SADAR BUDAYA (Kaitannya dengan Karo Bukan Batak) [Bagian 1]

0
257

ita 24

web4.jpgOleh: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)

Jika kita berkunjung ke Borobudur, Prambanan (adi megermet) pasti akan terlihat nomor register warisan budaya ini yang dicatatkan oleh UNESCO, artinya situs tersebut selain di bawah perlindungan pemerintah Indonesia juga di bawah perlindungan khusus UNESCO. Artinya lagi, situs tersebut dianggap sebagai warisan budaya dunia, sebuah point penting dalam sejarah manusia.

Cagar budaya yang dilindungi UNESCO di Indonesia ada 3 kategori, yaitu: warisan alam, cagar alam atau situs, dan karya tak benda. Salah satu warisan alam di Sumatera yang sudah diakui UNESCO adalah hutan tropis Sumatera yang mencakup Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan, diakui tahun 2004. Contoh warisan budaya bukan benda yang diakui UNESCO adalah batik (waktu itu disambut riang gembira oleh pemerintah Indonesia, hingga diberi maklumat setiap hari Jumat para pekerja wajib memakai batik).

Apakah yang membuat UNESCO mengakui sebuah warisan budaya (bentuk apa saja) sebagai warisan dunia dan perlu mendapat perlindungan khusus? Situs Warisan Dunia UNESCO diberikan kepada situs-situs alam dan buatan yang memiliki nilai universal luar biasa. Situs tersebut harus memiliki kualitas yang melampaui kekuasaan batas negara, politik, dan ekonomi.

Beberapa bahan pertimbangan sebuah situs menjadi Warisan Dunia, antara lain kelengkapan dokumen dan seberapa genting situs tersebut perlu dilindungi. Dan yang paling terutama dan utama adalah bagaimana masyarakatnya sendiri sadar budaya dan menunjukkan betapa pentingnya warisan budaya tersebut dengan tatanan sosial mereka sendiri. Artinya, jika masyarakat yang bersangkutan tidak merasa penting, untuk apa pula pemerintah atau UNESCO memberikan perlindungan?

Untuk menumbuhkan sadar budaya, yang pertama sekali perlu ditumbuhkan adalah kebanggaan dan kecintaan kepada identitas sendiri. Lalu dari situ berangkat mencintai kebudayaan sendiri. Jika tidak ada kebanggaan, sungguh mustahil bisa mencintai. Dari rasa cinta itu akan tumbuh usaha untuk menjaga dan merawat, kemudian bagaimana melestarikannya. Jangan pernah berharap orang lain melakukan hal-hal yang mendasar ini pada hal-hal yang bukan miliknya. Apa pula kepentingannya?

Mencintai kebudayaan sendiri tumbuh dari usaha-usaha penggalian, pengenalan yang dilakukan. Tidak ada kata berhenti. Pada situs-situs yang sudah diakui UNESCOpun, sampai hari ini masih terus berlangsung penelitian dan perawatan. Tentu saja, jika sudah dalam perlindungan khusus fasilitaspun berbeda. (Bersambung)

Leave a Reply