Keunikan Pembeda untuk Blog dan Media Sosial Karo

4
385

Oleh: Robinson G. Munthe (Jakarta)

robinson g. muntheBeberapa hari lalu, saya berbincang-bincang dengan seorang pria pegawai eksekutif sebuah TV nasional. Katanya padaku: “Di tempat kami bekerja ada beberapa orang Batak.” Langsung saja aku menyampaikan pesan KBB (Karo Bukan Batak, red.) kepadanya. Kataku: “Pak, tolong sampaikan kepada reporter dan redaktur bapak agar, ketika memberitakan sesuatu tentang Karo atau Batak, memperhatikan penggunaan istilah-istilah yang masing-masing berbeda diantara keduanya. Karo itu beda dengan Batak”.

robinson munthe 5
Pakaian adat Karo yang memperlihat sepasang pemimpin kelompok kerja muda-mudi di ladang saat memberikan persembahan hasil-hasil pertanian kepada tamu-tamu terhormat dalam sebuah acara muda-mudi (aron)

Setengah heran dia bertanya mengenai perbedaan-perbedaan diantara Karo dan Batak. Secara sabar saya menjelaskannya. Di akhir pertemuan, dia meminta nama-nama blog untuk mencari tahu lebih lanjut tentang KBB. Dalam hati saya berpikir : “Seorang ekskutif senior, etnik Jawa,  berpendidikan tinggi, berusia sekitar 50 tahun dan berprofesi di bidang jurnalistik menyangka bahwa Karo itu ya Batak.”

Saya membayangkan bahwa kerja KBB ini memang membutuhkan jiwa penggempur dan menggunakan segala cara yang memungkinkan untuk mensosialisasikannya. Saya teringat tipikal petinju pound to pound dari Manny Pacquiao atau petarung Anderson Silva yang secara gigih dan cerdik menyelesaikan setiap pertarungannya. Begitupun aktivis KBB ini dengan kepelbagaiannya, ada jalan yang mudah dilalui ada pula yang sukar.

Keunikan atau eye catching bisa jadi akan mempermudah orang lain untuk tertarik memahami KBB. Contohnya, melalui logo (head page) blog-blog atau group-proup di media sosial yang mencirikan keunikan yang dimiliki Karo. Saya mencatat 3 keunikan yang menonjol yang penting untuk disosialisasikan ke masyarakat yang secara langsung bisa “menjadi pembeda” dengan suku-suku lain, yakni kata “Mejuah-juah“, “Rumah Adat/ Jambur/ Lumbung/ Geriten” dan “Pasangan dengan pakaian adat Karo/Rose”.

Kata “Mejuah-juah” adalah pembeda utama  yang seharusnya dimuat pada Judul/Logo tiap komunitas Karo di media sosial. Lalu, salah satu rumah adat Karo/ jambur/ lumbung/ geriten dengan sudut pengambilan (pemotretan) yang tepat, sehingga dengan jelas misalnya membedakan dengan rumah Minang/ Toraja/ Batak/ Simalungun/ Pakpak, dll. Kemudian adalah gambar pasangan (pengantin) Karo dengan pakaian adat lengkap (rose). Berkali-kali majalah dengan sirkulasi nasional memuat foto pengantin dengan pakaian adat Karo mendapat pujian.

imanuel-22.jpg
Gunung (berapi) Sinabung yang terdapat di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) (Foto: Imanuel Sitepu)

Ketiga keunikan di atas bisa didisain (tentu yang ahli) secara terpadu sekaligus,  sehingga bagi siapapun yang ingin mengetahui tentang KBB atau Karo langsung “menangkap” perbedaannya dengan suku-suku lain melalui halaman utama blog tersebut.

Kita mengenal Papua melalui “pakaian dan kotekanya”, Minang dengan keunikan “rumah adatnya”, Bali dengan “pura”, Batak dengan “rumah bolon”, Dayak dengan “topi bulu burung”, dan lain-lain. Nah, Karo dengan 3 keunikan utama di atas bila secara terpadu/ serempak disosialisasikan tentulah akan memudahkan orang lain menangkap “Karo yang berbeda dari yang lain”.

Beberapa blog saya perhatikan ada kemajuan dalam menampilkan KBB melalui klip-klip istilah Karo yang membedakan dengan Batak, tapi ada juga dengan tampilan yang terlalu umum. Misalnya foto “gunung/ deleng” tanpa keterangan pembeda. Bagi orang di luar Karo itu “gak nendang”, karena itu bisa saja Gunung Semeru, Gunung Batur, Gunung Merapi atau Dolok Martimbang.

Namanya deleng (Sibayak, Sinabung, Sibuaten) ya tetap bagus, tapi keunikannya sebagai pembeda kurang tajam di benak orang di luar Karo. Mari menajamkan arah gerakan KBB yang “dipasarkan” (marketing) melalui keunikan Karo yang utama.

4 COMMENTS

  1. Mejuah-juah!

    Selamat Datang Di Negeri Turang

    Foto Rumah Adat Karo

    Foto Pengantin Karo

    Foto/logo Promosi pengusaha atau perusahaan tertentu (tidak hanya perusahaan Karo)

    Aksi dari pihak KBB yang sangat bisa menghindari biaya besar dalam rangka mempopulerkan tiga keunikan Karo diatas.

    .
    MUG

  2. Setuju ide senina LG. Banci imulai kitik2 i rumah-rumah tangga ntahpe perpulungen merga2. Labo melala dana untuk sienda.

  3. Kalau begitu perlu adanya pembuatan stiker dengan ukuran pas bisa ditempel di truk, bus, angkot. Stiker berupa gambar Rumah adat Karo/ Geriten dan gambar pengantin Karo rose lengkap dibawahnya tertulis kata ” MEJUAHJUAH “

    • Setuju sekali, tapi kalau buat stiker kan perlu dana dan dananya dari mana? kalau panitia pelaksana belum terbentuk,kalau sekarang kita menggalang dana mana ada orang percaya takut duitnya di kemanain. salam Mejuah-juah KBB

Leave a Reply