Kisah Putri Hijau

1
644

arapen sinuraya 1Dituturkan kembali oleh: Arapen Sinuraya

Sang Puteri terlahir bersama dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor Naga dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung. Setelah besar, Putri Hijau kemudian menikah, tetapi sang suami akhirnya tidak sanggup untuk mempertahankan mahligai rumah tangga, disebabkan hartanya terkuras habis untuk membeli makanan kepada iparnya Naga yang berupa ayam.

arapen sinuraya 3

Sang Putri akhirnya bercerai dengan suami. Lantaran harus menanggung malu menjadi seorang janda, akhirnya Putri Hijau pergi dari Seberaya menemui pamannya Menang Ginting Suka di Delitua dengan maksud ingin menenangkan diri.

Maksud untuk menenangkan diri, tetapi masalah besar justru kembali dihadapi Putri Hijau. Kecantikan Sang Puteri yang menyebar ke segala penjuru. Suatu ketika, mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim, tapi justru pinangan ini ditolak yang membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Raja Aceh merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.

Karena sudah ada kabar akan diserang pasukan Raja Aceh, maka Kerajaan Haru Delitua akhirnya mempersiapkan pertahanan dengan menanam buluh duri. Tempat itu sekarang dinamakan dengan buluh duri, sebab di sana pertahanan itu tidak berhasil ditembus oleh pasukan Aceh.

Pasukan Aceh akhirnya merubah taktik. Mereka kemudian mengganti peluru. Bila sebelumnya mereka mempergunakan peluru yang terbuat dari tembaga, maka saat itu sudah digantikan dengan perak dan emas. Peluru-peluru ini kemudian diletakkan di dekat pertahanan Aru.

arapen sinuraya 2
Sisa-sisa Benteng Kerajaan Haru Delitua saat ini (Foto: Ita Apulina Tarigan)

Pasukan Aru akhirnya lengah karena saling berebut peluru emas dan perak. Mereka juga menebang semua pohon bambu untuk mendapatkan emas dan perak yang lebih banyak. Ketika datang serangan mendadak dari pasukan Aceh, tidak terelakkan lagi, berujung pada kekalahan pasukan Haru. Adapun tempat pertempuran yang mengakibatkan kekalahan bagi Pasukan Haru atas Pasukan Aceh saat ini dikenal dengan Amparen Pirak (Hamparan Perak).

Tinggallah Meriam dan Naga untuk mengelakkan pasukan Aceh. Karena kebanyakan menembak, akhirnya Meriam pecah. Sebagian pecahannya sampai di Sukanalu Simbelang (Kabupaten Karo) saat ini. Pecahan lainnya tinggal di Tanah Deli.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan lagi, akhirnya sang Naga juga pergi meninggalkan tempat itu. Dia menuju dasar laut. Tapi, sebelum itu, dia sempat berjanji kepada Putri Hijau, bahwa suatu saat kelak dia akan datang menolong Sang Putri. Dengan demikian, maka ketika Putri Hijau akan dibawah ke Tanah Aceh dengan menggunakan kapal, datanglah Sang Naga menghancurkan kapal tersebut sampai karam. Semua isi kapal tenggelam, termasuk juga Putri Hijau yang ada di dalamnya.

Catatan dari Redaksi:

Ilustrasi keadaan Benteng Putri Hijau (Kerajaan Haru Delitua) saat ini oleh pelukis Belanda Marjolijn Groustra yang sekaligus ilustrator Tabloid SORA SIRULO
Ilustrasi keadaan Benteng Putri Hijau (Kerajaan Haru Delitua) saat ini oleh pelukis Belanda Marjolijn Groustra yang sekaligus ilustrator Tabloid SORA SIRULO

Selama ini Haru atau Aru diyakini masyarakat Karo sebagai asal usul kata “Karo”. Dengan keyakinan tersebut telah menimbulkan berbagai pendapat yang mengatakan masyarakat Aru adalah masyarakat Karo dan didirikan oleh Menang Ginting Suka, yaitu seorang Karo yang mendirikan Kerajaan Aru di Delitua yang telah mendapatkan gelar sebagai Sultan Makmum Al-Rasyid.

Menang Ginting Suka dalam berbagai tulisan selama ini dikenal sebagai suami dari Putri Hijau, tetapi kenyataanya, menurut cerita yang dikisahkan oleh seorang penggiat sejarah Karo bernama Arapen Sinuraya justru berbeda dari biasanya. Menurutnya Menang Ginting Suka bukanlah suami dari Putri Hijau, tetapi paman dari Putri Hijau.

Brandy Karo Sekali

1 COMMENT

  1. Cerita yang menarik ditambah ilustrasi gambar yang menarik dari Sora Sirulo. Moral cerita yang bisa dipetik adalah waspada dengan umpan (iming-iming/janji) harta benda dan kedudukan yang bisa “membutakan’ mata kita shg tidak lagi bisa melihat tujuan dan sasaran sesungguhnya.

Leave a Reply