Oh Pemkab Karo: Lain Bengkulu Lain Semarang, Lain Dahulu Lain Sekarang

1
155

 

M.U. GintingOleh: M.U. Ginting (Swedia)

Satu pepatah bangsa Indonesia yang sangat populer dari dulu sampai sekarang. Bahwa pepatah ini masih bisa bertahan, dan bukan hanya itu tapi malah akan terus hidup sepanjang zaman, adalah karena pepatah ini menggambarkan sesuatu (hal ihwal) dalam proses perjalanan waktu. Waktu berubah dan juga hal-ihwalnya ikut berubah. Jadi, sangat dialektis, atau menggambarkan dialektika perkembangan.

Pada putaran ke 2 Pilkada Kabupaten Karo (2010), mayoritas rakyat Karo memilih pasangan Nomor Urut yang ke 9 (Karojambi/Terkelin).  Dan menang. Hampir 3 tahun kemudian, sekarang atau konkretnya hari ini [Senin 2/12, ribuan massa orang Karo demo menuntut Bupati turun dari jabatannya. Bisa dikatakan, mereka ini jugalah dulu yang memilih Karo Jambi jadi bupati. Sekarang, mereka meminta Kajambi (Karo jambi) turun. Lain Bengkulu lain Semarang, . . . siapakah di sini yang lain dulu dan lain sekarang? Para pemilih kah atau Kajambi?

Ketika putaran pertama Pilkada Karo sudah selesai, yang mendapat suara terbanyak ialah pasangan Siti Aminah Perangin-angin dan Salmon Sumihar Sagala, dan pemenang ke 2 ialah Kajambi/Terkelin. Dalam putaran kedua, mereka inilah yang bertanding mencari dukungan terbanyak supaya jadi bupati Karo.

Dalam menjelang putaran ke dua ini, banyak kejadian. Dalam pikiran orang Karo yang sedang berada atau erat dipengaruhi oleh ethnic/ cultural revival dunia, atau boleh dipandang sebagai renesans Karo dalam memandang Indonesia dan dalam hubungannya dengan daerah Karo.

Ethnonationlism’ Karo sedang mengebu-gebu mengikuti perkembangan pergolakan etnis/ kultural dunia. Pasangan calon pertama mengandung muatan ’asing’ yaitu pasangan SA Perangin-angin/ SS Sagala (di sini ’asingnya’ ialah Batak), tetapi pasangan nr 2 semata-mata ’asli’ Karo. Baliho Siti Aminah/ Sagala diturunkan dan diganti dengan baliho berbunyi KARO ADALAH KARO.

Rakyat Karo dihadapkan ke antara dua pilihan, Karo atau Bukan Karo, dan mayoritas pilih Karo. Rakyat tak pikir panjang apakah memilih musang dalam karung, karena di karungnya hanya tertulis ’Karo Asli’ (100% Karo) dan karung satunya tertulis ’Karo fifti-fifti’. Kebanyakan memilih yang asli, dan jadilah Kajambi.

Apakah tadinya Kajambi sesuai dengan hati pemilihnya dan kemudian berubah (?) sehingga lain dulu lain sekarang (Dahulu Parang Sekarang Besi, Dahulu Sayang Sekarang Benci), atau dari dulu juga ’tempulak’ dan begitu sampai sekarang, tak ada juga yang tahu.

Tetapi, biar bagaimanapun, semua sudah berjalan melewati proses ’yang semestinya’. artinya sesuai dengan tuntutan situasi konkret ketika itu dalam pikiran manusia Karo dan keadaan lapangan. Kajambi menang, dan ’Karo asli’ menang . . . tinggal mengikuti dan memperhatikan prosesnya dalam perjalanan waktu, apakah perbuatan dan dugaan itu semua sesuai dengan kehendak pemilih. Dan, sekarang sudah semua dapat jawaban. Buntutnya demo . . .

Jawaban yang begini bukan hanya di Pilkada Karo, tapi bisa dikatakan berlaku juga bagi hampir semua daerah republik ini, dari jabatan terendah sampai ke jabatan yang tinggi di negara ini. Artinya, pilih karung yang isinya salah. Keistimewaan Pilkada Karo ialah karena punya ’calon asli’ 100% Karo dan ’tidak asli’ atau fifti-fifti Karo (ada Bataknya), dan telah membikin pilihan yang menjauhkan keraguan. Tak ada keraguan sama sekali bagi pengikut perkembangan cultural revival dunia (Karo Renesans) dengan gerakan pencerahan global KBB yang sedang marak-maraknya.

KBB (Karo Bukan Batak) adalah gerakan pencerahan cultural yang tersohor pada Abad 21 di Tanah Air dan juga internasional; satu diskurs global cultural-revival dunia (etnologis dan antropologis) yang di Indonesia a.l. diwakili oleh etnis Karo dengan posisinya yang sangat istimewa di Sumut secara regional dan di Indonesia secara nasional serta di beberapa negeri lain dunia secara internasional.

