4 Gadis Karo (Sarjana) Budidayakan Jamur Tiram di Berastagi

2
263
iwan tarigan x
Jamur Tiram Putih yang baru dikembangkan di Berastagi oleh 4 gadis dari tiga latar belakang pendidikan berbeda, dipanen di dalam Kumbung (rumah produksi), di kawasan perladangan Gg. Becek Jl. Udara Ujung (Berastagi)

iwan tariganIWAN TARIGAN. BERASTAGI. Berastagi sebagai salah satu  daerah  tujuan wisata andalan  Kabupaten Karo yang selama ini dikenal dengan hasil produk segar hortikulturnya,  kini  punya oleh-oleh baru  untuk  buah tangan wisatawan.  Kota kecil yang diapit dua gunung berapi  aktif  ini mulai memproduksi Jamur Tiram Putih.

Tumbuhan yang dalam  istilah latin disebut  Pleorutus Ostreatus ini dikembangbiakan oleh 4 gadis dari 3 latar belakang pendidikan berbeda. Berkat kerjasama dan kegigihan yang ulet. produksi tumbuhan yang identik dengan warna putih ini berhasil dilakukan di dalam rumah- rumah pemeliharaan atau dalam istilah pertaniannya lajim dinamakan Kumbung, di atas tanah berukuran 13X 8 meter.

Usaha budi daya Jamur Tiram Putih yang  baru berlangsung selama sebulan ini (sejak Juni 2013). Sesuai keterangan Kristiani, ditemani 3 temannya Destina, Arnita dan Rahayu, mereka sudah mampu  memproduksi 50 kg jamur  per hari. Meskipun  dominan masih dalam tahap penjualan  lokal, mereka bertekad menembus pasaran luar daerah.

Kepada Sora Sirulo, di kawasan perladangan Gg. Becek Jl. Udara Ujung (Berastagi), keempatnya mengaku mengawali kegiatan ini berdasarakan persahabatan, ditopang modal usaha dari orangtua. Beberapa diantaranya baru selesai kuliah.

 “Dengan teman-teman, kami mencoba merealisasikan ilmu yang diperoleh selama ini,” ujar Kristiani

Diuraikannya lebih lanjut, pemasaran yang terbatas dikarenakan produksi yang masih baru (belum dikenal) membuat mereka belum berani membuat pembiakan dalam skala besar. Saat ini,  keempatnya hanya mengembangkan Jamur Tiram Putih di dalam 3.000an Bag Log (media tanam/pot) dengan harga Rp 25 ribu per kemasan 2  ons bungkusan plastik jamur siap dimasak.

Hasil budidaya tanaman organik ini sesuai penuturan Kristiani,  tidak perlu diragukan. Jamur Tiram Putih yang diproduksi merupakan hasil pembiakan bibit yang  didatangkan dari Kota Medan. Oleh karenannya, tidak ada kemungkinan peluang adanya percampuran tumbuh dengan jamur lainnya yang di kalangan umum sehingga bisa menyebabkan indikasi keracunan makanan.

“Dari bentuknya, juga kami sudah paham mana jamur yang beracun dan mana yang tidak. Ini produksi untuk konsumsi masyarakat luas. Harus selektif dan higienis. Ini murni seluruhnya Jamur Tiram Putih. Jangan sangsi untuk memakannya. Untuk pesanan silahkan hubungi  0858-3381-9985,”  ujar Rahayu menambahkan sambil tersenyum manis.

Kristiani Natassa Br  Ginting dan Sri Rahayu Br Sebayang (alumni Pertanian USU), Destina Br Sinukaban (alumni UPI Bandung), serta Arnita Milka Gloria STh menyatakan siap bekerjasama dengan segenap pihak dalam kerangka memajukan pembiakan serta pemasaran Jamur Tiram Putih.  Keoptimisan ini dilontarkan karena hasil produksi yang  dihasilkan  sesuai standard, yakni jamur berdiameter 7- 10 cm..


2 COMMENTS

  1. Benar-benar keren, sarjana yang berani berwirausaha. Apalagi ada yg sarjana pertanian memang “benar-benar bertani”, orang tuanya jg mendukung. Pola pikirnya udah beda (maju), tidak lagi menganggap orang kantoran aja yang keren.

Leave a Reply