KALAK KARO ERBELAS

5
392
Manuk Cabur Bintang (Foto: Rudy C. Pinem)

Oleh: Superta Tarigan Silangit

Seberapa besar tanggapan anda tentang suku Karo yang dianggap sebagai salah satu suku di dalam rumpun Batak? Semua kembali kepada kita sendiri tentang bagaimana sebenarnya suku Karo dan keterkaitannya dengan rumpun Batak. Tetapi, di sini saya memberi pertanyaan pribadi yang mungkin juga anda pertanyakan selama ini. Mengapa harus Batak nama rumpunnya?

Sejarah tentang asal usul suatu kelompok/ suku dapat ditulis oleh seorang individu/ kelompok tanpa menunggu persetujuan dari banyak pihak, terlebih lebih si empunya suku. Apalagi keterkaitanya dengan suku Karo. Mungkin di luar sana banyak tertulis sejarah suku kita tanpa menunggu persetujuan dari kita (kalak Karo). Bukan berarti tulisan-tulisan yang sudah ada tidak penting, tapi, lebih penting lagi, adalah bagaimana kita mengambil nilai positif dari tujuan kita membuka lembaran-lembaran tulisan sejarah itu.

Saya mengajak anda mempertanyakan, atas dasar apa sebenarnya suku Karo adalah bagian rumpun Batak?

Pertanyaan ini muncul karena tidak adanya alasan khusus apa sebenarnya yang menjadi penyebab suku Karo dikatakan masih bagian rumpun Batak. Terlebih-lebih, sampai saat ini, belum ada tulisan kuno dari sejarah suku Karo yang menuliskan bagaimana sebenarnya awal mulanya suku Karo masuk ke rumpun Batak. Berikutnya, saya ingin memberikan suatu hal yang mungkin bisa menjadi jalan untuk kita (warga suku Karo) demi gambaran yang bisa menjawab beberapa poin dari pertanyaan di atas.

Lahirnya kata Batak tidak lain adalah wilayah yang bernama Tapanuli. Saya kira gambaran wilayah kita bisa menentukan kalau sangatlah jauh antara Taneh Karo Simalem dengan Tanah Tapanuli. Di tanah Tapanuli, Batak adalah sesuatu yang masih kontroversi cara penanggapannya (masyarakat Tapanuli).

Apa sebenarnya yang menjadi kontroversi? Yah, tidak lain adalah Tapanuli bagian Selatan mengatakan kalau Batak adalah mereka yang tidak setuju dengan ajaran Islam. Saya sangat percaya karena alasan kedekatan wilayah mereka ini masih bersaudara. Hal ini saya kira tidak perlu bukti-bukti tulisan sejarah karena mereka yang berada di bagian Selatan Tapanuli menamakan dirinya/ kelompoknya suku Mandailing dan mereka masih ada sampai sekarang.

superta 1Ini tidak perlu kita cari kebenaranya melalui buku-buku sejarah karena saksi hidup masih ada sampai sekarang.

Berkaitankah?
Di sini saya terangkan kembali bahwa kontroversi antara penganut kepercayaan di Tanah Tapanuli sama sekali TIDAK ADA KAITANNYA dengan suku Karo. Mengapa demikian?

Ciri khas suku Karo adalah Mehamat, Megermet, Metenget, Erendienta. Sangat jelas kata Mehamat itu membuktikan kalau orang Karo sebenarnya sangat menjunjung tinggi rasa saling menghormati antar sesama orang Karo. Tidak penting apa ajaran agama yang dianut oleh saudaranya (sesama suku Karo) tapi tetap saja orang Karo mehamat kepada semua orang, apalagi sesama suku Karo.

Publik di luar suku Karo juga sudah mengetahui kalau orang Karo sedikit lebih halus (lembut) dalam mengucapkan kata-kata dalam berbahasa, baik saat berbicara antara sesama suku Karo maupun dengan mereka yang di luar suku Karo.

Dengan segenap rasa yang ada, beberapa dari kita mungkin bertanya, kita punya Merga yang berkaitan dengan mereka yang ada di Tapanuli.

Kembali ke awal, haruskah dengan alasan menyandang Merga kita masih bagian dari pada Rumpun Batak yang sudah jelas itu hanya Pro dan Kontra di antara saudara kita yang ada di Tapanuli?

