Cakap-cakap La Radum: Agamaku atau Karoku?

5
169

Oleh: Satria Ginting Suka (Pancurbatu)

Selama ini saya (mungkin juga sebagian orang di sekitar saya) selalu merasakan dilema dalam kehidupan ini. Saya berhadapan dengan dua pilihan dimana bagi saya sulit untuk memilih satu di antaranya. Tetapi jika saya memilih keduanya, maka pada suatu saat kedua hal ini akan berbenturan karena memang memiliki sebagian ajaran yang bertentangan.

satria ginzu 4
Click foto untuk ukuran besar

Antara agama dan tradisi/ budaya Karo. Keduanya selalu membuat saya berpikir keras. Keluarga saya adalah penganut Kristus dan dulunya saya juga begitu. Tapi akhir-akhir ini saya lebih banyak mempelajari budaya dan tradisi nenek moyang saya.

Saya tahu, suatu saat nanti saya harus memilih salah satu diantaranya. Saya harus punya pendirian, tidak boleh berlarut-larut dalam dilema ini. Saya harus bijak dalam memilih agar kelak saya tak kecewa.

Kalau soal kepercayaan, menurut saya keduanya adalah baik, tetapi suatu saat keduanya akan berbenturan jika saya mengamalkan keduanya dalam kehidupan.

Sebenarnya, jika saya bertanya kepada hati kecil, saya akan memilih tradisi dan kebudayaan Karo. Tetapi, apa yang akan terjadi? Saya takut dan belum sanggup menerima jika suatu saat nanti banyak orang dan bahkan keluarga saya juga ikut mengucilkan dan menghina saya.

5 COMMENTS

  1. Agama dan budaya

    Memang rumit juga persoalan ini. Manusia punya budaya sejak lahir dan sejak dahulu kala bahkan sebelum agama baru dari barat datang ke negeri ini. Agama itu juga bawa budaya, Belanda, Jerman atau Inggris. Kalau tadi orang Karo menjajah Belanda dan memaksakan agama pemena kepada orang Belanda dengan kekuatan sivilisasi, tentu Belandalah yang punya persoalan seperti ini. Tapi kita keduluan orang Belanda . . . jadi kontradiksinya ada dalam kehidupan orang Karo.

    Tetapi dalam bibel sendiri banyak kontradiksi yang sangat jarang diajarkan atau dijelaskan kepada umat agama.

    Belanda tidak mengajarkan kontradiksi yang ada dalam perjanjian lama dan perjanjian baru, atau diterjemahkan sehingga sama.
    Misalnya dalam perjanjian lama:

    Thou shalt not show him no pity, life for life, eye for eye, tooth for tooth, hand for hand, foot for foot.

    Dalam bibel (perjanjian baru):
    Kalau ditempeleng pipi kiri, kasihlah pipi kanan.

    Mungkin juga ini semua menggambarkan budaya bangsa/nation yang semula punya bibel ini. Ke Karo dibawakan pula oleh satu nation yang juga punya budaya sendiri, dan menterjemahkan kontradiksi itu menurut budayanya pula, atau tak menggubris konradiksi itu sama sekali, tergantung budaya dan kulturnya dan way of thinkingnya.

    Kontradiksi antara adat/tradisi Karo dengan agama kristen tidaklah sedalam kontradiksi yang tertulis dalam bibel, apalagi kalau B dalam GBKP diganti dengan kata Budaya. Jadi penganut kristen Karo adalah manusia yang berbudaya Karo, bukan berbudaya Belanda atau budaya Batak, atau budaya Jawa. Dan memang begitulah adanya. Tiap manusia tak bisa terlepas dari budayanya, budaya mengalir dalam darah bersama orangnya.

    MUG

    • Setuju sekali dengan Pak MUG : Tiap manusia tak bisa terlepas dari budayanya, budaya mengalir dalam darah bersama orangnya.

  2. Kebudayaan merupakan buah akal manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sehingga didalam kebudayaan terkandung unsur ilahi. Namun, manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tentunya kebudayaan yang merupakan buah dari akal fikiran manusia yang telah ternoda itu telah terkandung juga unsur-unsur setani. Agama juga demikian(bd. Agama dan Kepercayaan/Iman), agama tidaklah lebih dari kebudayaan.

    Zaman sekarang, bukan saatnya dilema dalam memilih agama dan kebudayaan, sebab sekarang lagi trednya inkulturisasi ataupun dalam akademis dikenal dengan “theologia kontekstual”. Seperti saya pernah menulis “Agama dan Budaya Ibarat Rel Kereta” walau terpisah tetapi harus sejalan. Agama yang tidak inkulturisasi ataupun berakar/terintegrasi dengan budaya lokal tidak akan bisa menjadi pusat kehidupan umatnya, sehingga lambat laun akan ditinggalkan umatnya. Sehingga, agama harus mengembangkan sentralitas, sakralitas, dan ritualitas ima… itu semua tercapai jika agama dan budaya telah terintegrasi… atau dalam bahasa yang sering saya pakai “harmonisasi” 😀

    Jadi, tidak usah galau Kalimbubu. Tidak ada salahnya iman juga diuji. Menentukan pilihan tidak harus membuang/meninggalkan salah satu(agama – budaya) tetapi menentukan pilihan dengan menguji diri dimana hati dan iman bertumbuh kesanalah arahkan jiwa dan fikiran.
    “Bukan agama yang menyelamatkan kita, melainkan keyakinan/iman”

    Mejuah-juah Tuhan Yesus Si Masu-masu.

Leave a Reply