INTEGRITAS JATIDIRI DAN KEBANGSAAN

1
141
robinson munthe 7
Click foto untuk ukuran besar

Oleh: Robinson G. Munthe (Jakarta)

robinson g. munthe

KBB memang bukan sekedar istilah. KBB menyangkut soal yang sangat penting yaitu soal integritas identitas, integritas jatidiri Karo.  Karo yang memiliki integritas jatidiri yang utuh, tidak terpecah dan terbelah, kuat dan terpadu. Jika di dalam Karo ada kata “Batak”, jelaslah identitas Karo masih berada dalam keadaan tidak utuh terpadu. Tidak memiliki integritas yang kuat, berarti tidak memiliki karakter yang kuat pula.  Kata kuncinya adalah integritas jatidiri. Jatidiri yang tidak membingungkan diri sendiri dan orang lain.


Siapapun di dunia ini respek kepada seseorang yang memiliki integritas jatidiri, yang tidak ambigu. Orang Batak sendiri, terlepas dari perbedaan pandangan yang ada, respek terhadap orang Karo yang mengatakan dengan tegas siapa dirinya yang benar yaitu Karo yang bukan Batak. Sebagian orang Batak yang belum paham mungkin gagap, bingung dan skeptis pada awalnya. Namun lama-lama mereka akan terbiasa bahkan respek dengan ketegasan dan kegigihan orang Karo untuk mempertahankan jatidiri kekaroannya.

Ditinjau dari segi apapun tidak ada yang salah pada orang Karo yang taat dan kuat memegang identitas kesukuannya yang benar. Lagipula, hal itu tidak menghambat kemajuan Karo ke depan. Lihatlah bangsa Jepang yang di tengah kemajuan teknologinya memegang dengan kuat tradisi  kebudayaannya yang unik. Dan, bangsa lain di dunia respek melihat integritas jatidiri dan kebudayaan Jepang.

Lalu, apakah dengan memegang teguh jatidirinya berarti orang Karo sukuisme dan memiliki ego yang kuat tentang sukunya? Kalaupun benar demikian di mana letak sisi negatifnya? Tidak ada yang salah sejauh orang Karo terbuka dalam pergaulan kemasyarakatan, sejauh orang Karo menghormati kebhinekaan kebangsaan kita. Bukankah rumah besar yang bernama Indonesia raya ini menjadi lebih kuat karena ditopang oleh berbagai tiang kayu beraneka rupa jenis dan ukurannya? Akan menjadi rapuh bila hanya ditopang oleh beberapa tiang yang sejenis karena tidak menggambarkan keanekaragaman kayu hutan kita yang kaya.

simbisa
Click foto untuk ukuran besar

Adalah sikap dan perbuatan yang benar apabila orang Karo menaruh hormat pada identias diri dan kebudayaan yang telah diturunkan para leluhurnya. Namun, pada saat yang sama, adalah keharusan bagi kita untuk juga respek pada identitas dan kebudayaan orang lain karena kita hidup dalam tamansarinya rumah besar yang bernama Indonesia.

Apakah bisa seseorang yang memegang identitas kesukuannya dengan kuat sekaligus bisa menghargai identitas kebangsaannya dengan kuat pula?  Justru prasyarat  identitas kebangsaan yang kuat adalah apabila tiap warga bangsa  memiliki identitas diri dan kesukuan  yang kuat,  karena identitas diri dan kesukuan inilah yang berfungsi sebagai tiang-tiang penopang rumah besar Indonesia itu.

Di situlah letak kekuatan dan keindahan keragaman. Di situlah letak integritas identitas kebangsaan. Kehidupan kebangsaan yang kuat bukan dijunjung tinggi dan diagungkan di atas kematiaan identitas kesukuan dan kebudayaan yang beraneka ragam itu. Keduanya saling menguatkan dan menghidupkan, bukan saling melemahkan dan membunuh.

