Renungan: ARUS CINTA BENGAWAN SOLO

1
227

Oleh: Maria Timmen Surbakti

maria timmen 12
Click foto untuk ukuran besar

Bengawan Solo punya sebuah riwayat, dimana aura menyatu sekedar melintas ataupun melirik. Meski pun hanya hitungan waktu kecil, kecil sekali, tapi kuanggap seperti titik air ketika haus. Selain riwayatnya itu, senandungnya yang sudah berkumandang sekian tahun dikenal menyimpan banyak kisah.

Bertolak dari sebuah negeri Raja Jawi yang terkenal keramahan dan kesopanannya. Sebuah kisah mistik hingga sebuah kisah cinta. Lagi-lagi cinta. Ya, seperti awan tak pernah berhenti menitikkan hujan.

Demikian bumi ini tak henti membahas cinta. Derap prajurit keraton tidak lebih gagah dari sebuah kata cinta sejati. Sejati yang adalah satu. Sampai lagu romantis pernikahan dengan kata penyatuan tulang dari tulang dan daging dari daging. Kesejatian tidak hanya sekedar tua seperti pohon beringin keraton. Kesejatian adalah mati seperti pahlawan. Menyatu hingga tak terpisah oleh jarak dan waktu. Bahkan, sekecil atom pun tak mampu memisahkan. Bahkan juga Tuhan.

Bidadari pernah punya selendang, konon dicuri seorang pria. Berbeda dengan selendang sutera yang pernah membalut luka seorang pejuang dari seorang gadis. Selendang itu adalah lambang kelembutan dan kesabaran. Yang satu dicuri paksa, yang satu diberikan tanpa diminta.

Tak perlu kisah ini menjadi sebuah kisah lama, kisah ini sampai di sini saja. Sebentar saja. Karena memang cinta sejati tidak perlu waktu lama untuk dibuktikan. Dia akan lahir kembali di wujud yang berbeda. Mungkin dalam bentuk air sungai atau pohon rindang keteduhan. Sehingga nyanyian keindahan alam dan cinta terus terdengar.

Semoga dirimu mendengar lagu yang sama, lagu rindu pada alunan musik alam.

1 COMMENT

  1. Saya jadi teringat ketika ada pesta pernikahan seorang ponakan di Swedia, ibunya menyanyikan ‘Bengawan Solo’ dengan iringan band Swedia. Terbayang hanya ‘Bengawan Solo’ nya, tak menyedari siapa nyanyi siapa pemusiknya. Apa ‘bengawan solo’ sudah terlalu melekat ya?
    Betul memang, kisahkan lagi, kisahkan lagi . . . cinta ‘dalam wujud yang berbeda’.

    MUG

Leave a Reply