Cerpen: Tell Me How Romantic I Am.

0
188
maria timmen 13
Click foto untuk ukuran besar

Oleh: Maria Timmen Surbakti (Jakarta)

Jangan tatap aku seperti waktu di gereja tua itu, senyum dan tatapanmu sungguh mematikanku. Entah apa yang penting bagi kita saat itu, membahas gereja ini sesat atau tidak. Senandung burung dengan pohon sawonya, atau kostummu yang salah terlalu formal dengan berdasi sehingga burung itu tertawa lucu melihat kita. Apalagi kita seakan sedang pergi ke pemakaman dengan kostum hitam. Namun demikian, menurutku, apapun itu, yang terpenting ada di dirimu di setiap cerita.

Lusa kita terlambat ke gereja, duduk di pinggir mendengar seorang pastor berbicara. Kemarin kita dengar teriakan merdeka sama seperti ucapan pastor ini. Pikirku, dirinya belum merdeka seperti cinta kita.

Entah dirimu berpikir yang sama atau hanya berdoa khusuk untuk kita. Sungguh pertanyaan konyol dan jawaban konyol mengiringi hari-hari kita.

Ketika aku bertanya “sesatkah gereja kemarin itu?”, kau akan menjawab “tidak tahu, yang kutau mereka punya kitab suci”. Lalu, lusa kau tanya lagi “apakah dirimu ingin ke gereja?” “Ya!” jawabku. Lalu, kau akan bergumam “jika kita tidak jadi ke gereja, kau pasti marah, kan? Karena sudah janji. Baiklah, kita ke gereja.”

Kita pulang duluan, setelah menerima tatapan pastor dan berkatnya. Kupikir, apakah cinta juga mempunyai kitab suci? Kau pasti tidak berpikir demikian, pikiranmu pasti hanya bagaimana cinta itu bisa dituliskan.

Kemudian kita lapar dan berpikir untuk makan. memesan makanan yang sama.

“Wah, diam-diam kita sehati,” seruku.

Kau tak menjawab, hanya tersenyum simpul tanpa menatap. Untung tak menatap. Kalau menatap lagi, aku bisa terpelanting.

Berlebihan, ya?

Ya, memang. Senyummu mematikan hingga membuatku lupa akan rasa gurih kedelai. Senyummu seakan mengatakan aku benar-benar young lady untukmu. Lalu, aku bertanya apakah aku sudah romantis?

Tell me how romantic I am.

Leave a Reply