Kolom M.U. Ginting: PEMEKARAN SUMUT

1
215

M.U. Gintingmuginting 16Putusan DPR dalam sidang 25 Oktober 2013 untuk segera membahas 65 Rencana UU pembentukan daerah otonomi baru yaitu 8 propinsi baru dan selebihnya banyak kabupaten. Diantara 8 propinsi baru itu salah satu ialah Propinsi Tapanuli (Protap) yang sudah sejak Reformasi mulai diperjuangkan oleh orang-orang Tapanuli (Batak, terutama ex Taput). Dr. Sutradara Ginting (DPR) ketika di Medan bulan Agustus 2006 pernah menyatakan persetujuan dan kegairahannya dalam mendukung pendirian Protap. Dr. SG bilang, ketika itu, diperlukan kerjasama dan integrasi antara propinsi induk Sumut dan elit komunitas Tapanuli untuk memperjuangkan dan pengoperasian propinsi baru ini (SIB 23 agustus 2006). Sekarang, 2013, kelihatan perjuangan ini sudah berhasil, tinggal bagaimana nanti pengoperasiannya seperti yang pernah diingatkan oleh Dr. Sutradara Ginting 7 tahun lalu.  

Orang-orang Karo umumnya sangat sependapat dengan Dr. Sutradara Ginting dalam menghadapi perjuangan orang-orang Tapanuli untuk mendirikan propinsi sendiri, dan begitu juga daerah-daerah lainnya atau propinsi-propinsi lainnya yang ingin memisahkan diri dari Sumut seperti Nias (termasuk dalam 8 propinsi baru di atas), Sumtra (Tapsel), Aslab dan juga berjuang untuk propinsi Karo.

Ketua DPR Marzuki Ali antara lain menyatakan, sejumlah faktor pendorong pembentukan provinsi baru adalah faktor perbatasan daerah dengan negara lain, jumlah penduduk, potensi daerah dan potensi ekonomi. Selain itu ada pula alasan pelayanan pemerintahan, dan kesamaan budaya serta histori sejarah (Erabaru News, Jumat, 25 Oktober 2013 16:47).

Apa yang baru dan sangat menggembirakan dan sangat sesuai dengan tuntutan perkembangan dunia ialah soal ’kesamaan budaya serta histori sejarah’ yang telah dimasukkan dalam agenda pertimbangan. Pemikiran Gus Dur soal pemekaran daerah yang disesuaikan dengan kultur budayanya, sudah mulai diresapi dan dipahami sebagai faktor yang takbisa lagi diabaikan oleh elit politik negeri ini. Ini adalah persoalan yang tak mungkin diterima oleh elit politik negeri ini pada era Orba maupun pada permulaan era Reformasi selain Gus Dur. Padahal, tiap hari juga kita dengar dari mulut hampir semua elit soal jargon (politik) ’melestarikan budaya dan kultur dan memanfaatkan kearifan lokal’.

Soal ini tadinya cuma di bibir kaum elit, tetapi sekarang sudah dalam praktek, dan dipraktekkan oleh penduduk daerah untuk melesarikan dan memanfaatkan kultur dan budayanya serta seluruh kemampuan dan potensinya untuk membangun daerahnya. Dari sinilah, dan dengan cara inilah, seluruh nation ini akan dibangun oleh seluruh suku bangsanya dengan basis kuat berbagai kultur dan budayanya.

Salah satu daerah dan kultur yang masih belum dimekarkan jadi propinsi di Sumut ialah daerah-daerah Karo. Propinsi Karo bisa terdiri dari Kabupaten Karo, Deli Hulu (Karo Deli), Langkat Hulu (Karo Langkat), Singalorlau, Laubaleng-Mardingding, Tigalingga/Taneh Pinem (Karo Dairi), dan jika perlu Berastagi  jadi Pemerintahan Kota.

Suku Karo, seperti sudah ditunjukkan oleh Alm. Sutradara Ginting, sangat mendukung semua suku-suku lain di Sumut dalam melestarikan kultur dan budayanya serta pemekaran daerahnya demi pembangunan dan perkembangan kemajuan seluruh nation Indonesia. Orang Karo juga mengharapkan perlakuan yang sama dari suku-suku lain.

1 COMMENT

  1. Sejarah Singkat Pemekaran Sumut

    Akhir th 50-an sampai permulaan 60-an ada gerakan pemekaran Sumatera Timur. Ketika itu penggerak utama ialah orang-orang Karo, dan dua suku lainnya Melayu dan Simalungun juga memilih untuk mendukung gerakan ini. Orang-orang Karo yang sangat antusias ketika itu, selain orang-orang politik juga sangat antusias ialah para pengusaha Karo yang ada di Medan. Gerakan ini belum jadi gerakan yang merata dikalangan suku-suku pendukungnya, dan juga tak banyak informasi dari segi argumentasi kebutuhan maupun alasan-alasan yang bisa berkembang ketika itu. Tabu ‘sukuisme’ dan primordialisme lebih cepat mendominasi pemikiran umum daripada kegunaan praktis pemekaran Sumtim. Partai-partai politik yang sangat menonjol dan terdepan menentang pemekaran itu ialah PKI ketika itu, dan juga ada penentangan atau keberatan dari pihak PNI tetapi tak besar pengaruhnya. Boss PNI di Sumut ketika itu ialah Selamat Ginting, dan dia tidak menentang Sumtim.

