Kolom M.U. Ginting: BATAK DAN BUKAN BATAK

0
229
annez 1.
Preman-Terpelajar Karo Bersama Tumbuk Lada yang telah menjadi kecenderungan baru di kalangan pemuda Karo dalam mempertahankan jatidirinya. Model: Anez Sbastian Tarigan

M.U. GintingIstilah ’Batak’ dan ’bukan Batak’ telah menjadi fenomena baru dunia, yang sebetulnya berasal dari Sumatera bagian Utara. Sumber serta penonjolan istilah ’Batak’ berasal dari satu suku yang bernama Toba tetapi mengaku ’Batak’ dan dikenal hanya sebagai ’Batak’. Istilah lainnya ’bukan Batak’, berasal dari 4 suku lainnya di Sumut yaitu Karo, Pakpak, Mandailing dan Simalungun. Pengertian siapa ’Batak’ dan siapa ’bukan Batak’ telah menjadi diskurs terkenal di Indonesia dan dunia karena di dalamnya terkandung pengertian baru dan pengetahuan baru antropologis dan yang ’terpaksa’ dipahami, umumnya supaya tidak bikin ’kesalahan’ yang mungkin bisa serius dan berakibat ’tak enak’ bagi tiap orang. Dan, kalau tak mengerti, bisa juga malah dianggap terlalu ’rendah’ pengetahuannya tentang suku-suku negerinya sendiri, atau bisa ’menghina’.

Di bawah ini saya kutip dari berbagai website:

http://tanobatak.wordpress.com/2010/07/21/kenapa-harus-karo-bukan-batak/

Beberapa Pengertian Budaya:

Beberapa perkataan “Batak” nyaris ditemui di semua suku di Sumut. Di Pakpak Dairi berbunyi: “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tepak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Mmas Batakn diartikan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia.

Di Karo dikenal upacara mbatak-mbataken; yakni mengembalikan roh penjaga (jinujung) kepada seseorang. Seorang Karo yang hendak mendirikan rumah, juga melakukan “Ibatakkenmin adah nda“, yakni ritual meratakan tanah, agar rumah yang akan dibangun diberkahi.

Pada Simalungun, terdapat perkataan “Batak” antara lain “Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah benteng agar bagus sawah kita ini.

Di luar itu, di masyarakat Pilipina konon ada satu pulau yang bernama “Batac” (huruf �c� di belakang).

Konon pengertian kata “Batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Sejumlah kata yang sama ucap dan pengertiannya, juga ditemukan di pulau itu, seperti; “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya).

KOMENTAR

Kutipan di atas (tanobatak wordpress) adalah bagian dari pengertian lama ’Batak’. Selebihnya (di bawah ini) adalah pengertian baru dalam pengetahuan baru dunia soal ’Batak’.

Menurut tanobatak wordpress ini, semua jadi Batak karena istilah ’batak’ ada pada semua suku-suku yang dibatakkan itu. Perlu juga agaknya ditambahkan satu pengertian ’batak’ lagi supaya lebih lengkap, yaitu dari kamus Karo Darwin Prinst, dimana ’batak’ artinya perampok atau orang yang mengembara sambil merampok.

Bahwa suku-suku lainnya seperti Simalungun, Pakpak, dan Mandailing telah begitu sering ada  pengumuman global bahwa mereka bukan Batak, mungkin lebih penting untuk diketahui semua argumentasinya yang lebih masuk akal daripada persamaan beberapa kata yang ada pada semua suku seperti dicontohkan tanobatak wordpress.

Menurut professor yang orang Batak Bungaran Simanjuntak, asal usul orang Batak (’penunggang kuda’) datang dari Taiwan (Pilipina) sekitar 2500 tahun yang lalu. Orang Karo dan Gayo menurut penemuan terakhir adalah manusia dengan budaya tertua didunia yang pernah ditemukan dan sudah berumur 7400 th.http://www.setkab.go.id/nusantara-4750-tim-arkeologi-balar-temukan-fosil-berusia-7400-tahun-di-aceh-tengah.html

Jadi untuk Karo dan Gayo sudah jelas tak bisa dimasukkan ke Batak si ’penunggang kuda’. Umur sangat berbeda.

Mandailing Bukan Batak: Toba dan Mandailing banyak sekali persamaan kosa katanya, tetapi Mandailing Bukan Batak bisa terbaca di banyak site. http://doharharahap.blogspot.se/2011/03/mandailing-bukan-batak.html

’Simalungun Bukan Batak’, https://www.facebook.com/notes/brd-silalahi/simalungun-bukan-batak/169937849880347

Pakpak Bukan Batak, http://pakpakbharatblog.blogspot.se/2012/05/suku-pakpak-bukan-batak.html

Karo Bukan Batak, banyak sekali site-nya dan sedang rame di FB Jamburta Merga Silima.