Tentu tidak, saudaraku. Kita tidak ada kaitan dengan semua itu. Itu hanya urusan mereka, dan bukan urusan kita. Yah, kita harus tegas diri untuk menghindar dari pada yang namanya masalah kepercayaan di kelompok lain/ wilayah lain. Kembali kepada mereka yang sangat bangga dikatakan Batak atau Bangso Batak, saya kira itu sudah jelas hak mereka. Tapi kita juga berhak kalau Suku Karo bukan lahir dari mereka/ Tapanuli.

Sangat berbeda halnya jika ada individu-individu  dari kita (sebahagian orang) yang mungkin leluhurnya berasal dari Tapanuli. Kita pahami mana urusan Suku, mana urusan Pribadi. Tidak bisa dipungkiri kalau sebagian dari kita ada yang dulunya berasal dari Pagaruyung, Simalungun/ Simelungun, Pak-pak, India dan mungkin ada lagi yang anda sendiri juga bisa melihat dari lembaran-lembaran buku sejarah tentang Merga di suku Karo. Akan tetapi, di sini juga saya terangkan, bukan tidak banyak saudara kita yang dari Simalungun/Simelungun, Pak-pak, Pagaruyung, India dan lain sebagainya yang juga tidak ingin merasa terkait ataupun berhak mengatakan kalau mereka juga bukan rumpun Batak.

Sebagai penerangan tambahan tentang Merga di suku Kita (suku Karo), ada sistem penabalan merga di suku Karo, yaitu IKAROKEN namanya. Sistem ini sangat jelas menghantarkan kita kepada “apapun merga awal yang kita bawa dulunya, harus menjadi Merga cabang Karo jika mau menjadi suku Karo”.

Lalu, apa merga utama itu? Tidak lain ialah MERGA SILIMA. Mungkin segala merga cabang yang ada di suku Karo menghantarkan kita kepada apa dan darimana garis-garis keturunan leluhur kita dulunya.

Tambahan
Sebenarnya, Merga di suku Karo mempunyai misi utama yang sama dengan mereka bersuku lain. Yah, tidak lain misi itu ialah menjaga supaya tidak adanya perkawinan semerga di suku Karo.

Sama halnya dengan saudara kita yang menamakan kelompoknya/ sukunya Melayu, tetapi merga di suku Karo diganti nama oleh mereka menjadi suku. Melayu juga sangat memantangkan yang namanya kawin sesuku. Hanya namanya saja yang berbeda (Merga di Karo & Suku di Melayu dan Minangkabau). Tujuannya tetap sama. Beberapa Merga/suku di Melayu: Piliang, Demo/ Domo, Rangkayo Bosar, Rangkayo Mudo, dll.

Penyimpangan
Mengapa ada huruf B di salah satu rumah ibadah suku Karo? Mungkin ini salah satu dilema bagi sebagian kita. Namun begitu, di sini sangat jelas bisa saya terangkan kalau orang Karo yang menjadi Jemaat di salah satu rumah ibadah itu, tidak lain adalah bertujuan untuk beribadah kepada Tuhan, bukan lantaran alasan suku Karo adalah rumpun B. Ini harus dibedakan dengan jelas.

superta 2Saya sangat yakin, dengan salah satu ciri khas Suku Karo yang Mehamat. Mungkinkah kita orang Karo ini terlalu Mehamat kepada semua orang? Ada sejarah yang mengatakan nama rumah ibadah itu memakai huruf B dimulai pada tahun 1941, yang sejarahnya beberapa orang dari suku Karo diberi pendidikan yang berhubungan dengan ajaran agama itu di daerah Tapanuli. Sebelum 1941 saya sangat percaya kalau ajaran agama itu sudah dikenal oleh masyarakat Karo walaupun tanpa ada huruf B di penamaan rumah ibadahnya. Tapi, tidak ada salahnya kita-kita ini mengikuti jejak suku tetangga kita yang sudah menghilangkan huruf B di dalam penamaan salah satu rumah ibadahnya (Hanya usul).

Penutup
Kepercayaan terhadap salah satu agama import sebenarnya tidak bisa menjadi alasan untuk tidak Mehamat kepada sesama pemeluk agama import yang sudah disahkan oleh pemerintah NKRI ini. Leluhur kita sudah membuat suatu pernyataan bahwa ada dua Dibata suku Karo; Dibata yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya (esa) dan Dibata ni idah (kalimbubu).

