlah di sebelahku. Selimut ini cukup untukmu dan untukku.”

“Tidak, Mama. Tidak lazim engkau dan aku berdua di tempat ini.”

“Lama sekali aku merindukanmu, tak berhenti berharap engkau ada di sisiku. Harinya tiba juga. Ya, di hari ini. Indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan.”

Lelaki itu membelai rambut perempuan yang jatuh di dadanya. Mereka terhempas lelah setelah pergulatan yang  panjang. Usai sudah pacuan nafas mereka, berganti dengan desahan lembut, tenang.

Matahari terang benderang, petang masih jauh. Angin sedikit kencang. Mereka terus bercinta. Beru Tole tidak ingat pulang, tidak ingat Nande dan Bapa yang menunggunya di rumah. Lelaki itu telah merubah dunianya. Lelaki itulah dunianya. Sampai Beru Tole mengandung dan melahirkan anaknya. Tangisan anaknya kencang membelah cakrawala.

ita 18
Penampilan Tera (Teater Rakyat) SIRULO

“Toleee Toleee Dimana kam, anakku? Aku, Bapamu, adikmu dan kakakmu mencarimu.”

Beru Tole mendengar suara ibunya berduka memanggilnya. Air matanya menitik sambil memangku bayinya.

“Toleee Toleee Di mana kam, Anakku? Aku, Bapamu, adikmu dan kakamu mencarimu.”

Nande, aku di atas, jangan mencariku lagi. Katakan pada Bapa, katakana pada adik, katakan pada kaka aku sudah bahagia di sini.”

“Tole, tidak lazim engkau dan Mamamu ada di atas situ. Pulanglah Anakku. Aku, Bapamu, adikmu dan kakamu mencarimu.”

Nande, sebelumnya aku katakan padamu, jangan menyuruhku ke pantar ini, tetapi Nande tidak mau mendengarku. Sekarang, aku sudah di sini tidak bisa pulang lagi.”

“Tole, aku mendengar suara tangisan bayi, bayi siapakah itu di atas?”

“Nande, itu suara anak kucing Mama.”

“Tole, ini, ini, ada darah menetes dari atas pantar, darah apakah ini, Anakku?”

“Nande, telah lahir anak kucing Mama.”

“Tole, tidak lazim engkau satu tubuh dengan Mamamu, Pulanglah Anakku. Aku, Bapamu, adikmu dan kakamu mencarimu.”

“Nande, sebelumnya aku katakan padamu, jangan menyuruhku ke pantar ini, tetapi Nande tidak mau mendengarku. Sekarang, aku sudah di sini tidak bisa pulang lagi.”

Nande menangis meraung-raung,, menangisi anak perempuannya, menangisi saudara lelakinya. Menangisi takdir mereka. Jembatan pertemuan dengan anaknya putus sudah, jalan perhubungan dengan saudara lelakinya patah. Raungannya semakin keras, mengguntur, berdebam. Menangisi takdir, menangisi kesalahan.

Nande, takdir sudah membawa aku dan Mama di jalan ini. Biarkan kami menciptakan dunia kami. Hari ini, tiada lagi jalan kita bertemu, demikian juga engkau dengan Mama. Sampai kapanpun cucumu tidak akan pernah engkau lihat.”

“Apakah alam dan takdir tidak memberikan padaku jalan lain, untuk melihatmu bertiga?”

“Saatnya sudah tiba, selamat tinggal Nande. Mejuah-juah kami yang berangkat, mejuah-juah kam yang tinggal. Jika rindu pada kami, seusai hujan kami akan melukiskan pelangi untukmu. Warna-warni itulah kami, pelangi dari kami untukmu.

Senja makin turun. Selimut jingga menutupi daun-daun, silaunya mengaburkan pandangan. Lolongan perih Nande tidak kuasa menahan selimut malam. Hilanglah sudah anaknya si beru Tole, saudara lelakinya, Mama anaknya dan cucunya.

Sejak hari itu, kemaraupun tiba. Sungguh lama sekali mereka menanti turunnya hujan. Nande dan Bapa selalu menunggu hujan, menunggu hujan usai dan berharap pelangi membusur di ujung cakrawala.

3 COMMENTS

Leave a Reply