Kolom M.U. Ginting (Swedia): Di Mana Bumi Dipijak di Situ Langit Dijunjung

0
239

muginting 9M.U. GintingSalah satu manusia terkenal yang dengan senang hati mempraktekkan pepatah tradisional ini adalah Jokowi, Gubernur DKI Jakarta. Dia orang Jawa yang bahkan juga berusaha ‘berpantun Betawi’ dengan logat Jawanya. Setiap hari Rabu PNS Kotapraja akan berpakaian tradisi Betawi, katanya, dan dia mempraktekkannya. Bahkan, katanya, dia lebih suka pakaian Betawi dari pada pakaian dinas. “Lebih nyaman,” katanya. Sarung Betawi sering disandang dibahu, seperti tradisi sarung orang Karo (di Karo dipakai kalau ada upacara dan kalau malam jadi selimut).

Dalam kehidupan nyata sehari-hari, pribahasa ini sering dilanggar oleh kalangan anak-anak muda atau juga sebagian orang yang ‘sok asing kebarat-baratan’ atau juga karena berlainan kultur/etnis. Perang etnis di Kalbar, Kalteng, Maluku, dll. Di negeri kita adalah sebagai akibat tak mengindahkan kebijakan pepatah itu.

Tentu banyak sebab-sebabnya mengapa sampai terjadi perang antara kita dari berlainan kultur, atau memang karena berlainan kultur itu. Ya, jelas itulah salah satu dasar utama. Perbedaan kultur yang nyata dan pernyataannya tak bisa didamaikan lagi, selain penyelesaian lewat perang.

Hal yang sama terjadi juga di banyak negeri; Nigeria, Rwanda, Yugoslavia, Soviet, terutama setelah era ethnic/cultural revival dunia setelah jatuhnya blok Soviet. Manusia-manusia kultural ini menemukan kembali JATI DIRInya yang tadinya sudah hampir hilang atau memang mau dihilangkan demi politik tertentu pada zamannya.

Semua kejadian (perang) di atas jelas didasari oleh PERBEDAAN, dalam hal ini kultural. Apakah perbedaan itu memang MOMOK dalam kehidupan manusia?

Sampai akhir abad 20 masih terlihat tendensi menghilangkan perbedaan. Politik yang berdominasi ketika itu, seperti ‘persatuan nasional’, ‘persatuan dan kesatuan’, ‘proletar seluruh dunia bersatulah’, ‘awas primordialisme atau sukuisme’ dsb. Dominasi politik ini diakhiri dengan perang etnis yang sangat kejam tak berperikemanusiaan.

Dominasi politik ‘persatuan dan kesatuan’ itu sudah hilang sepenuhnya abad 21. Sebaliknya abad 21 ini ditandai dengan membanggakan dan menonjolkan perbedaan, seakan-akan menjadi abad THE POWER OF DIFFERENCE. Banyak buku-buku dari ahli-ahli peneliti sosial/ kultur bangsa-bangsa dunia pada berlomba menuliskan pentingnya PEERBEDAAN itu.

Menarik memang perkembangan dunia ini. Satu waktu ‘awas dengan perbedaan’ dan bertendensi menutupi atau menghilangkan perbedaan, abad lainnya mempelajari dan menunjukkan perbedaan dan mari kita manfaatkan perbedaan kita.

Diantara pemimpin Indonesia yang melek soal perbedaan ini ialah Gus Dur, dan juga Jokowi yang saya sebutkan di atas. Mereka berusaha keras mempraktekkan pepatah indah bangsa kita, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

muginting 10Memang tidak cukup kalau hanya mengakui dan menghormati perbedaan karena tanpa mengedepankan pepatah ini berarti tak ada pengakuan maupun penghargaan. Perang tak berperikemanusiaan saya sebutkan di atas tak perlu terjadi sekiranya pendatang mempraktekkan di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung. Mengapa pendatang tidak mempraktekkan pepatah itu (?), adalah satu bab tersendiri pula dalam sejarah kita atau sejarah perkembangan manusia sedunia pada umumnya.

Gus Dur memekarkan daerah-daerah berdasarkan garis kultural. Artinya, pepatah tadi diterapkan di tiap daerah atas pengakuan dan pengertian yang mendalam dari pusat; Gus Dur sebagai presiden ketika itu.

Jokowi datang dari Jawa ke Jakarta melaksanakannya dengan pakaian tradisional Betawi dalam pemerintahannya. Itu adalah salah satu pertanda pengakuan dan penghargaannya atas penduduk asli pemilik tanah ulayat daerah Jakarta. Dia tidak memaksakan pakaian tradisional Jawa di Jakarta, walaupun orang Jawa banyak juga di Jakarta.

Diantara orang-orang terkemuka bangsa kita sudah banyak yang mengakui POTENSI dalam perbedaan, tetapi sekaligus juga masih menginginkan atau mengatakan ‘menyatukan perbedaan’.  Kalau perbedaan sudah ‘disatukan’ atau sudah hilang, apakah masih ada potensinya? Pengertian yang masih simpang siur, sebagai akibat dari warisan abad lalu, abad ‘persatuan dan kesatuan’.

Sekarang yang betul ialah pertama MENGAKUI perbedaan dan menghargainya. Baru dari situ potensinya dimanfaatkan bersama. Ini sudah banyak dipraktekkan dalam aktifitas perusahaan-perusahaan besar demi mencapai keuntungan yang lebih besar. Perusahaan tak jalan kalau menekan perbedaan, apalagi kalau berusaha menghilangkannya.

The Power of difference makes it different,” katanya.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan negeri kita yang banyak ragam kultur dan daerahnya, perbedaan itu harus ditangani dengan DI MANA BUMI DIPIJAK DI SITU LANGIT DIJUNGJUNG.

Leave a Reply