Uyup-uyup Durame (Musik Tiup dari Mandailing)

2
361

edi nasution 1Oleh: Edi Nasution

edi nasutionMANYABI (memanen padi) di kampungku dulu adalah suatu “peristiwa besar” dan menggembirakan. Bagaimana tidak, kami sekeluarga beserta para paman (Udak), abang dari ayah (Tuak), saudara se-marga (Kahanggi), Anakboru (penerima gadis), dan juga Mora (pemberi gadis) kami bersama-sama memanen padi di sawah kami. Di lain waktu, kami pun turut serta memanen padi di sawah Udak, Tuak, Kahanggi, Anakboru, dan Mora kami. Kegiatan bersama memanen padi ini disebut Manyaraya.

Pagi hari sebelum turun beramai-ramai ke sawah, kami semua lebih dulu makan bersama dengan penganan yang disebut Bubur Cacak. Siang harinya, setelah lelah menuai padi, lalu kami pun makan siang bersama-sama dengan lauk-pauk yang khas pula. Biasanya tersedia ayam gulai dengan kentang, gule bulung gadung, bolgang torung, dan tidak ketinggalan Lasiak Tuktuk. Woowww … sedapnya kawan !! Makan bersama keluarga besar di tengah-tengah sawah di dekat Sopo Saba.

Suasana tambah semarak dan meriah manakala ada seorang lelaki dewasa mengambil sepotong batang puput padi (Durame) untuk dijadikannya alat musik tiup, yang dililit dengan helai-helai daun pohon kelapa membentuk kerucut (Pokak) untuk memperbesar volume suaranya. Ketika ditiup dengan teknik dan pola melodi tertentu, bunyi musik yang terdengar begitu bersemangat dan riang gembira. Adakalanya, dari areal sawah lain terdengar pula bunyi musik yang dihasilkan dari alat musik yang sama. Entah bagaimana caranya, mereka yang memainkan alat musik (Uyup-uyup) itu kedengaran seperti bersahut-sahutan dan indah sekali mengalun di telinga kita.

Dari apa yang didengar, dimana Uyup-uyup ini dimainkan dengan tempo Andante, dan irama yang merangkum “unit-unit waktu” kelihatannya mempunyai panjang atau jarak yang sama (isometris), serta memiliki tendensi pengulangan dari pola ritem yang sarna (isoritem).

Namun kita akan mengalami kesulitan ketika melakukan analisis ”sistem tonal” terhadap melodi, juga gaya ritmik, yang dihasilkan Uyup-uyup ini dengan memakai metode yang diciptakan oleh “orang Barat”. Khusus mengenai nada yang dihasilkan dengan memakai metode “tempered twelve tones”, dimana kita sering menemukan “nada-nada yang tidak selaras” dengan sistem kromatis tersebut. Nada-nada yang tidak selaras yang dihasilkan uyup-uyup ini bukanlah suatu kesalahan atau kekeliruan karena konsep “nada standard” akan berbeda secara kultural bagi setiap kelompok etnik di dunia. Bahkan “orang Barat” sendiri yang menciptakan “sistem kromatis atau dua belas nada” ini tidak akan pernah dapat dengan persis menyanyikan nada-nada kromatis sesuai dengan ukurannya.

edi nasution 2Upaya kita untuk menentukan nada-nada yang dihasilkan lewat Uyup-uyup ini, pertama sekali adalah dengan cara mendengarkan suara yang paling rendah. Dan oleh karena “kantur melodis” permainan Uyup-uyup bersifat “ascending” (naik), sehingga memudahkan untuk menentukan nada “root” dan nada lainnya. Dengan alat bantu sebuah guitar (sementara dianggap sebagai monokord) dan menentukan “nada pertama” sebagai “nada dasar” yang dimisalkan pula sebagai nada “C”, maka nada-nada yang dihasilkan adalah “C – Db – D – Eb”, di mana wilayah nada berada dalam “satu oktaf”, dan nada-nada yang telah berurutan sekaligus sebagai ”tangga nada” (modus) yang dihasilkan untaian melodi Uyup-uyup dengan satu suara. Sementara gaya melodis mempunyai motif yang kecil (leitmotivic) dan cenderung diulang-ulang (ostinato), serta “improvisasi” dilakukan dengan pengembangan variasi. Selanjutnya interval yang dipakai adalah sekunde minor dan mayor, dan melodi mempunyai pola kadensi “C–Db” yang diulang-ulang pula.

Tapi sayangnya, kini tidak pernah lagi terdengar alunan bunyi musik Uyup-uyup itu ketika Manyabi, dan tradisi Marsialap Ari (gotong royong) untuk memanen padi pun tidak lagi menjadi kebisaan para petani sawah di Mandailing. (*)

2 COMMENTS

  1. Tradisi marsialapari diMandailing setelah memanen sawah sudah jrang dilakukanbahkan tidak lagi dilakukan di Mandailing karena pola tanam padi dengan dahulu sudah berbeda dengan sekarang dulu pola tanam dilakukan 1 x dalam setahun sekarang sudah 2x dalam setahun jadi nampaknya sudah semakin sibuk dan bibit padipun yang ditanam sudah banyak yang instan maksudnya adalah padi yang umurnya pendek bahkan ada yang umurnya sampai 100 hari saja aka itupula jarang ditemukan burung bersarang pada rumpun padi disawah disamping itu pola pikir masyarakatnya sudah banyak yang berobah ke sifat materialistik dan sudah jarang orang yang suka menolong saudaranya yang kesusahan.

Leave a Reply