Refleksi Tulisan INTEGRITAS JATIDIRI DAN KEBANGSAAN

1
247

M.U. GintingOleh : M.U. Ginting (Swedia)

Artikel soal KBB (Karo Bukan Batak) oleh RGM yang berjudul INTEGRITAS JATIDIRI DAN KEBANGSAAN (lihat http://www.sorasirulo.com/?p=5129) sangat gamblang dan explisit. Gampang dimengerti bagi semua. Artikel ini menunjukkan penjelasan yang semakin mendalam dan luas soal gerakan pencerahan KBB. Betul sekali bahwa KBB bukan sekedar istilah, tapi melukiskan dengan pengertian yang sangat kuat, soal INTEGRITAS kekaroan, kehormatan dan harga diri Karo sebagai etnis maupun perorangan.

Soal ‘sukuisme’ sangat bagus dijelaskan dalam artikel RGM ini. Sukuisme yang positif atau primordial yang positif yang mendukung keaslian dari segi kultur dan tradisi etnis-etnis bangsa kita, adalah pendukung kebangsaan itu sendiri.

“Kehidupan kebangsaan yang kuat bukan dijunjung tinggi dan diagungkan di atas kematiaan identitas kesukuan dan kebudayaan yang beraneka ragam itu. Keduanya saling menguatkan dan menghidupkan, bukan saling melemahkan dan membunuh,” tulisnya.

Pernyataan ini betul adanya dan begitulah yang harus kita kembangluaskan sekarang ini, bukan mematikan primordialismeatau sukuisme.

juara 10KBB jelaslah juga berfungsi sebagai obat mujarab penyakit ‘krisis identitas’yang pernah melanda suku Karo dalam era Orba, yang sengaja ditekan karena nasionalisme Soekarnonya Karo atau karena ‘minoritas’nya Karo atau karena persaingan etnis yang sengit dalam era Orba, termasuk SARA Jawanisasi dan Islamisasi pimpinan Soeharto.

Politik SARA Soeharto juga ikut menyumbangkan rasa ‘takut sukuisme’ pada banyak etnis terutama yang minoritas, dan juga sebagian besar orang Karo. Pelabelan ‘resmi’ secara nasional maupun internasional dan bahkan sejak Perang Sunggal atas orang Karo sebagai ‘Batak’ atau ‘Batak Karo’ meninggalkan ‘penyakit stigma’ yang mendalam bagi sebagian Karo. Dan, terutama yang sudah berumur 40-50 tahun ke atas, masih merasakan kesan ‘mengerikan’ kalau berani mengucapkan Karo Bukan Batak, takut dicap sukuisme, atau anti nasionalisme, anti ‘persatuan dan kesatuan’ dsb. Atau secara psikologis juga takut menyinggung perasaan suku lain terutama suku Batak. Ketakutan dan ‘jaga perasaan’ ini berakibat sangat mendalam bagi sebagian orang Karo, sehingga krisis identitas peninggalan era Orba masih belum terkikis sepenuhnya.

Krisis identitas berakibat sangat mendalam bagi penderitanya, tak ada pede (self esteem) sama sekali, terutama kalau menyinggung persoalan etnisnya sendiri dalam menghadapi etnis lain. Memposisikan diri ke ‘zona aman’ sebagai tempat ‘nyaman’ untuk berlindung, sering menjadi pilihan. Tetapi, keraguan dan kegelisahan sebagai akibat dari kontradiksi yang semakin tajam dalam pikiran (antara menunjukkan sebagai Karo atau sebagai Batak), tetap mendominasi kesibukan jiwa.

Banyak penyelidikan internasional yang mendalam soal ini, termasuk dari segi psikologis soal identitas etnis ini sangat banyak dibukukan, dan banyak yang menyimpulkan bagaimana eratnya hubungan identitas yang kuat dengan well-being suku tertentu sebagai perorangan maupun sebagai suku.

Bagi orang-orang Karo di bawah umur 30-35 tahun masih penuh kegairahan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan terakhir perjuangan pembebasan etnis-etnis dunia dalam era ethnic/cultural revival dan terutama dari perkembangan perang etnis dan pembebasan banyak nation dari segi kultural, dan yang sangat banyak ditulis dan dipelajari kembali oleh ahli-ahli antropologi maupun ahli-ahli psikolog seluruh dunia.

Di Indonesia terutama belajar dari gerakan pencerahan KBB (Karo Bukan Batak), karena KBB meliputi seluruh seluk beluk dan perkembangan dunia dalam soal kultur dan gerakan pembebasan kultur etnis-etnis seluruh dunia dimana Karo sebagai contoh konkretnya. Bagi yang memahami KBB terlihat semakin jelas tak ada stigmatisasi yang ditakuti lagi, tak ada lagi krisis identitas, maupun ‘jaga perasaan’ yang sangat merugikan gerakan maju berpikir Karo dalam soal kesukuannya dan jati dirinya. Bagi mereka ini juga sangat jelas kesadaran IDENTITASNYA dan INTEGRITASNYA. Atau bisa juga dikatakan bahwa identitas dan integritas yang KUAT adalah penyangkal segala macam stigmatisasi maupun krisis jati diri. Dari segi psikologi dan disimpulkan oleh ahli-ahli psikolog dunia bahwa IDENTITAS ETNIS YANG KUAT, sangat banyak artinya bagi perkembangan well-being atau kebahagiaan tiap orang, bahkan juga sangat mempengaruh kemajuan yang bisa dicapai di bidang akademis.