Saya pribadi dapat mengatakan kalau Suku Karo tidak ada kaitan sama sekali dengan apa dan bagaimana yang terjadi di Tanah Batak/ Tapanuli. Sebagai orang Karo yang telah memegang teguh prinsip bahwa suku Karo itu bukan Batak.

Penamaan rumpun itu sendiri tidak lain adalah masyarakat Toba yang ada di Tapanuli lah yang membuat namanya. Apa dan mengapa itu yang menjadi namanya? Ooggghhh, saya kira hanya Tuhan beserta staf-stafnya sajalah yang tahu.

Dengan nama rumpun yang dibuat oleh mereka itu spintas saya kira hanya akan membuat merekalah yang seakan-akan tampil di depan yang seakan-akan orang di luar Sumatera akan berkata “apa itu Karo? Setahu saya hanya Batak.”

Sedikit punya harapan, mengapa tidak rumpun Karo saja namanya, ea? Publik di luar Sumatera juga tahu kalau suku Karo berciri khas Mehamat (saling menghormati dalam arti luas) kepada semua orang dan lebih halus dalam mengucapkan kata-kata kepada semua orang bahkan kepada Tuhannya dalam memanjatkan doa.

Demikianlah tulisan ini saya buat tanpa menunggu persetujuan dari pada banyak pihak. Tapi semoga bermanfaat terkhusus masyarakat suku Karo. Pendungi Kata, ersentabi kel aku rikutken jari sisepeuluh Nande, Bapa, Turang, Senina, Impal, ras Teman Meriah. Sibar bagem lebe bas aku nari si labo lit ergana adi la kin lit kena, sebab kam kap aku ~ aku kap kam.

Bujur ras Mejuah juah!

5 COMMENTS

  1. Tulisan STS ini sangat banyak memperjelas mengapa B ada ditanamkan dikita selama ini. Tulisan ini juga gampang dimengerti dan sedap dibaca.

    “Mungkinkah kita orang Karo ini terlalu Mehamat kepada semua orang?”t

    Ini akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik dibahas. Orang Karo mehamat, sopan dan jujur, tetapi sering juga merasakan ada kurangnya disitu (orang lain menggunakan dalam ethnic competition). Dan itulah Karo, melihat kekurangan dan dengan begitu juga maka bisa memperbaiki dan mengembangkan sifat yang baik menjdai lebih baik lagi. Introversi Karo itulah yang bikin ‘keindahan’ ini semua, lain dengan extroversi orang B.

    Saya baru baca artikel orang Batak yang ngaku pengungsi sinabung, mengindoktrinasi SBY dan Ibu Ani bahwa pengungsi Sinabung adalah orang Batak.
    Ini terang-terangan mengibuli Ibu Ani an SBY.
    lihat di http://okejoss.com/instagram-untuk-ani-yudhoyono-dari-vita-sinaga-hutagalung-korban-sinabung/1116

    Pengungsi Sinabung diharapkan memperhatikan ini nanti kalau SBY datang, katakan bahwa pengungsi Sinabung adalah orang Kasro, bukan orang Batak. Sinabung adalah gunung di Karo bukan di Tano Batak. *keluhan’ orang Batak itu hanya bikinan,, dalam rangka PEMBATAKAN KARO dihadapan presiden dan ibu presiden. Batak sebagai organisasi memang rapi dari daerah terus ke pusat dan dari orang dewasa ke anak-anak juga, seperti pada kedatanan SBY yang lalu dengan ‘organisasi horas’ kanak-kanak.

    MUG

  2. Lauperimbon – Bujur kukataken bas tanggapen ndu impal,, sentabi kel aku man bandu bage pe ras ku sinterem ” adi kerna kata (B) enda, banci kang si arih ken glah ganti ku kata BADIA. sebab melala kang argument kdkd nta si mindoken bage,, jadi kai pagi glah arih ta ras ngenda me kap ndu,,,

  3. Mehamat kel tuhu kalak karo, Ibas penulisen artikel ndu pe go suh kel jelasna, gaya bahasa ndu sopan, jelas ras gampang nipahami.
    semoga kita kalak karo semakin terdepan, dapat bersaing secara sehat dan tetap sikeleng kelengen.

Leave a Reply