Kolom M.U. Ginting (Swedia): LINGKUNGAN

0
185

M.U. GintingBeberapa hari lalu, sambil menunggu penerbangan ke Milano dan terkantuk-kantuk karena harus menunggu beberapa jam, sempat memperhatikan beberapa kejadian menarik di depan mata.

Sepasang suami istri dengan bayi sekitar 2-3 bulan berada tidak jauh dari bangku saya. Si bapak membuka bungkusan barang baru yang kemudian saya tahu ternyata sepasang alat penggendong bayi. Kemas punya kemas, yang tak perlu kemudian disingkirkan, lalu sang ayah memasang penggendong itu di dadanya, siap menaruh bayinya di situ. Bayi diangkat oleh ibunya dan ditaruh di gendongan yang sudah dipasang di dada sang ayah. Entah karena merasa tidak aman atau tidak suka, sang bayi sepertinya menolak kehendak orangtuanya. Bayinya seperti lengket di dada ayahnya sambil pegang erat kaus ayahnya tak mau lepas.

“Ah, bayi ini belum percaya pada perkembangan tehnik gendongan yang terakhir,” bisikku dalam hati.

Di bangku depan saya, seseorang (ibu?) tertidur. Ah, ini kan bulan puasa, mungkin capek pikirku. Keluarga ini akan pulang kampung ke salah satu negeri Islam di Timur Tengah. Ibunya (neneknya?) duduk di sampingya sambil meneliti isi tas bepergian mereka. Saya perhatikan beberapa kain dan mainan anak-anak yang di Swedia sudah tak mungkin dipakai. Tapi nenek ini pasti mengingat cucunya yang lain, yang masih tinggal di kampung dan membawa barang-barang itu untuk mereka. Wah, wah . . . berapa besarnya jasa nenek ini terhadap kemanusiaan generasi masa mendatang pikirku. Dia tidak hanya bikin kegembiraan bagi anak-cucunya di kampung, tapi juga sepenuh hati menjaga lingkungan dengan menghindari pemborosan.

Tiba-tiba saya mendengar suara gemuruh. Ketika menoleh ke belakang, terlihat sekeluarga orang China (turis dari China) sedang berlari-lari menarik koper-kopernya karena terburu-buru. Mata saya terpaku pada koper-koper mereka karena tak menyangka dan juga tak biasa melihat yang begini. Satu kopernya dibungkus dengan kain agak tebal (tapi pasti murahan) dan koper satunya dibungkus dengan plastik biasa.

Sebatang pohon di Cagar Alam Sibolangit (Foto: Ita Apulina Tarigan)

Saya masih bertanya dalam hati, apakah kopernya dibungkus karena terlalu mahal dan takut rusak atau karena terlalu murah. Tapi pikir punya pikir saya kemudian memutuskan bukan karena terlalu mahal atau terlalu murah, tapi kebiasan orang China yang tak mau merusak atau boros dengan membiarkan koper itu tak dibungkus. Mengapa harus diganti kalau masih lama bisa dipakai? Soal penghematan memang orang China tak lawan. Kadang saya bertanya dalam hati, bukankah orang-orang biasa seperti ini sebenarnya yang patut disebut pahlawan lingkungan?

Ketika tiba di Milano, di lapangan terbang, dijemput oleh seorang supir dari hotel. Saya tak menyangka sama sekali bisa ada pembicaraan dengan pak supir. Di luar dugaan.

“Kami orang Italia ingin bikin kereta api langsung ke Perancis tapi orang-orang Trotsky tak menginginkan dan rencana itu gagal,” katanya.

Apakah ini betul atau tidak saya juga belum sempat memeriksanya. Dalam hati saya, di Italia partai komunisnya terkenal kuat dan orang ini paling benci sama orang Trotsky. Tapi, apakah pak supir ini orang komunis Italia atau tidak, tak sempat juga saya ketahui.

Keheranan saya selanjutnya adalah ketika dikasih uang kopi karena mengangkut kami dari lapangan terbang, pak supir ini menolak dengan tegas. Ini tidak biasa di Italia atau di Eropah Barat umumnya.

Ketika masuk di katedral terbesar di Milano, terheran-heran juga bagaimana megahnya Milano Italia zaman lalu. Walaupun sekarang katedral itu sudah tak berfungsi lagi sebagai gereja/ katederal, tetapi masih banyak juga yang berkungjung dan sembahyang sendiri di situ. Saya sempat memasang sepasang lilin untuk Bunda Maria dan anak tunggalnya Jesus Kristus, disediakan pada altar tersendiri.

Sering dengar gondola, saya mencoba mencarinya di Venesia. Panas terik mentari di Venesia memaksa kita untuk naik gondola karena agak teduh berkayuh di lorong-lorong gedung-gedung tinggi tak kena matahari.

Sejuk, pikirku. Tapi kesejukan itu sangat terganggu oleh bau tak segar dari air kanal-kanal jalan gondola-gondola ini. Di tempat-tempat tertentu baunya sangat busuk dan saya harus tutup hidung.

“Tapi, ya, saya sendirilah tadi yang mau ke sini,” pikirku tanpa penyesalan.

Leave a Reply