Kolom M.U. Ginting (Swedia): MEMASUKI ABAD INTROVERSI

0
127

M.U. GintingPada permulaan Abad 20, C. G. Jung menulis soal introversion dan extroversion. Pertama kali seorang psikolog menganalisa kelakuan/karakter manusia dari 2 segi bertentangan; dari segi kontradiksi atau dialektika serta proses perlombaan dan persaingan tak henti-hentinya dari kedua faktor itu. Karena itu pulalah maka psikologi Jung ini terasa berlaku ‘abadi’ karena, dalam perubahan apapaun, perkembangan dunia maupun karakter manusia akan selalu terjadi lewat kontradiksi atau proses dialektika. Tak ada jalan lain.

Susan Cane yang juga mengaku seorang introvert, menulis buku terkenal tahun lalu (2012) berjudul Quiet: The Power of Introverts in a World That Cant’t Stop Talking telah merupakan tonggak pertama permulaan perubahan dominasi kultur extraversi secara global dan terutama di USA. Buku ini telah menjadi best seller dan telah dibaca jutaan manusia di dunia, terutama yang merasa dirinya terwakili di dalamnya, yaitu kaum introvert.

Buku ini kelihatannya bukan hanya membikin analisa perubahan kultur dominan  (extraversi) di USA, tetapi juga telah mempercepat perubahan dominasi ke kultur introversi di negeri-negeri lain dan, saya kira, pasti juga termasuk Indonesia. Karena itu, buku itu boleh dikatakan berlaku sebagai motor penggerak dimulainya Quiet Revolution, revolusi dimana kaum introvert strike back setelah satu abad ‘terpojok’ sebagai akibat dari dominasi kultur extravert.

Sanggar Seni Sirulo di Hotel Tiara (Medan)
Sanggar Seni Sirulo di Hotel Tiara (Medan)

Sampai tahun-tahun pertama Abad 21, dominasi kultur extrovert masih berjalan di USA. Baru setelah krisis ekonomi/moneter beberapa tahun lalu, dominasi extrovert merosot dan introversion sebagai karakter dan kultur naik panggung. Ini tentu juga tak terpisahkan dari perkembangan internet yang, bagi kaum introvert, adalah sebagai hadiah besar, dimana  media umum dan terutama media sosial adalah anugerah besar tak ada bandingannya bagi kaum introversi.

Internet adalah wadah besar berisi segala-galanya yang diperlukan kaum introvert dan terutama pemanfaatan media sosialnya yang dalam suasana offline tak bisa terpenuhi karena introversinya sering menjadi penghalang dalam sosialisasi offline. Halangan ini tidak muncul dalam hubungan dan sosialisasi online.

Bagi kaum extroversi, internet bukanlah sesuatu yang baru, tetapi hanya sebagai perluasan atau tambahan ‘kecil’ dari sosialisasi offline yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Saya katakan tambahan ‘kecil’ karena sosialisasi offline lah yang utama dan menentukan dalam perjuangan survival kaum extrovert. Sosialisasi online butuh pemikiran, sedikit atau mendalam, dan ini bikin boring (bukan stimulasi) bagi mereka. Karena itu internet bagi mereka bukan suatu ‘revolusi’.

Lain halnya bagi kaum introvert, sebaliknya merupakan satu revolusi besar dalam perjalanan hidup dan dalam perjuangan survival mereka, terutama dalam interaksi sosial yang tak pernah mungkin dilakukan dalam situasi offline atau langsung berhadapan, secara perorangan atau di hadapan publik. Internet dan sosialisasi serta interaksi online merupakan unsur stimulasi (intern) bagi kaum introversi.

Susan Cane dalam bukunya juga menyinggung dengan mengajukan sebuah pertanyaan “Why did Wall Street crash and Warren Buffet prosper?”, untuk membandingkan extraversion dan introversion culture.

Abad extravert dominant culture jelas sudah memulai akhirnya dan abad introvert dominant culture (100 tahun ke depan?) mulai berjalan. Pastilah juga begitu di Indonesia.

“Loudmouths and braggarts have had their day”, kata Sarah Sands, the Editor of the London Evening Standard, dalam resensi buku Susan Cane, mempertegas berakhirnya abad extrovert dominant culture. “I have always trusted the judgemnt of quiet voices obove loud ones” katanya lagi menambahkan.

Abad 20 sebagai abad extraversi berakhir, Abad 21 sebagai abad introversi mulai.

Catatan Redaksi: Orang-orang Karo menurut M.U. Ginting adalah berkarakter introvert.

Leave a Reply