Ibadah dan Seminar Adat Permata Cipeng Klasis Jakben: ANAK TUHAN SI ME’ADAT

3
346
Erban Cimpa
Erban Cimpa

jhoni 4JHONI SINULINGGA. BOGOR. Untuk meningkatkan Kedewasaan Iman dan Budaya di tengah kemajuan jaman, Permata Runggun Pengumben dan Permata Runggun Ciledug Klasis Jakarta Banten bekerjasama  mengadakan Ibadah dan Seminar Adat pada tanggal 28 s/d 30 Juni 2013 di Pondok Lisa Cisarua (Bogor) dengan thema Anak Tuhan si Me’Adat. Acara ini diprakasai Heru Sitepu dan Srimenda Br Sinulingga; masing-masing ketua Permata Runggun Pengumben dan Ketua Permata Runggun Ciledug. Mereka didukung oleh pengurus Permata dan anggota masing-masing kedua runggun melalui pembentukan kepanitian untuk melaksanakan acara ini.

Menurut ketua Panitia Edi Kuhen Pinem, orang Karo memiliki warisan budaya yang banyak dan unik. Misalnya: Adat-istiadat, bahasa, musik, tarian, makanan dan pemandangan alam yang indah yang telah dianugrahkan oleh Tuhan.

“Sementara, pemuda Karo yang tinggal di perantauan sebagai penerus melestarikan bahasa Karo saja sudah tak bisa. Itulah sebabnya maka diadakan Ibadah dan Seminar Adat ini agar Permata selain beriman juga berbudaya,” kata Edi Kuhen.

Pdt. Ari Sinuhaji dalam hotbah pada pembukaan seminar ini mengatakan, Alkitab tidak menolak tradisi, tapi menentang tradisi yang dapat merusak iman dan menghilangkan kesetiaan kepada Tuhan.

“Kita seharusnya memelihara budaya kita yang tidak merusak iman dan hubungan kita dengan Allah, karena hidup dan kehidupan tidak bisa lepas dari tuntutan kebudayaan (1 Korintus 7 : 17-20),” papar pendeta ini.

Erban bulang-bulang
Erban bulang-bulang

Sesi selanjutnya yang disampaikan Pt. Em. Megiken Surbakti adalah tentang asal-usul orang Karo dan berapa banyak merga orang Karo yang dilanjutkan dengan cara berkenalan (Ertutur) orang Karo. Khusus acara ertutur ini, peserta mengikutinya dengan tekun antusias dengan banyak melayangkan pertanyaan.

Rupanya, selama ini, asal tidak satu merga dianggap boleh pacaran, misalnya antara Surbakti dengan Sinulingga. Setelah dijelaskan oleh nara sumber, mereka baru sadar mereka adalah bagian merga Karo-karo. Kalau serumpun tidak boleh kawin dalam adat.

“Kalau sekarang ada pacaran serumpun sebaiknya dihentikan karena sama seperti mengharapkan bengkau dari nurung mate bergehen (mengharapan lauk ikan yang mati kedinginan). Selanjutnya, nara sumber juga menjelaskan adat perkawinan orang Karo.

Sesi selanjutnya yang disampaikankan Pt. Nd. Melinda Sitepu adalah tentang makanan khas Karo, misalnya; Cimpa Onong-onong, Cimpa matah, Cimpa tuang, Cipera, Tasak telu dan Terites. Pada kesempatan itu, disampaikan bagaimana cara membuat cimpa matah dan cimpa tuang. Semua Permata kedua runggun ikut memeraktekkannya.

Sesi berikutnya yang disampaikan oleh seorang Permata Runggun Kebayoran Lama yang mempunyai talenta luar biasa, Kornelius Ginting (Mburak). Menurut Kornelius, nenek moyang kita mempunya kreatifitas dan budaya yang kaya, misalnya peralatan dan asesoris saerta pakaian adat.

Pada kesempatan ini, Mburak memperaktekkan cara membuat bulang-bulang dan erkampuh buat pria dan cara membuat kadang-kadang dan tudung buat wanita sekaligus memperaktekkan bagai mana cara menari yang baik.

Sore hari ke dua, diadakan Outbond, Praise dan Wokship serta malam harinya sharing dan api unggun.

Erlajar Ertutur
Erlajar Ertutur

Pada hari Minggu, diadakan ibadah  Minggu yang dipimpin Pdt. Ransinius Situmorang STh. Dalam hotbahnya, Situmorang mengatakan orang Israel mempunyai tradisi adat yang kuat. Misalnya, kalau ada pesta perkawinan, harus ada anggur dan pesta itu dianggap sukses kalau anggurnya baik. Kita lihat pesta perkawinan di Kana yang dihadiri Tuhan Yesus, anggur sudah habis maka Tuhan Yesus merubah air jadi anggur agar pemilik pesta tidak malu.

Adat  orang Karo mestinya anak gadis kalau di rumah berpakaian sopan atau pakai abit (sarung). Selama ini, tidak demikian.

“Malah anak gadis duduk dengan bapaknya pakai celana pendek dan duduk ngangkang lagi sudah tidak beradat. Kalian sudah banyak belajar adat jadi anak TERANG mulai sekarang janganlah suka berpacaran di tempat gelap karena di sana banyak setan,” anjur pendeta ini.

Sesi terakhir adalah acara kesetiaan atau menyanyi dan menari bersama sesuai adat Karo yang diiringi gendang keyboard oleh Mukshin Tumangger dari Runggun Jakarta Pusat.

3 COMMENTS

  1. Perlu acara seperti ini diperluas terutama bagi anak-anak muda dan muda-mudi Karo. Sungguh benar, bahwa agama apa saja punya adat yang jelas, kultur dan budaya dari etnisnya. Disini budaya/kultur Karo, bukan budaya ‘Batak Karo’. Budaya Batak dan budaya Karo adalah dua budaya, keduanya berbeda tak mungkin dicampur adukkan jadi kacau atau jadi gado-gado. Budaya Karo bukan budaya gado-gado karena jelas definisinya.

    Dunia perlu penjelasan dan penegasan dua budaya ini. Tiap orang Karo dan organisasi Karo berkewajiban mencerahkan, karena diam saja sudah terbukti malah semakin digrogoti, karena dunia tidak mengerti kalau ada Karo dibelakang Batak.

    Taktik dan strategi ‘mundur selangkah’ selama Orba, sekarang sudah mulai berubah dengan maju dengan ‘dua langkah besar’. Pemuda dan mahasiswa, telah bikin pranan pelopor. begitu juga diantara intelektual dan akademisi Karo dan seniman-seniman Karo.

    Budaya ertutur, budaya kuliner, pakaian adat bukan ‘ulos batak’ sangat berguna diperkenalkan bagi anak-anak muda kita. Gule nurung Karo bukan arsik. Jangan dikaburkan.

    Bujur
    MUG

  2. Saya Mario Sanjaya dari Runggun GBKP Pengumben.

    Saya maau mengomentari : jangan berpacaran ditempat gelap, karena banyak setan.
    Menurut saya tempat terang pun ada setan, contohnya di rumah atau dihotel-hotel murah, kita hanya berdua dengan pacar kita, disitu kan pasti terang dan disitu jga pasti ada setan. Hehehehehe. . . Emang orang jaman dulu, pacaran ditempat gelap. Sudah banyak hotel dimana-mana yang murah, jadi bukan hanya pacaran ditempat GELAP saja yang ADA SETANnya, tempat terang pun ada.

    Terima kasih. . .

Leave a Reply