    Para penentang malah menyamakan Sumtim dengan NST (Negara Sumatra Timur) buatan Belanda pada awal kemerdekaan. Suku-suku yang paling menentang ialah orang Batak dan orang Mandailing. Dua suku ini kemudian setelah reformasi berlomba bikin propinsi sendiri, dan yang sudah berhasil sekarang ialah Protab (ex Taput orang Batak).

    Thomas Sinuraya sebagai golongan pemuda komunis ketika itu berada didepan menentang terus terang pendirian Sumtim. Thomas dan PKInya sangat menentang ‘sukuisme dan primordialisme’, aliran politik populer pada zaman itu (Orla). Bagi mereka ‘internasionalisme’ sangat lebih penting dari primordialisme atau sukuisme.

    Thomas Sinuraya sekolah dan tinggal di Moskow, kemudian menjadi satu-satunya perwakilan PKI di LN setelah peristiwa 65. Uni Soviet mengakui Thomas Sinuraya sebagai perwakilan PKI, tetapi China tidak mengakuinya karena harus mengakui Jusuf Ajitorop sebagai perwakilan yang sah PKI dan ada di Peking ketika itu. Dua macam pengakuan ini berakar dari pertengkaran ideologi yang sudah lama terjadi (memuncak pada permulaan 60-an) antara dua negara komunis yang besar itu (Uni Soviet dan China). Karena itu didalam tubuh PKI juga terjadi walaupun masih belum sempat terbuka, perpecahan ‘ideologis’ yang sangat deras. Ketika itu terkenal dengan sebutan ‘jalan damai’ atau ‘jalan revolusi’. Jalan damai dimaksudkan jalan ‘revisionis’ Soviet, dan jalan lain yang didukung oleh China yaitu jalan revolusi artinya dengan kekuatan senjata, ‘kekuasaan lahir dari laras senapang’, seperti yang sudah terjadi dengan sejarah kekuasan di China atas pimpinan Mao Tse Tung, begitu juga Vietnam.

    Polpot di Kamboja adalah salah satu yang mempraktekkan teori kekuasaan laras senapang ini, tetapi gagal total. Teori laras senapang ini juga dipakai jenderal Soeharto dalam merebut dan mempertahankan kekuasaannya, bahkan diikuti dengan pembunuhan besar-besaran yang belum pernah ada bandingannya dalam sejarah kemanusiaan dunia. Soeharto tidak pernah sedetikpun berani lepas dari laras senapangnya. Dia sangat ketat pegang teori ‘laras senapang’. Karena itu soal pemekaran daerah disini tak pernah ada yang berani menggubris, termasuk pemekaran Sumtim. Bahkan Soeharto dengan ‘laras senapang’ juga menambah propinsinya yaitu Timor timur. Baru setelah Soeharto lengser pada era reformasi mulai lagi pembicaraan Sumtim, dan yang kemudian diikuti oleh suku-suku lainnya. Yang sudah berhasil ialah Nias dan Protap dengan putusan DPR RI 2013. Penggerak propinsi orang Mandailing (Sumtra/Tapsel) kelihatannya ‘tenang-tenang’ saja. Sejak semula juga mereka ini ada keraguan, karena telah keenakan jadi pemimpin turun-temurun Sumut.

    Sepanjang sejarah Sumut bisa dilihat juga bagaimana etnis-etnis Sumut naik-turun singgasana kekuasaan di Sumut dimana Karo pernah juga naik singgasana ini, ketika Ulung Sitepu dan Djamin Ginting, intermezo semenatara menggantikan dominasi Mandailing yang setelah kemerdekaan secara ’turun temurun’ mendominasi kekuasaan di Sumut. Bahkan setelah reformasi orang Tapsel masih ngomong mau meneruskan jadi pemimpin Sumut seperti dikatakan oleh orang Tapsel Drs H Rahmad Hasibuan

    “Yang harus kita dorong agar bersama-sama mengangkat citra Tapsel, yaitu kembali menjadi pemimpin Sumut dari Tapsel sebagaimana yang telah ditunjukkan sejumlah mantan Gubsu yang berasal dari Tapsel” (SIB 09 Oktober 2006):

    http://groups.yahoo.com/neo/groups/tanahkaro/conversations/messages/37475

    Teori:

    Abad 20 adalah abad berkembangnya ‘teori persamaan’, seperti multikulturalisme dll. Dalam abad ini manusia berusaha mencari persamaan dimana-mana dan menghindarkan perbedaan.

    Abad 21 adalah abad ‘teori perbedaan’, dimana-mana manusia berusaha menjelaskan perbedaan terutama dari segi kultur/budaya. Penulis dunia mencoba menggambarkan dengan berbagai tema, seperti Huntington, Moisi dll.

    MUG

    “Jika diam saja tak akan ada perubahan”

Leave a Reply