Veteran dan Generasi Muda: Patah Tumbuh Hilang Berganti?

0
230

Oleh: Steven Amor Tarigan (Medan)

steven amor 3.Siang kemarin [Kamis 15/8], aku mendampingi Biring Uda (Janda Perintis Kemerdekaan) di halaman Rumah Dinas Gubsu. Kurang lebih 300 orang veteran dan 4 orang Janda Perintis Kemerdekaan, walau tampak tua dan berjalan tertatih-tatih, tetap hadir dengan tongkat yang disandang. Di barisan ke dua pada sebuah meja bundar ada seorang nenek menyapaku dalam bahasa Karo  dengan wajah berseri: “Tegu Biringndu ena ku lebe nakku, lanai ia ngasup erdalan.” Setelah mengantar ke depan dan kembali lagi, aku duduk di dekat nenek Ribu itu. Di sebelahnya juga duduk Bulang Tarigan Sibero dari Keriahen, mantan anggota Pasukan Halilintar (Kilap Sumagan). Bulang ini tampak sudah tua namun pendengarannya sangat tajam walau suara sound system yang bising.

steven amor 12
Foto: Rudy Pinem

Saat Gubsu berpidato menyinggung tempat pengibaran bendera Merah Putih dan pembacaan Teks Proklamasi bulan September 1945 di Lapangan Merdeka yang kini tak tampak seperti tempat bersejarah karena ditutupi oleh tempat jajanan Merdeka Walk. Masih kata Gubsu, tempat itu akan ditata kembali seperti permintaan Legiun Veteran setelah masa kontraknya (MoU) habis pada Tahun 2021.

Aku berkata dalam hati: “Apakah para Veteran ini akan menyaksikan dan menikmatinya saat itu?”

Di tengah-tengah pidato Gubsu berlangsung, Bulang menggerutu: “Labo tuhu sikatakenna e. Enggo latih kita erjuang mbarenda, e saja pe pemindon la banci berekenna tupung kami erkesah denga.”

Sangat tegas dan jujur ungkapannya namun apa lacur itulah yang terjadi. Sejarah tinggal kenangan masa lalu yang akan termakan oleh gerusan zaman yang dinikmati oleh kaum muda.

Pada sesi berikutnya, Pkl. 13.00 wib, dibuka dengan makan bersama. Empat meja prasmanan digelar. Gerombolan orang berduyun-duyun meyerbunya. Anehnya, atau sedikitpun tidak punya perasaan, di barisan itu ternyata sudah didahului oleh orang-orang muda yang bersemangat, diikuti oleh beberapa veteran yang masih bisa berjalan walau sudah renta.

Kebetulan Biring dan Bulang tidak kuat untuk berjalan lagi. Aku diutus untuk mengambil makanannya. Akupun ikut mengantri. Rasa iba mengalir menatap veteran disuruh mengantri di meja prasmanan seperti mengantri sembako desak-desakan. Tak satupun yang berinisiatif untuk mendahulukan atau melayani para pejuang veteran ini.

Itulah salah satu cermin negeri kita saat ini. Tak pernah punya rasa, hati nurani bahkan pengertian untuk pejuangnya. Jas Merah, kata Soekarno, hanya isapan jempol belaka. Padahal, tanpa sejarah kita generasi muda tidak bisa maju untuk mengisi Kemerdekaan semu ini.

Dimulai dari diri kita masing-masing, mari menyongsong Negeri Tercinta ini dengan penuh toleransi dan hati nurani. Janganlah abaikan sejarah masa lalu karena kita ada dan lahir dari sana. Refleksi mengenang masa Detik-detik Proklamasi.

Maafkan kami wahai pejuang kami karena perlakuan kami sekarang ini sudah menghianati perjuangan tulusmu. Namun di sini, masih ada sisa-sisa semangat juangmu.

Dirgahayu RI yang ke 68 tahun, teriring salam kami generasi muda Karo. Merdeka!

Leave a Reply