Kolom Ita Apulina Tarigan: EKSPRESSI – sebuah apresiasi buat NOVA PANDIA

1
249

Setelah sekarang Nova positif melaju ke babak selanjutnya dalam perlombaan AFI, perasaan sedikit tenang. Emosi tadi malam sudah grounding ke pelukan ibu bumi untuk kemudian menjadi spirit baru buat kita semua, khususnya Nova.  Sebagai performer ‘jalanan’ dan sedikit belajar tentang seni pertunjukan, saya merenungkan penampilan Nova yang sudah 2 kali ini, termasuk komentar para juri (yang akhirnya aku lihat sebagai seorang performer hanya Kaka), ada sedikit apresiasi buat penampilan beru Biring ini.

[soundcloud url=”http://api.soundcloud.com/tracks/100441246″ params=”” width=” 100%” height=”166″ iframe=”true” /]

Teknik bernyanyi, di antara semua peserta menurutku Nova is the best. Ula cerita jé juri si diberu ena duana. Dibanding semuanya, Nova masih teratas. Nafas, artikulasi, pitch rsdb. Menurutku perfect. La lit pandangenku.

Yang mau aku bahas adalah ekspresi. Dalam imajinasiku, pertama, Nova ini adalah seorang gadis rumahan, rajin sekolah, anak mamak dan bapak, rajin ku gereja. Ke dua, sepertinya Nova belum pernah jatuh cinta secara mendalam kepada seorang kekasih, belum merasakan pahit manisnya asmara. Aku yakin juga, hidupnya terjamin tidak ada kesusahen yang berarti, tercukupi walau dengan sederhana.

Jadi, ini yang menurutku membuatnya sedikit kesulitan untuk trance dalam menjiwai lagu, sehingga spirit lagu tidak nampak di wajahnya. Bukan pula maksud saya dia harus mengalami patah hati, benturan hidup dan segala macam derita. Sama sekali tidak. Persoalannya adalah, bagaimana memunculkan emosi jiwa lewat lagu yang dinyanyikan.

Salah satu cara adalah, coba membaca novel-novel yang menggetarkan kalbu dan nurani. Misalnya, novelnya Pramudya Anantha Toer, Romo Mangun atau Seno Gumira Ajidarma atau yang cukup ekstrem semacam Multatuli. Novel-novel mereka mengguncangkan bathin dan kesadaran, kita bisa larut dalam kepedihan, sukacita sebagai sesama anak manusia.

nova 2
Dwi Nova Pandia (duduk nomor 2 dari kiri) saat menanti giliran menyanyi bersama penampilan Sanggar Seni Sirulo (Pimpinan Ita Apulina Tarigan) beberapa waktu lalu di sebuah taman wisata di Sibolangit.

Cara lain, dengan menghayati syair-syair yang memang membuat kita terhubung pulang dengan ‘rumah’. Kalau aku misalnya suka dengan AKU-nya Chairil Anwar. Kalau lagu Kristen Lamb Of God. Adi lagu Karo, Gula Tualah. Adi lagu Barat, My Valentine -Paul McCartney atau lagu-lagu Sufi Islam. Masing-masing dari kita bisa memilih yang cocok sesuai dengan kebiasaan dan latar masing-masing.

Ke tiga, bermeditasi. Meditasi akan mengajari kita untuk fokus pada tujuan, memberikan yang terbaik, hanyut dan larut dalam lagu, seolah lagu adalah kisah kita sendiri. Meditasi akan membuat kita tampil tanpa beban, karena kita adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri. Semua tubuh kita adalah bagian dari pertunjukan itu. Ibarat penari Karo, saat menari seluruh tubuhnya menggambarkan alat musik, kepalanya menjunjung gung, kakinya memukul penganak, tangannya memainkan melodi surdam, belobat atau kulcapi dan gendang ditabuh di tubuhnya.

Ini hanya apresiasi dari seorang performer ‘jalanan’, tanda cinta dan bangga pada seorang gadis Karo yang sedang mempertaruhkan eksistensinya, meski pengukuran prestasinya sama sekali tidak fair. Akhir kata, selamat berjuang Nova, kalah atau menang kam sudah juara di hati kami.

Do your best. Semoga harapan dan doa kami bisa membantundu untuk berhasil.

*Surabaya, 12 Oktober 2012, sambil bersiap-siap mengejar kereta senja menuju Yogyakarta. Selamat berlibur buat semuanya ras Mejuah-juah kita kerina.

1 COMMENT

  1. Apresiasi, harapan dan penilaian yang lebih objektif dari Ita Apulina atas penampilan Nova Pandia. Harapannya sudah terikut harapan kita semua atas kesuksesan dan kelanjutan karir Nova, yang bagi kita mewakili pemuda dan wanita Karo sekali gus.
    MUG

Leave a Reply