Kolom M.U. Ginting (Swedia): KBB dan Dalihan Natolu (Lanjutan)

0
163
muginting 13
Click foto untuk ukuran besar

M.U. GintingSaya merasa perlu menambahkan beberapa penjelasan untuk melengkapi berbagai pengertian dalam artikel KBB dan Dalihan Natolu (Lihat http://www.sorasirulo.com/?p=5086), karena pasti terasa sangat kurang kalau pembacanya bukan orang Karo atau sedikit mengetahui seluk-beluk bahasa dan tradisi Karo; termasuk bagi perantau anak-anak muda Karo.

Rakut Sitelu Karo atau kalau diterjemahkan jadi ‘tiga ikatan’, terdiri dari 3 unsur yang menjadi satu kesatuan dalam satu sistem kekerabatan sosial dan cara hidup masyarakat Karo. Selain Rakut Sitelu tentu saja cocok dipakai nama atau istilah lain yang lebih modern tetapi juga tetap dalam pengertian yang sama, seperti Tritunggal Karo atau Trias Politika Karo. Semua ungkapan ini menggambarkan satu sistem kesatuan dari 3 unsur yang erat hubungannya satu sama lain, atau sistem itu hanya berfungsi jika ada ketiga unsurnya. Ketiga unsur itu ialah Anakberu, Senina, Kalimbubu (di artikel hanya tersebut Kalimbubu).

Kalimbubu adalah golongan pemberi dara dalam perkawinan atau rumah tangga keluarga. Dari sini juga harus dilengkapi dengan Puang Kalimbubu, artinya kalimbubu dari kalimbubu. Anak beru ialah golongan penerima dara dari perkawinan atau rumah tangga. Di sini masih harus dilengkapi dengan Anakberu Menteri, yaitu anak beru dari anak beru. Senina atau Sembuyak ialah golongan yang bersaudara dalam arti seibu-sebapa, semarga, Senina bagi orang Karo punya pengertian yang lebih luas, seperti senina sipemeren, dan juga siparibanen.

Dengan sistem kekeluargaan yang begitu lengkap dan kompleks ini, ditambah lagi dengan keluarga dari Nini Bulang dan Nini Tudung dari pihak ibu dan ayah, seorang manusia Karo disadari atau tidak, diketahui atau tidak, dikenal atau tidak, bisa punya jumlah anggota dalam lingkungan kekeluargaannya sekitar 100 orang. Ini semua bisa ditelusuri dengan ERTUTUR, menyelusuri saling hubungan secara lisan, dan bisa sampai beberapa generasi ke belakang. Ini bukan yang tidak biasa bagi orang Karo dan masih berlaku di zaman modern ini. Barangkali ini jugalah salah satu sebabnya mengapa orang Karo jarang menuliskan asal-usulnya.

Bagi orang di luar Karo, perlu juga dijelaskan bahwa tiap orang Karo pada gilirannya adalah anak beru, adalah senina, adalah kalimbubu. Tiap manusia Karo, seperti juga tiap manusia dalam hidupnya, akan pernah jadi golongan penerima dara, maupun pemberi dara.

Dalam Dalihan Natolu orang Batak, anakberu-senina-kalimbubu menjadi Boru, Dongan sabutuha, Hula-hula. Di Batak urutannya lain, Kalimbubu atau Hula-hula yang pertama, menjadi Hula-hula, Boru, Sabutuha atau kalimbubu, anakberu, senina. Hula-hula jadi urutan pertama di Batak, katanya golongan itulah yang ‘tertinggi’. Bagi Karo dalam ungkapan anakberu-senina-kalimbubu, dalam urutan pertama ialah anakberu. Bisa jadi karena tanpa anak beru tak ada pekerjaan adat yang bisa terlaksana. Anak beru adalah pekerja yang mampu dan harus menyelesaikan semua persoalan kerja adat.

Inilah keaslian Rakut Sitelu Karo, peran utama dan petugas dan penanggungjawab utama pekerjaan adat ada di tangan anak beru. Kalimbubu hampir tak berperan dalam tugas-tugas fisik, tapi tetap sebagai penasihat utama dan tempatnya tersedia di tempat ‘terhormat’. Senina/ Sukut adalah penanggung jawab dari segi material/ peralatan yang kalau sekarang lebih tepat dari segi ekonomi/finansial, istilah mana belum ada 7500 tahun lalu. Karena itu urutan anakberu-senina-kalimbubu adalah gambaran yang mencerminkan bagaimana sistem ini muncul dan lahir secara natural. Anakberu inilah yang pertama berinisiatif mencari dara penerus kehidupan, artinya kebutuhan utama manusia menjamin kelangsungan generasi berikutnya. Sangat natural.

Ikatan kekerabatan sosial atau sistem kekeluargaan orang Karo didasari oleh filsafat hidupnya ‘sikuningen radu mengersing, siagengen radu mbiring’ atau secara modern disebut win win solution, atau benang merahnya ialah selalu mengusahakan supaya semua bisa menang. Ini jugalah salah satu sebab mengapa sistem kekerabatan Karo itu bisa bertahan sampai ke era modern walaupun sudah berumur sangat tua.

Pemikiran dialektis Karo atau Dialektika Karo juga merupakan satu sebab penting bertahannya sistem kekluargaan Karo. Dialektika adalah satu cara pikir, analisa perubahan dan perkembangan darisegi kontradiksi. Dan tak ada perubahan tanpa kontradiksi. Karena itu way of thinking Karo bertahan, berubah dan berkembanga sesuai dengan hukum-hukum kontradiksi.

 

Leave a Reply