Perbandingan Aksara Jawa — Bali dengan Aksara Batak — Karo

4
432

endi bastantaOleh: Endi Bastanta Sinuraya (Yogyakarta)

Menanggapi komen Pak ZS yang menyuguhkan fakta bahwa “Aksara Pustaka Batak ‘Simalingkartop’ (Sima = Simalumgun, Ling = Mandailing, Kar = Karo, To = Toba dan P = Pak-pak) yang telah disyahkan melalui Kepres No:116/B/1987, tertanggal 16/09/1987. Dengan dasar Kepres ini beliau menyatakan bahwa Karo adalah bagian dari Batak. Untuk menanggapi komentar bapak ini, saya mengambil analogi aksara Jawa dan Bali.

Saya teringat cerita senina saya yang pernah tinggal di Bali. Dia bilang, aksara Bali mirip dengan aksara jawa. Di Wikipedia jelas tertulis “Aksara Bali adalah aksara tradisional masyarakat Bali dan berkembang di Bali. Aksara Bali merupakan suatu abugida yang berpangkal pada huruf Pallawa. Aksara ini mirip dengan aksara Jawa. Perbedaannya terletak pada lekukan bentuk huruf”.

Aksara Bali mirip dengan aksara Jawa tapi orang Bali tidak pernah ditetapkan pemerintah sebagai bagian dari orang Jawa. Barpun aksara Bali dan Jawa mirip tapi belum pernah saya melihat, khususnya di Yogyajakarta ini, kakak kelas saya yang orang Bali dan orang Jawa saling mengerti jika mereka berbicara dengan mennggunakan bahasa mereka masing-masing. Sama halnya dengan orang Karo yang berbicara dengan orang Batak (yang menurut saya identik denga Toba) tidak akan saling mengerti jika berbicara dengan bahasanya masing-masing.

Averiana Barus saat nampil sebagai vokalis dan penari Sanggar Seni Sirulo (clik foto untuk ukuran besar). Lihat juga clip Averiana Barus di bawah (rekaman terbaru)
Averiana Barus saat nampil sebagai vokalis dan penari Sanggar Seni Sirulo (clik foto untuk ukuran besar). Lihat juga clip Averiana Barus di bawah (rekaman terbaru)

Jadi, kemiripan aksara tidak bisa dijadikan alasan mutlak suatu suku adalah bagian dari suku lain. Wajar saja pemerintah memasukkan Karo menjadi bagian dari Batak karna bersumber dari literatur peninggalan Belanda yang sebagian besar memasukkan Karo menjadi bagian dari Batak karena adanya kemiripan budaya. Sama halnya dengan hukum Perdata yang 100% merupakan peninggalan Belanda (kata temenku yang anak fakultas hukum).

Saya tidak anti Batak. Saya bangga dengan budaya Batak (menurut saya identik dengan Toba) sebagai bagian dari budaya bangsa. saya hanya tidak setuju dengan pelabelan Batak pada suku Karo.
Maaf, kata-kata ini berulang-ulang saya tuliskan agar semua orang paham maksud dan tujuan saya bukan untuk menciptakan permusuhan atau perpecahan tapi hanya sekedar meluruskan identitas saya sebagai suku Karo yang berdiri sendiri. Yang menentukan identitas orang Karo adalah orang Karo itu sendiri bukan pendapat dari orang lain bahkan dari antropolog dan ahli bahasa kelas dunia sekalipun.

4 COMMENTS

  1. Saya juga lebih nyaman mengatakan saya suku karo tanpa ditambah embel2 didepannya..tapi para karoness kita harus menyelesaikan akar masalah satu persatu, mulai dari hal hal kecil tapi dampaknya sangat besar, misalnya penamaan gereja karo GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) harus dirubah namanya, seolah olah kita sangat setuju kita bagian dari batak. Sebagai bahan pertimbangan kita bersama sama bujur ras mejuah juah kita kerina..

  2. terus berjuang mengembalikan jati diri suku karo,,
    suku karo adalah karo tidak ada revisi penambahan nama, yang kita ketahui adanya penambahan kata batak.
    confidence be a karo bukan yang lain,,
    setiap tindakan yang dilakukan tidak akan pernah sia-sia
    semuanya pasti akan membuahkan hasil, yaitu hasil yang baik.

  3. Karo Bukan Batak, dan sudah jelas…..
    dan seharusnya pun orang batak tidak usah ikut campur dengan urusan ini, kalaupun jadi nanti karo bukan batak kita tetap bersahabat ini cuma masalah jati diri, karo adalah karo tidak ada embel Batak

Leave a Reply