Sedikit tambahan pendapat soal refleksi KBB

2
269

M.U. GintingM.U. Ginting (Swedia)

“Jangan mengkritik penganut KBB saja jika kita berdiam diri saja melihat kondisi ini tanpa berbuat sesuatu untuk hal-hal yang diperjuangkan KBB” (Reinaldo Sembiring). Sangat menggugah bagi orang Karo dalam menanggapi KBB dan perjuangannya.

Pernyataan Reinaldo Sembiring “lihatlah begitu tertinggalnya Karo dalam segala bidang” ditanggapi oleh Robinson G. Munthe di milis TanahKaro sebagai berikut. Tidak dalam segala bidang, karena banyak bidang dimana Karo lebih dari yang lain. Kalau dalam perbandingan tadi, misalnya, kaum terpelajar Karo sangat banyak dibandingkan dengan presentasi penduduk Karo di Indonesia.

Bisa juga ini ditanggapi sebagai ‘kecaman’ bagi Karo dalam berbagai ketinggalannya dan tentu bisa dianggap sebagai cambukan bagi Karo untuk terus berusaha memajukan dan mengembangkan diri (pendapat akan selalu bisa diperbaiki dalam proses perkembangan).

cropped-Clara-Brakel.jpgSituasi terakhir dalam perkembangan setelah gesit-gesitnya KBB bikin pencerahan, diskusi dan debat di dunia maya atau nyata. Dengan bertambah luasnya anak-anak muda Karo ambil bagian dalam gerakan ini, sangat terlihat kemajuan pesat terutama secara psikologis bagi Karo dan orang Batak sendiri, bahwa: Karo memang bukan sembarangan etnis seperti yang diduga selama ini. Ini hanya berlangsung selama Karo tadinya masih  ‘diam serta hanya merendah dan jujur’ saja modalnya.

Perubahan suasana ini kita rasakan semua, termasuk orang Karo yang menentang KBB ikut merasakan ‘mulia’nya, walaupun tak mengaku secara terbuka. Siapa orang Karo yang tak bangga atas kemajuan dan kepopuleran Karo sebagai etnis mandiri yang penuh kegairahan dan semangat tinggi dalam perjuangan untuk keadilan Karo, daerahnya dan dunia?

Banyak organisasi Karo di Jawa dan tempat lain di luar Karo yang dengan megahnya menyatakan kekaroannya. Sangat berlainan dengan masa-masa lalu terutama masa Orde Baru. Orang-orang di luar Karo pun tiba-tiba jadi mengerti bahwa Karo bukan Batak dan Karo adalah lain dari Batak. Ini semua sangat bikin sewot orang Batak. Tapi semakin sewot dan semakin galak mereka menentang KBB semakin banyak pula yang mengerti bahwa Karo memang bukan Batak.

Karo selalu menjawab dari segi fakta, sejarah dan ilmiah. Inilah yang sangat tak bisa dibantah. Akademisi dunia internasional pun telah berikan bukti-bukti serta penjelasan ilmiah soal Batak. Bahkan kerangka Karo yang sudah berumur 7.400 tahun, juga ikut menjadi bukti existensi Karo dan budayanya dengan semua filsafat alamiah hidupnya serta way of thinkingnya, yang sama sekali berlainan dengan kultur budaya Batak yang sangat jauh lebih muda (lebih dari 5000 th). 

Aksara Karo dibikin jadi ‘aksara batak’, walaupun jelas tidak semua huruf sesuai dengan mulut batak, tetapi sesuai semua dengan mulut Karo. Filsafat hidup Karo Daliken Sitelu yang sudah berumur 7400 tahn pada era kemerdekaan oleh intelektual Batak dijiplak jadi ‘Dalihan Natolu’ sebagai filsafat Batak. Bedanya jelas, aslinya ‘dalikan sitelu’ dimana kalimbubu sebagai dibata nidah, dalam Dalihan Natolu ini tak mungkin, karena filsafat hidup Batak ‘menghayati kehidupan sebagai perlombaan’ (DR RE Nainggolan). Dalam Daliken Sitelu Karo (rakut sitelu) ‘sikungingen radu megersing, siagengen radu mbiring’. Hanya ini yang memungkinkan kalimbubu sebagai dibata nidah. Kalau dalam hidup sebagai perlombaan, siapa yang menang itulah kalimbubu.

Penampilan Teater Rakyat (Tera) SIRULO di Kerja Tahun  Desa Tanjung Barus (Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo) [29/10/11] (Foto: Muslim Ramli)
Penampilan Teater Rakyat (Tera) SIRULO di Kerja Tahun Desa Tanjung Barus (Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo) [29/10/11] (Foto: Muslim Ramli)

Banyak ‘ketinggalan’ Karo, dan diantaranya sudah sering juga kita jelaskan, yang jelas orangnya lebih sedikit dibandingkan Batak. Begitu juga sebagai ketinggalan yang diakibatkan persaingan etnis yang tak terelakkan, seperti pembagian ‘rezeki’ di Sumut (DAU, DAK 2006) dimana kabupaten Karo hanya dibagikan sejumlah Rp 7,94 miliar (SIB 02 June 2006), sedangkan kabupaten-kabupaten lain seperti Tobasa dapat Rp 53 miliar.

Begitu juga dalam penempatan kursi-kursi di Sumut dibagikan menurut kehendak etnis dominan (bukan rahasia, ethnic competition tak terelakkan, tertama dari segi power). Siapa orang Karo yang ‘punya kekuasaan’ di gubernuran Sumut atau di USU atau di bagian kesehatan?

“in all too many cases, are euphemistically called the ‘developing’ countries, development programmes frequently are controlled and administered at the higher levels by members of the politically dominant ethnic group; and most of the fruits of such development flow into the pockets of a tiny ethnic elite or at best, are distributed in a limited manner within the same ethnic group.” (Professor Denis Dwyer University of Keele, UK dalam bukunya Ethnicity and Development)

2 COMMENTS

  1. Inteligensi kontra hati nurani . . .

    Satu istilah dialektis (kesatuan segi-segi bertentangan) sebagai perluasan dari istilah-istilah yang sudah agak sering kita pakai: pikiran/logika kontra perasaan.

    Kombinasi antara keduanya itu, itulah yang sangat susah dalam kehidupan, kata Voltaire 250 th lalu. Sampai sekarang kita merasakan kebenaran kata-kata mutiara Voltaire.

    Pikiran membentuk kehidupan sedangkan perasaan mengarahkannya kata Montesquieu juga sekitar 250 th lalu. Hati nurani itulah yang tak boleh diabaikan.

    KBB laju berkembang pesat dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Berbagai ragam pikiran/pendapat orang Karo atau orang luar Karo yang siap mengeritik kekurangan KBB akan bikin KBB lebih kuat.

    Terima kasih BPSM komentar tulisan diatas.

    MUG

Leave a Reply