Di antara orang Karo, Pakpak dan Simalungun ada yang mengatakan bahwa dengan pengertian baru Karo Bukan Batak atau Pakpak Bukan Batak atau Simalungun Bukan Batak, berarti ’menghina kami yang menganggap diri kami adalah bagian dari Batak’. Tetapi mereka ini sama sekali tak merasa menghina yang lain kalau dibatakkan atau dibilang bagian dari Batak.

Apakah di sini soal ’penghinaan’ atau soal jati-diri, integritas/selfrespect atau selfesteem? Kalau orang Karo, Pakpak, Simalungun berdiri sendiri sebagai etnis punya jatidiri dan integrity sendiri tak perlu etnis lain atau yang merasa dirinya bagian dari etnis lain ’merasa terhina’. Self-esteem, Integrity, Identity ada pada tiap etnis, tak bisa terpisah dari etnisnya.

eka prima
Acara menangguk ikan (Ndurung) di Tambak Beringin (Sugihen, Dataran Tinggi Karo) dalam menyongsong acara Kerja Tahun (Foto: Eka Prima)

Kalau ada yang merasa dirinya bagian dari identity atau integrity etnis lain, ini juga satu pemikiran walaupun susah untuk dijelaskan, bagaimana kalau identitas seseorang atau satu etnis  adalah bagian dari identitas orang lain atau etnis lain? Ini sebenarnya tak ada atau tak mungkin. Karena yang membedakan etnis yang satu dari etnis yang lain justru adalah IDENTITASNYA atau JATI DIRINYA.

Gayo dan Alas dimasukkan juga sebagai Batak oleh antropolog USU Amir Nadapdap sebagai Batak Gayo dan Batak Alas. Tetapi pengertian ini harus menghadapi saingan riil dari antropologi Aceh/kolonial bahwa orang Gayo dan Alas adalah Aceh-Gayo dan Aceh-Alas, menjadi sub-etnis Aceh.

Belakangan orang Gayo dan Alas juga Singkil, sudah berani menunjukkan jati dirinya sendiri (identitasnya) yang memang lain dari jatidiri atau identitas orang Aceh. Mereka ini bahkan mau bikin propinsi sendiri pisah dari Aceh (juga ABAS), dan menentang pengibaran bendera Aceh/GAM di daerah mereka. Tetapi orang Aceh sangat berkeberatan bikin pemekaran dengan alasan yang sangat lihai dipersiapkan atas kebodohan pusat soal daerah, Pusat tertipu di Persetujuan Helsinki tak boleh mekarkan Aceh. Ketika itu Pusat tak mengerti kalau di Aceh banyak suku-suku lain. Bahkan tak ngerti sama sekali kalau daerah Aceh/GAM kurang dari 25% kalau kedua propinsi ini jadi dimekarkan, apalagi kalau Tamiang juga mekar sendiri.

Dalam pengesahan UU pemekaran terakhir di DPR ada 8 propinsi, dua di Sumut (Nias dan Protap) tetapi tak digubris sama sekali ALA dan ABAS walaupun mereka ini yang paling lama telah berjuang untuk mekar atau pisah dari Aceh. Jerat Helsinki sudah mencekik leher Pusat, walaupun yang tercekik dalam kenyataan sebenarnya ialah orang ALA dan ABAS.

Kalau Sumtra (Tapsel) juga dijadikan propinsi seperti juga mereka sudah lama menuntutnya, maka tinggal hanya Sumtim yang juga termasuk Simalungun. Kalau ASLAB juga dimekarkan maka tinggal Deliserdang dan Langkat + Medan yang bernama Sumtim. Simalungun dan Dairi + Pakpak Bharat bisa pilih sendiri, ke Protap atau ke Sumtim. Daerah Deliserdang dan Langkat adalah daerah asli orang Karo/Melayu, maka perlu juga dibangun PROPINSI KARO, atau yang tinggal  hanya propinsi Karo dan Kota Medan yang juga bisa dibikin sebagai tingkat propinsi.

Untuk Propinsi Karo, perlu dimekarkan Deli (Hulu), Langkat Hulu, Singalorlau, Laubaleng/Mardinding, Tigalingga/Taneh Pinem dan Kabupaten Karo. Kalau perlu, juga Kota Berastagi dengan catatan hanya kalau dalam rangka jadi propinsi Karo. Penggiat dan pekerja lobbi Karo harus muncul dan bertindak. Berhasilnya Taput dan Tapsel jadi berbagai kabupaten tak lepas dari keaktifan di lapangan, pemrakarsa dan tukang lobbi, di daerah maupun di pusat. Secara pencerahan dan argumentasi teori yang ilmiah, Karo berada di puncak, tetapi ini saja tidak cukup sudah jadi pengalaman kita.

Leave a Reply