Menjualkan Karo

1
211
Penampilan TARTAR BINTANG di Tongtong Fair, Den Haag (Nederland)
Penampilan TARTAR BINTANG di Tongtong Fair, Den Haag (Nederland)

robinson g. muntheOleh: Robinson G. Munthe (Jakarta)

Suku Karo harus memiliki kepercayaan diri guna menampakkan diri ke khalayak ramai. Kepercayaan diri ini harus dibangun dari  individu-individu Karo yang berprestasi di berbagai bidang.

Berprestasi yang dimaksud tidak harus yang besar-besar dan hebat-hebat seperti yang dibayangkan. Dari yang tidak bisa menyanyi Mbiring Manggis menjadi bisa. Dari yang tidak bisa berpidato di depan umum menjadi bisa. Itu juga prestasi. Yang terutama adalah kemauan dan keberanian untuk berbagi kepada teman. Tak akan ada yang menganggap remeh atau sebaliknya dianggap menyombongkan diri apabila yang dibagi adalah kenyataan dan disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat.

Kita tidak akan pede “mempromosikan” Karo pada orang lain apabila kita tidak memiliki kepercayaan diri dan keyakinan yang kuat akan prestasi-prestasi yang telah dibuat generasi Karo yang dulu, kini maupun mendatang. Seperti menjual barang, kita tidak akan bisa menjual dengan baik dan meyakinkan orang kalau kita tidak tahu dan yakin akan kualitas barang dagangan kita.

Tarian Karo yang sangat lain dengan suku-suku tetangganya
Tarian Karo yang sangat lain dengan suku-suku tetangganya, ditampilkan di Paladium Mall, Medan, oleh Sanggar Seni Sirulo

Mengerti kualitasnya tidak berarti tidak paham atau mengabaikan kelemahan-kelemahan barang yang kita jual. Kita tidak harus merasa sempurna dulu baru kita berani menjual.

Begitupun Karo, kita harus paham keunggulan  dan kelemahannya, terutama melalui individu-individunya. Namun, yang namanya menjual, tentu yang kita sampaikan adalah keunggulan-keunggulannya sambil kita terima dan perbaiki kelemahan-kelemahannya.

Apa sih yang sempurna? Saya sangat yakin, kalau kita berpikiran positif pada Karo maka buahnya pun akan positif. Saya kadang sedih sekaligus jengkel melihat masih banyak orang Karo di luaran sana merendahkan Karo dan meninggikan yang lain tanpa studi yang dalam dan seimbang.

Saya mikir, ini orang kok keyakinan dan kepercayaan dirinya parah? Saya meyakini bahwa aktivis KBB (Karo Bukan Batak, red.) bukanlah orang yang gegabah, sok tahu, gagah-gagahan membela dan memberi pencerahan atas Karo tanpa memikirkan sisi-sisi lemah dari etnis Karo. Aktivis KBB pun paham bahwa suku Karo bukanlah suku sempurna, namun kelemahan tidaklah menghalangi mereka untuk mencintai, membela dan mempromosikan Karo karena itulah pilihan terbaik, sekiranya pun pilihan lain ada.

1 COMMENT

  1. Dari kenyataan didepan mata:

    Gerakan KBB (Karo Bukan Batak) saat ini ditentang oleh semua orang Batak, bisa dikatakan 100 %. ‘Oneness’ Batak terlihat jelas.

    Dikalangan Karo terjadi proses, mulanya sangat banyak menentang dan pandang enteng terhadap KBB. Tetapi KBB seperti juga politik ‘pembatakan’ adalah fenomena sejarah yang satu menggantikan yang lain. Proses ini berjalan menurut proses thesis-antitesis-syntesis. Dan tak meragukan mana yang akan menggantikan mana, seperti dalam semua proses dialektika umumnya.

    Diantara orang Karo yang menentang (mempertahankan status quo tesis lama pembatakan, ada juga yang memang aslinya orang Batak yang telah ‘mengkaro’, karena itu tak perlu heran atau buang energi untuk meyakinkan mereka ini, harus dimaklumu saja. Penjelasan selalu perlu tapi bukan ditujukan pada mereka ini, tapi terutama bagi orang diluar Karo maupun diluar Batak.

    Diantara orang Karo sendiri ada yang masih melekat mendalam pengaruh politik pembatakan itu, mereka banyak dapat pujian dari orang-orang Batak dan bahkan disanjung sebagai ‘kalimbubu’. Taktik sanjung ini sangat biasa dikalangan orang Batak, bikin apa saja asalkan politiknya jalan. Karena itu mereka ini dapat dua kenikmatan, satu dari orang Batak dan lainnya juga mereka secara diam-diam menikmati ‘syornya’ kepopuleran Karo karena perjuangan KBB.

    MUG

Leave a Reply