Refleksi: KBB

5
189

reinaldo 1Oleh: Reinaldo Sembiring*

Aku bukanlah penggagas KBB dan diundang masuk ke grup facebook ini (Jamburta Merga Silima, Red.) oleh kawan lamaku. Sebenarnya, untuk apa sih KBB (Karo Bukan Batak) ini? Kan lebih nyaman jika kita hanya menerima saja ‘kenyataan’ bahwa Karo adalah Batak? Dengan kehidupan modern sekarang kan lebih nyaman mengurusi diri/ keluarga sendiri? Punya pekerjaan bagus, penghasilan bagus, dll. Ngapain pula mengurusi hal-hal seperti ini yang mengandung resiko? Iini jawabannya menurutku:


1. KBB ini pasti dibentuk oleh orang-orang Karo yang terpelajar dan banyak bergaul dengan suku-suku lain (jadi, jangan dipertanyakan tingkat pergaulannya lagi).

2. KBB ini dibentuk oleh orang-orang yang bersedia mengambil resiko tanpa ada keuntungan bagi dirinya sendiri (analisa saja sendiri ada tidak keuntungan yang bisa diperoleh)

3. KBB ini timbul karena semakin rendahnya posisi tawar orang Karo dalam bangsa ini. Lihatlah begitu tertinggalnya Karo dalam segala bidang.

muginting 34. KBB ini timbul karena mayoritas orang Karo memiliki sifat rendah diri sehingga tidak menonjol dalam pergaulan (hal ini mengindikasikan orang Karo tidak bangga menjadi orang Karo dan cenderung menjadi follower saja dalam grup “Batak”). Harus ada cara untuk membalikkan kondisi ini (mudah-mudahan aku tidak dianggap berpikir sempit).

5. Jika tidak ada terobosan berarti maka Karo akan segera menjadi ‘sejarah’ dan terlupakan. Lihat saja daerah-daerah tradisional Karo segera akan hilang.

Menurutku harus ada terobosan yang kita buat, daripada membuat kita pecah sehingga KBB inipun nanti jadi terabaikan (dianggap tidak ada). Jangan mengkritik penganut KBB saja jika kita berdiam diri saja melihat kondisi ini tanpa berbuat sesuatu untuk hal-hal yang diperjuangkan KBB.

Mungkin ini saja pemikiranku yang bodoh, kampungan dan tidak bergaul ini (seperti yang dituduhkan kepada para pengikut KBB)

* Penulis sedang mengambil S2 di USU, bekerja di sebuah BUMN, menyukai bahasa asing (Inggris, Perancis, dll), menyukai teknologi, pernah menjadi Ketua Permata GBKP, pernah anggota GMNI, dan seorang nature traveller.

5 COMMENTS

  1. Pemikiran dan ulasan ilmiah dari RS sangat nengugah hati banyak orang Karo, dan juga orang-orang diluar Karo yang memahami sedikit/banyak soal perjuangan etnis-etnis dunia dalam era cultural rivival atau ethnic revival seluruh dunia demi keadilan bagi daerah dan kulturnya artinya demi survival daerah dan kulturnya.

    KBB (Karo Bukan Batak), makin banyak dipublikasikan makin baik bagi perjuangan etnis-etnis dunia ini. Makin banyak dipublikasi, makin banyak analisa seperti yang dibikin RS, makin jelas pula arti pencerahan KBB terutama bagi etnis-etnis minoritas dunia dan Indonesia khususnya.

    Persoalan besar sehari-hari sekarang diseluruh dunia ialah saling bunuh antara berbagai kultur (beda kultur, perang etnis), bukan karena perang atau perselisihan antara nation. Kekuatan besar dunia (jenis-jenis super power dunia) justru menggunakan efek perbedaan atau pertengakaran ini dalam skala lokal. Mereka ini memanfaatkan perbedaan nyata soal kultur, dan secara lokal, bukan perbedaan ideologi atau nation atau agama. Perbedaan kultur ini nyata dan jelas bagi tiap orang ditempat masing-masing, karena itu sangat gampang digerakkan oleh kekuatan besar.

    KBB merupakan pencerminan pergolakan dunia seperti itu, tetapi dengan tujuan jelas, teori dan filsafat kehidupan win win solution, kedamaian dan keadilan bagi semua kultur yang berbeda-beda tadi dan yang jumlahnya sangat banyak dilihat dari dunia keseluruhan. Tetapi KBB melihat secara lokal, gampang terkendali dan gampang diperjuangkan tanpa harus angkat senjata, cukup efektif dengan pencerahan dan tulisan serta diskusi yang bersifat pendalaman pengetahuan (ilmiah) dan musyawarah. NGERANA KITA.

    MUG

  2. Gerakan KBB dilandasi 2 aliran : Pertama, keinginan utk membedakan diri dgn Batak (Toba) yang mengenalkan diri ke masy luas sebagai Batak, sementara ke etnis2 yg disebutnya sbg sub etnis (Karo, Simalungun, Pakpak dll) dia menyebut dirinya sbg Batak Toba (spt memiliki dua muka). Kedua, memang yakin dirinya Karo yg secara alamiah (genetik dan kultural) berbeda dengan Batak (seluruh etnis yg menyebut dirinya sbg Batak), walaupun tidak menafikan dibeberapa merga Karo terjadi akulturasi (percampuran silang budaya) sbg etnis bertetangga. Kedua aliran tersebut di atas sejalan satu sama lainnya dan tdk perlu dibeda2kan krn motivasi dan tujuannya sama, yakni menegaskan jatidiri Karo sbg etnis mandiri. Sekali lagi, kata “menegaskan” tidak sama dengan “mencari”. Kata “menegaskan” berarti jatidiri Karo itu sdh ada, hanya saja masih “abu-abu” krn “terpengaruh/terganggu” oleh kata Batak.

Leave a Reply