Kolom M.U. Ginting: Hari GAM 4 Desember 2013

0
211
seberu gayo 1.
Seberu Gayo (click foto untuk ukuran besar)

M.U. GintingBendera GAM dikibarkan dan Hari GAM [4 Desember] diperingati sesuai dengan cita-cita semula Aceh Merdeka. Usaha-usaha menyatukan Aceh juga digiatkan oleh orang-orang Aceh/ GAM. Bendera GAM mau dikibarkan di seluruh Aceh tetapi Gayo ALA menolak pengibaran bendera Aceh/ GAM. ABAS dan ALA tetap bikin tuntutan pemekaran Aceh atau pisah dari Nanggroe Aceh membentuk propinsi sendiri atas dasar daerah sendiri.

Akan tetapi, pemekaran wilayah Aceh adalah mustahil menurut MoU Helsinki Agustus 2005. Di situ, sudah tercantum batas Aceh yaitu “Perbatasan Aceh merujuk pada perbatasan 1 Juli 1956” dan dalam UUPA Pasal 3 tentang batas-batas Aceh yang terdapat pada huruf (a) sebelah Utara berbatasn dengan Selat Malaka; (b) sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatra Utara; (c) sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka; dan (d) sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Inilah yang menjadi pegangan orang Aceh untuk mengikat pusat tidak membikin pemekaran daerah, biar bagaimanapun etnis-etnis ALA dan ABAS menuntut. Pusat terikat dengan janjinya, tetapi orang Gayo dan lain-lain tercekik tanpa turut bikin janji. Mereka tidak pernah diajak ikut berunding menentukan nasib dan masa depan mereka.

Pusat tak mengerti kalau di Aceh ada orang Gayo, Alas, Tamiang dan banyak etnis minoritas lain-lainnya. Pusat tauya cuma Aceh dihuni oleh orang Aceh saja dan bahwa daerah Aceh kurang dari 30% dari luas daerah Aceh.

 Mudah-mudahan ALA dan ABAS, Simeuleu dan  Tamiang tidak menirukan jejak angkat senjata GAM untuk memerdekakan daerahnya dari NAD. Jalan damai sudah bisa, dengan merevisi atau membatalkan MoU Helsinki karena MoU ini hanya antara orang Aceh/ GAM dengan pusat. Etnis-etnis lain tak pernah ditanyakan pendapatnya, walaupun daerah-daerah mereka lebih dari 70% daerah Aceh.  Colonialism berubah jadi internal colonialismm.

Leave a Reply