Mengungkap Perbuatan SARA Bukan SARA

0
172

bejenk 3Oleh: Brandy Karo Sekali (Medan)

Tidak dapat dipungkiri, isu SARA atau Suku, Ras, Agama dan Antargolongan adalah isu abadi yang universal. Isu ini ada di mana saja dan sering dianggap sensitif untuk dibicarakan karena, pada umumnya, sebagian besar konflik di tengah masyarakat, antar warga, bahkan antar bangsa sering timbul akibat isu SARA itu sendiri.

Meski demikian, dalam menyikapi berbagai isu yang dianggap SARA, perlu kearifan dan kebijaksanaan untuk menelaahnya, sebab banyak juga orang keliru dan salah paham dalam menyikapi isu ini. Misalnya, pembicaraan yang orientasinya mengungkap SARA sering dianggap sebagai perbuatan SARA, padahal itu bukanlah perbuatan SARA.

Adapun tujuan mengungkap praktek SARA itu sendiri merupakan suatu tindakan yang sangat berguna untuk mencegah meledaknya konflik, kerusuhan, pertikaian atau bahkan perang akibat SARA. M.U. Ginting, salah satu aktivis Karo, sering menyebutkan hal ini dengan istilah “menyembunyikan api dalam sekam”.

Sebagai contoh perbuatan SARA yang harus diungkapkan. Ketika kita mengungkapkan hal tersebut bukan merupakan perbuatan SARA. Misalnya, ketika ada salah satu perusahaan tertentu di Kabupaten Karo, dimana perusahaan tersebut dimiliki oleh etnis tertentu, sementara para pegawai dan karyawan yang dipekerjakan di perusahaan tersebut kebanyakan adalah dari etnisnya pemilik perusahaan itu. Sementara dari entis Karo cuma satu dua orang saja. Maka, tentu saja, dapat dikatakan kebijakan perusahaan tersebut adalah perbuatan SARA dan tidak mengindahkan kearifan lokal serta rasa keadilan bagi warga Karo.

Mengungkap kasus perbuatan SARA seperti halnya pada contoh yang sudah disebutkan di atas bukan tindakan berbuat SARA. Apa yang diperjuangkan dalam mengungkapkan perbuatan SARA itu adalah upaya untuk memperjuangkan kearifan lokal, sekaligus rasa keadilan bagi warga Karo itu sendiri.

Uga nindu?

Leave a Reply