1 COMMENT

  1. Artikel ini (soal KBB oleh RGM) sangat gamblang dan explisit, gampang dimengerti bagi semua. Penjelasan yang semakin mendalam dan luas soal gerakan pencerahan KBB. Betul sekali bahwa KBB bukan sekadar istilah, tapi melukiskan dengan pengertian yang sangat kuat, soal INTEGRITAS kekaroan, kehormatan dan harga diri Karo sebagai etnis maupun perorangan.

    KBB jelaslah juga berfungsi sebagai obat mujarab penyakit ‘krisis identitas’ yang pernah melanda suku Karo dalam era Orba, dimana sengaja ditekan karena nasionalisme soekarnonya atau karena ‘minoritas’nya atau karena persaingan etnis yang sengit dalam era Orba, termasuk jawanisasi dan islamisasi pimpinan Soeharto.

    Politik SARA Soeharto juga ikut menyumbangkan rasa takut ‘sukuisme’ pada sebagian orang Karo. Pelabelan resmi secara nasional maupun internasional orang Karo sebagai Batak atau ‘Batak Karo’ meninggalkan penyakit stigma yang mendalam bagi sebagian Karo, terutama yang sudah berumur 40-50 th keatas, masih merasakan kesan ‘mengerikan’ kalau berani mengucapkan Karo bukan Batak, takut dicap sukuisme, atau anti nasionalisme.

    Bagi orang-orang Karo dibawah umur 30-35 th masih penuh kegairahan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan terakhir perjuangan pembebasan etnis-etnis dunia dalam era ethnic/cultural revival dan terutama dari perkembangan perang etnis dan pembebasan banyak nation dari segi kultural, dan yang sangat banyak ditulis dan dipelajari kembali oleh ahli-ahli antropolog maupun psikolog seluruh dunia.

    Di Indonesia terutama belajar dari gerakan pencerahan KBB, karena KBB meliputi seluruh seluk beluk dan perkembangan dunia dalam soal kultur dan gerakan pembebasan kultur etnis-etnis seluruh dunia dimana Karo sebagai contoh konkretnya. Bagi yang memahami KBB semakin jelas tak ada stigmatisasi yang ditakuti lagi. Bagi mereka juga jelas kesadaran IDENTITASNYA dan INTEGRITASNYA. Atau bisa juga dikatakan bahwa identitas dan integritas yang KUAT adalah penyangkal segala macam stigmatisasi. Dari segi psikologi dan disimpulkan oleh ahli-ahli psikolog dunia bahwa IDENTITAS ETNIS YANG KUAT, sangat banyak artinya bagi well-being atau kebahagiaan tiap orang, bahkan juga sangat mempengaruh kemajuan dibidang akademisi.

    Kita bisa merasakan bagaimana ‘sakitnya’ perasaan dan pikiran orang-orang Karo yang masih sangat takut mengatakan ‘saya bukan Batak’, masih berusaha mencari ‘zona aman’ dan kemungkinan seumur hidupnya tidak akan bisa mengobati ‘penyakitnya’. Apakah suku-suku saingan suku Karo mengharapkan suasana seperti ini? Jawabnya ialah ‘ethnic competition’, dibikin positif atau negatif! Ethnic competition bisa diarahkan positif mendukung perubahan dan perkembangan dan dengan sendirinya KEMAJUAN (bersama). Tapi ini hanya berlaku bagi filsafat WIN WIN SOLUTION. Apakah semua bisa mengikuti filsafat ini?.

    Soal ‘sukuisme’ sangat bagus dijelaskan dalam artikel ini. Sukuisme yang postitif atau primordial yang positif yang mendukung keaslian dari segi kultur dan tradisi etnis-etnis bangsa kita, adalah pendukung kebangsaan itu sendiri.

    “Kehidupan kebangsaan yang kuat bukan dijunjung tinggi dan diagungkan di atas kematiaan identitas kesukuan dan kebudayaan yang beraneka ragam itu. Keduanya saling menguatkan dan menghidupkan, bukan saling melemahkan dan membunuh.” RGM)

    Pernyataan ini betul adanya dan begitulah yang harus kita kembang luaskan sekarang ini, bukan mematikan ‘primordialisme’ atau ‘sukuisme’..

    MUG

Leave a Reply