Kolom M.U. Ginting: Masyarakat Karo rasional atau tidak rasional?

0
230

M.U. GintingRakyat Karo belum siap menerima pemimpinnya di luar etniknya. Padahal Siti Aminah mungkin melihat Salmon Sagala, bisa mengakomodir migran-migran yang masuk dari tanah Batak ke Tanah Karo. Logika politik memang demikian. Dan masyarakat Karo tidak rasional berpolitik. Kalau masyarakat Karo itu rasional, saya yakin akan memilih Siti Aminah. Saya bangga terhadap Siti Aminah, satu-satunya di Sumatera Utara ketua partai wanita hanya Siti Aminah. (Pengamat Sosial Politik USU Drs Wara Sinuhaji MHum). http://www.inaberita.com/beta/view.php?newsid=3267

muginting 26
Para artis Sanggar Seni Sirulo sedang mempersiapkan diri untuk tampil setradisional mungkin di atas pentas

Menurut Wara, ketidakrasionalan Karo terlihat dari tak terpilihnya Siti/ Sagala sebagai bupati/wakil di Kabupaten Karo. Orang Karo memilih biar `Gilapun` Tidak Masalah Pokoknya Orang Karo, katanya. Bahwa orang Karo akan memilih orang Karo untuk memimpin daerahnya sendiri adalah satu pemikiran rasional dalam cultural revival dunia, tak adalah keraguan.

Pengaruh pergolakan dunia dengan segala macam bentuknya termasuk perang etnis yang sangat kejam di banyak tempat di dunia juga Indonesia (Kalbar, Kalteng, Maluku, dll) sebagai pencerminan nyata ’revolusi’ etnis/ kultur itu sangat masuk ke darah daging dan jiwa orang Karo.

Pertama, karena orang Karo merasakan perlunya kebangkitan itu sesuai dengan keadaan konkret etnisnya dan daerahnya di Sumut yang semakin terdesak dan tak punya kekuasaan apa-apa di propinsi Sumut dan bahkan di Sumtim terasa dominasi etnis luar (Tapanuli).

Sebab lainnya ialah karena orang Karo sangat fasih mengikuti informasi internet yang sangat lengkap terutama dalam soal-soal ethnic/ cultural revival dunia pada akhir abad 20 dan permulaan abad 21.

Setelah lengsernya Orba, orang Karo merasakan kebutuhan yang mendesak tak bisa ditunda-tunda lagi, yaitu kebutuhan cultural values and norms yang selama ini dirasakan tak terpenuhi atau bahkan disingkirkan dari kehidupan dengan momok sukuisme, SARA, primordialisme, daerahisme, dll, yang sangat merugikan dan menghambat perkembangan Karo secara kultural/ etnis maupun daerahnya yang semakin terdesak oleh etnis-etnis lain dengan kedok ’satu nusa satu bangsa’ seperti terjadi di Kalteng atau Maluku.

Para artis Sanggar Seni Sirulo yang rata-rata mahasiswa atau tammatan universitas

Cultural values and Norms adalah kebutuhan sosial manusia yang tak bisa ditawar-tawar, tiap orang berafiliasi ke kultur mana; salah satu dari kebutuhan utama manusia, tidak tergantung apakah kita membicarakannya atau diam saja tak membicarakan. Kalau didiamkan saja tak dikeluarkan, dia akan membara seperti api dalam sekam, meledak seperti bom waktu jika sudah tiba waktunya dan juga sudah banyak contohnya.

Cultural values and norms berbeda bagi tiap etnis/kultur, ada Karo, ada Batak, ada Jawa, dsb. Kebutuhan kultural orang Karo tentu tak bisa dipenuhi oleh etnis/kultur lain. Kebutuhan kultur dan afiliasi Karo hanya bisa dipenuhi oleh kultur Karo. Dalam era globalisasi lebih ditekankan lagi oleh Erik Lane dalam bukunya “Globalization and Politics: Promises and Dangers” menulis:

“the focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.”

 Atau seperti juga dikatakan oleh professor sejarah J.Z.Muller:

“Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first century.” (Jerry Z. Muller is Professor of History at the Catholic University of America).

Semua kesimpulan dan pernyataan di atas tidak bertentangan dengan filsafat hidup Karo sikuningen radu megersing siagengen radu mbiring, dan malah sangat kompatibel dengan perkembangan dunia dalam pengertian internasional win/win solution. Ini artinya bagi orang Karo atau kultur Karo yang mengutamakan afiliasi kekaroannya sebagai dasar titik tolaknya memperjuangkan keadilan (daerah atau nasional) sudah sesuai dengan perkembangan situasi dunia sekarang.

Dalam percakapan kita di milis biasa juga kita sering bilang dari daerah ke nasional. Jargon politik lainnya seperti pelestarian budaya dan kultur, kearifan local, dll. Karo sudah bertekad akan selalu berusaha membikin ini semua dalam kenyataan dan juga adalah mungkin karena way of thinking Karo dan filsafat hidupnya serta dialektikanya sesuai dengan 3 arus besar perkembangan dunia (EQ, Demokrasi, Leadership). Soal 3 arus besar ini lihat dihttp://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/893 atau http://karobukanbatak.wordpress.com/2011/03/13/100-tahun-karo-sinik/

Kerasionalan masyarakat Karo sangat sesuai atau kompatibel dengan perubahan dan perkembangan pergolakan dunia dan pemikirannya.

Leave a Reply