Kita bisa merasakan bagaimana tak enaknya perasaan dan pikiran orang-orang Karo yang masih sangat takut mengatakan ‘saya bukan Batak’, untuk mengatakan terus terang siapa dirinya; bukan seperti yang diinginkan orang lain atau seperti yang dikatakan oleh orang lain, atau merasa berkewajiban harus mengatakan seperti yang disukai orang lain seperti juga banyak tertulis di Wikipeda.

siti jariah 114
Bulgad (Bulung gadung), masakan daun ubi/ ketela khas Karo.

Seperti saya sebutkan di atas, mereka ini masih berusaha mencari ‘zona aman’ dan kemungkinan seumur hidupnya tidak akan bisa mengobati krisis identitas ini kalau tak ada perhatian. Kontradiksi yang semakin tajam antara yang lama dan yang baru dalam pikiran/jiwa orang-orang ini, dimana dia harus mempertahankan yang lama karena sungkan atau takut mengubahnya dan sebaliknya harus mengubahnya karena tuntutan zaman. Sangat tak enak memang, untuk tidak mengatakan sangat sakit, terutama kalau bertemu dengan situasi dimana dia harus memilih salah satu, yang baru atau yang lama. Dan, situasi begini semakin sering saja dihadapi.

Sebenarnya, pastilah sangat membantu kalau trauma seperti ini bisa ditangani secara psikiatris, karena memang akibatnya sangat mendalam bagi kesehatan dan perkembangan pikiran penderitanya yang masih terdapat di sebagian orang Karo sebagai salah satu suku bangsa negeri ini.  Tetapi, hal ini sangat terlalu diremehkan di negeri berkembang, juga di Indonesia dan di Karo. Trauma dan krisis identitas selama 30 tahun lebih kekuasaan Orba bagi suku Karo bukanlah persoalan remeh, dan juga bukan persoalan remeh bagi Indonesia secara keseluruhan, karena kebahagiaan, kekuatan dan pertumbuhan tiap etnis adalah tulang punggung kekuatan negeri Indonesia.

Persoalan ini adalah persoalan krisis IDENTITAS satu suku bangsa yang pada zamannya adalah suku terkemuka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dalam melawan penjajahan serta melawan mati-matian dan berjangka panjang perampokan penjajah atas tanah-tanah subur negeri ini. Tapi siapa yang mengenal suku Karo dan perjuangan suku Karo? Bahkan nama atau istilah Karo sebagai satu suku saja tertutup rapat, oleh istilah ‘Batak’.

Ini sudah dimulai sejak pemberontakan Karo dalam Perang Sunggal dengan sebutan ‘Batak Oorlog’.  Istilah ‘Batak’ di sini ketika itu dimaksudkan kolonial untuk menghina dan mengisolasi suku Karo dari sikap dan tindakan ‘teroris’ yang mengacau dan memerangi Belanda. Bagi kolonial, ‘Batak’ berarti biadab tak punya sivilisasi dan bahkan kanibal, dan bagi Karo, kata ‘Batak’ punya arti yang negatif juga, yaitu ‘perampok’ atau ‘orang yang mengembara sambil merampok’ (kamus Karo Darwin Prinst, 2002).

Ini semua sedikit banyaknya menyangkut dan telah bikin krisis identitas bagi Karo. Yang lebih buruk lagi ialah situasi begini malah diamanfaatkan untuk kemenangan dalam persaingan antar etnis atau ethnic competition. Apakah semua suku bangsa Indonesia bisa mengikuti filsafat mengharapkan supaya banyak orang Karo menderita krisis identitasnya? Jawabnya ialah ‘ethnic competition’, dibikin positif atau negatif!

Ethnic competition bisa diarahkan jadi positif mendukung perubahan dan perkembangan dan dengan sendirinya untuk mencapai dan mendorong KEMAJUAN bersama. Tapi ini hanya berlaku bagi penganut filsafat modern WIN WIN SOLUTION, “sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring“.

Apakah semua suku bangsa Indonesia bisa mengikuti falsafah modern ini? Pasti bisa! Karo termasuk salah satu yang akan jadi pelopor dan akan berdiri di garis depan seperti halnya dalam menghadapi penjajahan Belanda. Rakyat Karo adalah pahlawan, kata Hatta 1948.

Ayolah, Karo! Majulah di garis depan, tunjukkan keaslian patriotismemu di era modern ini. Dalam tiap perjuangan harus ada pelopor, bukan hanya dalam menentang penjajahan mencapai Kemerdekaan, tapi juga perjuangan pembebasan sekarang, terutama kultural, dalam arti keadilan bagi semua etnis/kultur dan daerahnya. Hiduplah semua etnis dan kultur!

1 COMMENT

  1. Ulasan yang sangat menarik, terutama pada saat kalimat ” dan disimpulkan oleh ahli2 psikologi dunia bahwa identitas etnis yang kuat sangat banyak artinya bagi perkembangan well-being atau kebahagiaan tiap orang, bahkan juga sangat mempengaruhi kemajuan yang bisa dicapai di bidang akademis” (MUG). Terutama bila mencermati bahwa orang-orang yang berhasil dalam bidangnya (akademis, profesi dan ekonominya) cenderung menyatakan identitas dirinya (primordialnya) dengan jelas. Barangkali ada korelasi positip (benang merah) antara orang yg bisa mengidentifikasi dirinya (pride, passion and goal) secara jelas dan tegas dengan prestasi yang diraihnya.

Leave a Reply