Batak dan Bantal Guling di Angan Belanda

2
285

edi sembiring 2

edi embiringOleh: Edi Sembiring (Jakarta)

Apa itu gelaran sinyo dan noni? Jawabnya mereka adalah keturunan perkawinan Belanda dan pribumi Hindia Belanda. Mereka manusia kelas Dua. Ada yang sempat menjadi kaum partikelir, punya segudang nyai dan budak-budak. Istilah bantal guling pun lahir karena mereka datang tanpa membawa istri. Bantal guling (Dutch wife dalam bahasa Inggris, Red.) tak pernah ada kala mereka hidup di Dataran Eropah.

Ketika Belanda kalah dan pulang ke negerinya, mereka seperti kaum yang gamang. Kaki seakan berpijak di dua tempat; Belanda dan indonesia. Keturunan mereka sekarang coba bernostalgia dengan nasi goreng, lagu Rasa Sayange, keroncong di Tong-tong Fair (Pasar Malam Besar di Den Haag), foto-foto lama kakek dan neneknya.

Batak? Sejarah kabur yang ditinggalkan oleh pelabelan Eropah dan pelaut yang datang kala pesisir Sumatera menjadi daerah rampokan.

Kini? Kata “Batak” dan bantal guling peninggalan goresan perjalanan mereka. Persamaannya, kata “Batak” dan guling adalah realitas mimpi buatan mereka. “Batak” dan guling menyatukan “birahi” mereka. “Batak” dan guling adalah warga Kelas Dua. Ya, ketika guling tak lagi mampu memendam birahi, nyai-nyai menggantikannya dan lahirlah sinyo dan noni.

Ketika suku merdeka yang mereka sebut Karo tak dapat ditundukkan, mereka menjebaknya dengan label “Batak.” Agar mereka menjadi kaum berbeda dengan Melayu yang mau berkolaborasi.

Lahirlah istilah “keturunan Batak” tak jauh beda dengan keturunan sinyo dan noni. Berpijak di dua tempat, Belanda dan Hindia Belanda. Sama hal dengan mereka yang mengaku Batak dan Karo sekaligus. Sinyo dan Noni tak lagi menemukan tempat bernama Hindia Belanda. “Keturunan Batak” tak menemukan apa itu arti Batak, bahasa (ibu) Batak.

Batak dan guling adalah cara bermimpi untuk memudahkan angan-angan. Itu sebab lebih mudah bermimpi dan berpintar-pintar menafsirkannya dari pada keras untuk menjadi diri sendiri dalam kesadaran identitas. Batak hanya ada di ranjang Hindia Belanda. Dan kini menjadi mimpi di siang bolong.

2 COMMENTS

  1. Ariko kena siterusken ngerana soal Bukan Batak enda (KBB)

    “Ketika suku merdeka yang mereka sebut Karo tak dapat ditundukkan, mereka menjebaknya dengan label “Batak.” Agar mereka menjadi kaum berbeda dengan Melayu yang mau berkolaborasi.”

    Pengaruh pembatakan enda mbages denga, melala denga siakapna tabehen ngaku Batak cari ‘zona aman’ atau comfort zone.
    The comfort zone is a behavioural state within which a person operates in an anxiety-neutral condition, using a limited set of behaviours to deliver a steady level of performance, usually without a sense of risk (White 2009, A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management”).

    A person’s personality can be described by his or her comfort zones. A comfort zone is a type of mental conditioning that causes a person to create and operate mental boundaries. Such boundaries create an unfounded sense of security. Pemakai zona aman membatasi dirinya secara mental, tetapi selalu penuh dengan kegelisahan, karena dia sendiri mengetahui secara pasti sebab-sebabnya mengapa dia membangun zona aman dalam dirinya. Mereka ini biasanya berada dibawah dominasi total pegaruh Batak, politis atau kekeluargaan. Pengaruh dominasi pikiran ini membikin mereka mengatakan bahwa gerakan KBB adalah pekerjaan sia-sia saja, ‘sukuisme’ dsb.

    Karena kontradiksi dalam pikirannya diselesaikan dengan ‘confort zone’, maka ini hanyalah penyelesaian sementara dan tak stabil, perubahan akan selalu menanti. Semakin deras arus KBB semakin berkurang tekanan dominasi Batak atau tekanan psikologis atas pikiran dan perasaan orang-orang ini, dan semakin muncul pikiran meninggalkan confort zone.

    “Seh pagi paksana turah ka nge ukur teman-temannta e guna engkelengi ras bangga kerna Karo” (Edi Suranta Ginting, milis infokaro), payo kuakap.

    Bujur
    MUG

  2. hehehehee…
    Memang alam mimpi jauh lebih nikmat ketimbang realita…

    Sama halnya jika kita bertanya: Mana lebih enak hidup di zaman Orde Baru dibanding sekarang? Maka kebanyakan orang akan menjawab: Zaman Orde Baru, dengan mengabaikan segala perubahan positif yang telah terjadi saat ini.

    Makana pas kel kita enda #Sang Pemimpi

Leave a Reply