Semua yang sudah sempat mendengar atau mendapatkan gagasan KBB sangat terpengaruh secara mendalam, yang pro maupun yang kontra, atau terutama yang kontra. Perubahan total antropologis yang sudah tertanam mendalam selama 200 tahun lebih di kalangan kaum kolonial dan di kalangan rakyat Indonesia selama lebih dari setengah abad pada era Kemerdekaan sampai era Reformasi.

KBB sangat indah dan sangat berkesan. Perubahan-perubahan total secara berangsur tapi pasti, bisa diikuti di berbagai tulisan/ text elektronik internet. Arah perubahan dan perkembangan sangat jelas terlihat dan bisa dipelajari dengan meng-google dua istilah terkenal Karo atau Batak terutama Karo Bukan Batak. Dalam hal ini, ’lain Bengkulu lain Semarang, lain dahulu lain sekarang’ sangat jelas mengikuti proses perubahan dialektis yang menakjubkan karena sesuai dengan perubahan dalam kenyataan.

Dalam Pilkada Karo 2010, terlihat bagaimana proses perubahan yang dialami oleh PDIP sebagai penerus partai nasionalis Soekarno Bapa Rayat Sirulo orang Karo. Secara ’diam-diam’ partai ini bangkit kembali di Karo setelah sang jenderal penguasa otoriter lengser. Karo kembali ke ’aslinya’, dari PNI ke PDIP Megawati, tak ada keraguan bagi orang Karo.

Megawati melihat  ini, dan juga Siti Aminah br Perangin-angin sebagai ketua partai di Karo. Tetapi ada satu kejadian besar dunia yang tidak dilihat oleh pemimpin partai nasionalis ini, yaitu era ethnic-revival atau cultural revival dunia, yang sedang marak-maraknya seluruh dunia dan bahkan juga di Indonesia. Ini namanya seperti melihat indahnya hutan tapi tak melihat pohon-pohonnya, atau barangkali sebaliknya, mengagumi pepohonannya tapi hutannya tak pernah dilihat.

Bahwa ethnic/ cultural revival dunia adalah fenomena dunia tetapi berlaku bagi semua daerah etnis dunia terutama multikulti negeri kita. Konkretnya juga di Karo!

Cultural revival adalah gerakan atau revolusi pembebasan etnis-etnis dunia dari cengkeraman kolonial atau internal colonialism pemerintah pusat atau penindasan dari etnis-etnis mayoritas dominan di satu negeri tertentu. Semua pemimpin PDIP melihat kejadian ini di Kalteng, Kalbar, Poso, Maluku dll, tetapi mereka tak melihat yang ada dihadapan mata sendiri, di Karo Sumut.

Megawati mungkin tidak melihat keadaan di Karo, karena tadinya beliau masih belum mengerti bedanya orang Karo dengan orang Batak, seperti di Aceh perbedaan antara orang Gayo, Alas dsb dengan orang Aceh. Hal ini termasuk kekurangan pengetahuan-daerah di kalangan orang-orang pusat sehingga keliru menandatangani perjanjian Helsinki dengan GAM/Aceh. Pusat tertipu di siang bolong.

Tetapi, berlainan dengan Megawati, bisa dipastikan Siti Aminah tentu lebih tahu soal Karo dan Batak. Sekiranya Siti Aminah bisa melihat pepohonan selain hutan dan memilih calon wakilnya seorang Karo, tidak akan ada lawan politiknya yang bisa menandingi suara terbanyak di Karo karena PDIP terbesar di Karo dan juga patriotisme Karo dan nasionalisme Karo masih tetap menyala, selain cultural revivalnya yang tidak bertentangan dengan memilih PDIP Karo.

Dengan hanya melihat hutan tak melihat pepohonannya, sepertinya Bu Mega dan Siti dengan sengaja menyerahkan kemenangan ke pihak Kajambi dan diikuti dengan pemecatan Siti dari Ketua PDIP dan Ketua DPRD Karo.

Cultural Revival dunia telah banyak mengubah nasib para pemimpin. KBB telah banyak berjasa dalam memberikan pencerahan yang sangat bermanfaat bagi rakyat biasa maupun bagi pemimpin yang ingin berhasil tetapi dengan mengikuti perubahan dan perkembangan dunia dalam pikiran dan dalam kenyataan terutama di era cultural-revival dunia sekarang ini.

Lain Bengkulu lain Semarang. Perubahan tak terhindarkan, dan semua harus menerima saja dan bertindak sesuai dengan itu.

1 COMMENT

  1. Apakah tadinya Kajambi sesuai dengan hati pemilihnya dan kemudian berubah (?) sehingga lain dulu lain sekarang (Dahulu Parang Sekarang Besi, Dahulu Sayang Sekarang Benci), atau dari dulu juga ’tempulak’ dan begitu sampai sekarang, tak ada juga yang tahu.
    hahaha…..dahulu ‘tempulak’ sekarang jadi musang wkwkwkwk……..
    mantap pa’ MUG

Leave a Reply