Kolom M.U. Ginting (Swedia): The New Hypocrisy

1
325

M.U. GintingIstilah hypocrisy atau ‘munafik’ dalam kehidupan Barat adalah istilah yang sudah sangat tua. Istilah itu kemungkinan adalah pertanda pertama perkembangan pikiran manusia dari primitif ke peradaban. Dalam zaman primitif pastilah istilah itu tak dikenal, dan tak ada gunanya. Itu pula sebabnya tidak terpakai dalam kehidupan primitif itu. Kontradiksi dalam kehidupan pada dasarnya hanyalah dengan alam, dan alam tak mengerti kemunafikan. Jadi istilah ini bisa muncul barulah setelah ada kontradiksi dalam masyarakat, setelah munculnya golongan/klas yang berlainan atau yang bertentangan dalam masalah kepentingan.

Sanggar Seni Rulo dalam pembuatan film promosi wisata Kabupaten Deliserdang

“In England the only homage which they pay to Virtue is hypocrisy,” kata penyair Inggris Lord Byron (1788-1824) yang hidup dalam abad Romantisme Eropah. Lord Byron sebagai seniman sastra melihat fenomena ini terutama di kalangan elit Eropah, menyatakan curahan hatinya dalam menentang dominasi norms and values orang-orang aristokrat Eropah ketika itu.

Dari Era Romantisme ini berangsur muncul era Enlightenment sebagai cikal bakal pertumbuhan individualisme dan nationalisme di Eropah dan kemudian ke seluruh dunia. Nasionalisme ini sejak semula juga sudah ada dua aliran, yaitu aliran primordialis dan modernis.

Dua aliran inilah yang kita jumpai sekarang di mana-mana. Di bidang politik, terlihat semakin tajam kontradiksi antara keduanya. Orang modernis ini semakin terlihat bertendensi persatuan ‘internasionalisme’ humanis, persatuan semesta kemanusiaan, menjurus ke tendensi ‘satu kultur dunia’ atau kelanjutan politik multi-kulti ‘multikulturalism’ dan kekuasaan global ke satu tangan.

Primordialis (dipakai juga istilah ethnonationalism) sebaliknya mengutamakan spirit primordial dari sumber yang nyata yang ada dalam kehidupan, dari kehidupan kultural yang dimiliki setiap manusia dan grup manusia. Dengan perkataan lain, “primordialist describes nationalism as a reflection of the ancient and perceived evolutionary tendency of humans to organize into distinct groupings based on an affinity of birth”. http://en.wikipedia.org/wiki/Nationalism

Karena itu, primordialisme atau ethnonationalisme adalah produk dari kultur, bukan produk alam, kata Prof. Jerry Z. Muller of Catholic University USA.

Memang ethnonationalism atau primordialism atau sukuisme seperti Muller katakan bikin kita tidak merasa enak secara moral ataupun secara intelektual (‘diskonfiting both intellectually and morally’). Tetapi, dari kenyataan, biar bagaimanapun, perasaan ini tidak akan bikin hilang ethnonationalisme atau primordialisme.

Karena itu, selanjutnya juga Muller bilang, “whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first Century”. Abad ini masih seratus tahun ke depan. Kita baru saja mulai.

Sanggar Seni Sirulo dalam pembuatan film promosi wisata Kabupaten Deliserdang

 The Establishment

Secara teori dan praktek, fenomena ethnonasionalisme atau primordialimse sudah menjadi kenyataan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, terutama dalam perkembangan demokrasi dimana ethnicity sudah harus jadi salah satu faktor utama, Ini telah dibuktikan dan dibukukan oleh banyak ahli sosial dan antropologi dunia. Namun begitu, sambutan dari The Establishment dalam masyarakat atas soal ini masih tetap dilihat dengan sebelah mata atau pura-pura melihat dengan sebelah mata, terutama di negeri-negeri maju Eropah.

The Establishment di sini lebih bertendensi ke ‘global culture’ daripada ke ethnonationalism ‘primordial perspektif’. Tetapi bersamaan dengan semakin kuatnya atau semakin populernya gerakan politik dan massal ‘the new right’ Eropah (Alain de Benoist- Perancis) yang banyak berhasil mendirikan partai-partai politik (dicap partai rasis dan anti orang asing), dan juga yang semakin besar di banyak negeri Eropah, The Establishment di negeri-negeri ini terlihat semakin munafik. Kemunafikan yang baru.

Saya katakan ‘baru’ karena bukan munafik dalam definisi biasa (menuduh yang lain tapi juga berbuat sendiri), melainkan sepertinya menginginkan orang yang dituduh supaya dapat sukses yang lebih besar.

Salah satu contoh partai kanan yang dituduh ‘rasist’ di Eropah ialah partai SD (Sverige Demokrater, Demokrat Swedia). Partai ini semakin besar dan sekarang jadi partai nomor 3 di Swedia. Partai ini jelas suaranya, menginginkan Swedia tetap bisa memelihara keswediaannya, tradisinya dan way of thinkingnya. Siapa orang Swedia yang tidak memimpikan ini? The Establishment? Mereka harus munafik.

Di Indonesia banyak jargon politik seperti halnya jargon melestarikan kultur dan budaya, kearifan lokal, dan yang paling modern ialah memanfaatkan potensi perbedaan. Yang terakhir ini masih kacau belum mapan karena masih ada juga yang ingin ‘menghilangkan perbedaan’, atau ‘menyatukan perbedaan’.

Pengertian tentang potensi perbedaan masih remang-remang. Tapi, bangsa kita sudah bertekad akan terus mempelajari dan menggali potensi kebhinekaan karena negeri kita adalah negeri PERBEDAAN.

Di sini, tak perlu ada kemunafikan, yang baru maupun yang lama. Tiap kultur atau daerah adalah sumber potensi yang tak akan pernah kering dalam membangun Nation Indonesia sebagai negeri Bhineka Tunggal Ika.

1 COMMENT

  1. Terima kasih redaksi yang selalu meralat salah cetak tulisan saya.
    Dalam judul tulisan ‘hyprocrisy’ kelebihan huruf ‘r’, sebagai hypocrisy.

    Selain itu saya selalu juga terpikir hypocrisy dalam politik dan agama. Dalam politik sudah jelaslah bagi semua, terutama dalam budaya korupsi, hypocrisy tentu juga membudaya.
    Tapi bagaimana di agama kristen? Karena banyak juga tertulis di bibel soal ini.
    Atau agama pemena apakah mengenal hypocrisy?

    Lagu ‘bunga rampe’ sangat mengesankan karena biasa saya dengar penyanyi laki (aslinya). Kali ini sangat nyambung karena lakinya sudah meninggal . . .

    MUG

Leave a Reply